Pear

Pear
Chapter 20 (2)


__ADS_3

Rafa dan Vallen sudah pamit pada Aya. Sekarang mereka berada di halaman rumah untuk menunggu ojek yang akan mengirimkan buku paket Vallen ke rumah Rafa. Alasannya karena motor cowok tersebut tidak cukup untuk menampung buku sebanyak itu dan satu penumpang--kecuali Vallen sanggup memangkunya, tapi gadis itu bilang ia masih merasa lemas.


Tak lama ojek pun datang, Rafa menyerahkan bukunya dan kemudian motor sang ojek pergi lebih dulu, sementara Rafa harus mengambil motornya yang disembunyikan di garasi rumah Vallen. Setelah mengeluarkan motornya, Rafa menyerahkan jaketnya Vallen yang ditinggal di atas jok.


"Fa ...," panggil Vallen seraya masih memakai jaketnya, hal itu membuat Rafa yang sempat termenung dengan tatapan kosong langsung melihat wajah Vallen.


"Hm?"


Vallen mengerjapkan matanya pelan seakan ragu untuk bertanya. "Emm."


"Apa?"


Cewek itu menggigit kukunya. "Fa Jelek ... gapapa?"


Rafa menggeleng pelan. "Gapapa."


Kemudian ia memberi Vallen helm.


Bukannya menerima helm tersebut, yang Vallen pegang malah tangan Rafa. Terlihat raut bingung yang tiba-tiba muncul di wajah cowok itu kala melihat tangannya. Ia kemudian menatap Vallen lagi.


"Kalo mau cerita, gue siap denger," ujar cewek itu.


Rafa diam. Ingin, Rafa ingin berbagi banyak hal dengan Vallen selayaknya pasangan lain. Namun lagi-lagi ia merasa ini masih terlalu cepat untuk mengungkapkan segala isi hati, pengalaman, dan cerita lainnya. Rafa belum siap.

__ADS_1


Melihat Rafa yang begitu membuat Vallen mengulum bibirnya karena canggung. Kemudian ia langsung memakai helm dan naik ke motor.


Rafa pun menyalakan motornya, dan perlahan mengegasnya hingga melewati gerbang dan satpam rumah Vallen. Setelah cukup jauh dari area sana, Rafa langsung merasakan sesuatu melingkar di pinggangnya.


"Semangat Fa Jelek ...," ucap Vallen yang akhirnya menaruh kepalanya di punggung cowok itu.


***


Chela yang baru datang ke kelas tiba-tiba menggebrak meja Vallen sembari meneriakkan nama anak tersebut, cukup membuat Vallen kesal karena dia sedang anteng mendengarkan musik sambil melukiskan benang kusut di belakang bukunya.


"Hah?!" tanya Vallen yang terdengar agak ngegas seraya melepas satu earphone dari telinganya.


"Ini skenario buat drama demkur!" seru Chela. Ia menyerahkan tumpukan kertas yang sudah dijepit.


"Ha-ah," kata Chela dengan senyum sumringahnya. "Dan lo ... jadi pemeran utama lagi!"


Vallen membuka mulutnya lebar.


"Aaaa males!"


Chela menaikkan telunjuknya ke depan wajah Vallen, kemudian menggerakannya ke kanan-kiri. "Et et et gak boleh males. Demi P-M-R!"


Mendengal hal itu membuat Vallen menyandarkan tubuhnya dan kepalanya ia tidurkan ke meja belakang. "Kenapa gak lo aja sih Chel?"

__ADS_1


"Gue udah nyaranin kemaren anjr, tapi langsung pada nolak. Gak tau aja mereka gini-gini gue pinter acting!" kesal Chela.


Vallen menggembungkan pipinya sembari melihat langit-langit kelas.


"Oh hiya hari ini udah mulai latihan. Tapi nih kalo lo masih sakit gapapa, jangan dulu."


"Gue udah gapapa sih," jujur Vallen seraya melihat Chela dari ujung bawah matanya karena ia tidak beralih posisi.


Sebuah jentikan jari pun langsung muncul. "Woke berarti latihan!" simpul Chela.


Vallen berdehem.


Chela duduk di bangkunya yang mana ada di belakang Vallen. Ia kemudian melihat gadis itu dan menyimpan skenario di atas wajahnya begitu saja, mengundang desisan kesal untuk timbul.


"Btw Val lo tadi gak dianter Devan?" tanya Chela kepo.


Vallen menggeleng dengan membiarkan kertas itu menutup mukanya.


"Why deh gue jadi jarang see kalian together. Ada what sih?"


"Biasa aja kali ngomongnya!"


Vallen pun mengangakat kepalanya menjauhi meja Chela dan duduk dengan benar, ia memegang kertas tersebut lalu menyimpannya di kolong meja. "Gak ada apa apa kok."

__ADS_1


"Bohong!"


__ADS_2