Pear

Pear
Chapter 21 (1)


__ADS_3

Di sebuah brangkar UKS seorang gadis tengah tiduran, bukan karena sakit ia di sana, melainkan membaca deretan aksara di depan wajah. Ia cukup tenang, tentu saja, tak akan ada guru yang memarahinya karena dia berleha-leha, sebab sekarang memang sudah waktunya pulang sekolah.


Kening gadis itu makin lama bertambah kerutannya kala matanya bolak-balik membaca tulisan yang ada di kertas. Semakin ke bawah ia membaca, semakin ia kaget dengan skenario yang tiba-tiba sudah jadi saja. Menurutnya apa yang ditulis di sini adalah hal gila!


Tiba-tiba, seseorang masuk ke bilik itu untuk memanggil si gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Vallen.


Vallen melirik siapa yang masuk dan langsung angkat bicara. "Chel! Sumpah ini serius?" tanyanya seraya mengangkat tumpukan kertas itu lebih tinggi.


Chela berjalan mendekat dengan tatapan aneh. "Seriuslah. Ya kali udah diketik gitu tapi becanda."


Vallen menatapnya dalam sembari menelan ludah dengan berat. "Dalam sejarahnya mana ada sih demo eskul tapi gabung sama eskul lain?"


"Dalam sejarahnya juga, emang ada yang ngelarang demo eskul gak boleh kolaborasi sama eskul lain?" balas Chela yang membuat Vallen tidak tahu harus berkomentar bagaimana lagi. Kemudian, kedua tangan Chela memegang sisi tempat tidur. "Intinya kan setiap eskul bisa nampilin kemampuannya masing-masing, intinya demkur bisa jadi ajang buat promosi, narik perhatian, selesai."


Pergerakan mata Vallen sangat tidak tenang, ia melihat kemana pun. Sungguh pada kesempatan ini Vallen tidak mau lagi terlibat dengan Devan. "Chel ...," panggilnya dengan nada putus asa.


"Ini yang punya rencana pertama siapa?" tanya Vallen yang gemas sendiri.

__ADS_1


"Ketua Pe-Me-Er."


"Shabil?"


Chela mengangguk.


"Kenapa PMR harus gabungnya sama basket?" tanya Vallen lagi yang membuat hembusan napas kasar terdengar dari diri Chela.


"Shabil kepikiran jalan ceritanya, trus pas diskusi sama Devan, dianya nge-acc. Ya udah dua eskul jadi kerjasama." Selama ia mengucapkan itu, mata Chela terus menatap curiga ke arah Vallen yang terlihat cemas.


"Lo aneh. Harusnya lo seneng karena adu acting sama Devan."


"Kasih tau gue alesannya," suruh Chela yang mampu membuat Vallen diam kembali.


Vallen bangkit dari tidurnya dan hendak menemui Shabil, tapi baru saja ia membuka gorden dari bilik di sana ...


"Lo bakal ngecewain yang lain kalo nolak jadi PU. Mereka udah seneng banget sama idenya Shabil," tutur Chela.

__ADS_1


Karena perkataan itu, Vallen menghentikan langkahnya. Dirinya kemudian bingung harus bagaimana.


"Ayo semuanya kita ke taman belakang!" seru seorang perempuan yang bisa Vallen tahu itu adalah suara Shabil. Tepuk tangan juga bergemuruh bahkan sebelum mereka melakukan apa-apa.


Saat keluar bilik, Vallen bisa melihat wajah-wajah sumringah yang ditunjukkan teman satu eskulnya. Mungkin benar yang Chela bilang, mereka terlanjur excited dengan adanya drama ini. Hal itu membuat Vallen berpikir dua kali untuk menolak sebagai pemeran utama.


"Vallen! Ayo!" Shabil menarik tangan Vallen dengan semangat, membuat gadis itu membelalakkan mata sejenak.


"I-iya."


Baru saja Vallen menapaki kakinya di satu ubin depan pintu UKS, dia sudah berpapasan dengan anak basket yang berjalan dari arah lapangan. Kapan pun hati Vallen sejujurnya tidak kuat jika harus bertemu Devan, tapi sekarang ia harus benar-benar menyiapkan hatinya.


Sesekali Vallen mencuri pandang ke segerombolan anak basket untuk memastikan Devan ada di mana, setidaknya ia tidak akan kaget jika tiba-tiba Devan muncul.


"Si Devan ada di depan!" kata Shabil sembari menaikkan dagunya, gadis itu seperti mengerti saja pikiran Vallen.


Vallen mengikuti petunjuk Shabil, benar mantannya sudah di depan sana. Namun kemudian yang menjadi perhatiannya sekarang adalah Chela yang tidak menyusul untuk berjalan di sebelahnya. Karena penasaran akhirnya Vallen menoleh ke belakang dan terlihatlah Chela sedang mengobrol dengan anggota lain. Kemudian ia pun melanjutkan langkah sembari membuka naskah.

__ADS_1


"Shabil, ini berlebihan gak sih?" tanya Vallen.


"Vallen ... ini terakhir kalinya angkatan kita ikut demo eskul, kita harus total!" jawab Shabil dengan semangat yang jauh di atas daripada semangatnya Vallen.


__ADS_2