
"Kakak Cemberut harus minta maaf!" suruh Azka.
Lelaki yang tengah berbaring itu masih menutup mulutnya, bergantian melihat Azka dan Vallen tanpa tahu selanjutnya ia harus bagaimana.
Namun tiba-tiba Azka malah menarik tangan Vallen dan menempatkannya di atas satu telapak tangan Rafa yang sedang menengadah. Sontak, mata keduanya terbelalak seraya menatap tangan mereka sendiri.
"Ayo bilang maaf ke Kakak Cantik!" titah Azka yang melepas punggung tangan Vallen.
Dua orang itu masih diam. Lalu kemudian Vallen menutup mata seraya menunduk, membiarkan helaian rambut hitamnya jatuh ke pinggir wajah. Tangannya pun ia gerakkan untuk benar-benar menggenggam tangan tunangannya.
"Maaf ...," cicit Vallen.
"Kakak Cantik?" tanya Azka tak percaya. "Azka kan nyuruhnya Kakak Cemberut ...."
Vallen membuka mata, satu tangannya yang lain pun ia tempatkan di atas kepala Azka. "Kakak yang punya salah sama Kakak Cemberut. Dia juga gak nakal kok. Jadi Azka tadi salah paham," ucapnya pelan. Pandangan gadis itu kemudian teralih pada Rafa.
"Fa, maaf ...," ulangnya.
Rafa yang masih memandang tangan mereka perlahan jadi melihat wajah Vallen yang murung.
"Lo tau salah lo kan?" tanya Rafa dingin.
Vallen mengangguk cepat dengan mata yang telah berkaca-kaca. "Gue udah buat lo khawatir karna gak ngabarin," jawabnya.
Bukan cuma itu. Tapi ... apa gue berhak jujur sama lo kalo gue cemburu?
"Fa, gue gak akan gitu lagi. Gue bakal kasih tau lo gue pergi kemana, pergi sama siapa. Gue bakal izin sama lo kalo ada perlu. Janji!"
Bulir air mata Vallen menetes. Ia pun makin mengeratkan genggamannya, pula menatap Rafa dengan penuh kesungguhan.
"Gue mohon, maafin gue ...."
Rafa memandang ke samping sejenak untuk berpikir. Dan kemudian ia kembali menatap tangan Vallen. Tangan yang pernah ia sematkan cincin di jarinya. Rafa seolah diingatkan bahwa ia tak bisa memperlakukan Vallen seperti ini. Bersama gadis itu, ada status yang mengikat mereka berdua. Dan seharusnya Rafa lebih dewasa karenanya.
"Gue pegang janji lo," jawab Rafa.
"Gue pastiin gue gak akan langgar janji itu." Vallen langsung tersenyum haru, apalagi saat merasakan tangannya digenggam balik oleh Rafa, tak kuat memang. Samar namun masih terasa.
__ADS_1
"YEEE BAIKAN!" teriak Azka kegirangan sambil loncat-loncat. Lalu tiba-tiba ia menengadahkan tangannya di depan wajah Rafa.
"Kak Cemberut, minta uang!" palaknya yang dibalas oleh tatapan heran dari sang korban. "Kan kalo udah maaf-maafan, suka dikasih uang!"
"Dipikir lagi lebaran apa?" gerutu Rafa. "Gak, ga ada uang!"
"Gabole boong!"
"Beneran."
Vallen yang usai menyeka air matanya segera menunduk melihat Azka. "Kakak ada uang, Azka mau beli apa emang?"
"Susu kotak!"
"Ini makin malem lagi. Ya udah kita ke kantin sekarang aja, abis itu Kakak langsung anter kamu balik yah?"
"Iya!"
Vallen menuntun anak tersebut. Namun baru beberapa langkah, ia sudah berbalik. "Fa, lo makan dulu gih. Atau ... mau gue suapin?"
Vallen mengangguk. "Tunggu yah. Gue gak akan lama kok."
***
Devan memetik senar dan memainkan lagu Untuk Perempuan yang sedang dalam Pelukan milik Payung Teduh. Malam ini ia tak sendiri, ada juga Satria dan Bayu yang menemani. Bait awal Devanlah yang kebagian menyanyikannya.
Tak terasa gelap pun jatuh
Di ujung malam, menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya
Setelah itu, ada instrumen dari permain gitar Devan yang cukup berdurasi panjang. Hingga akhirnya Satria masuk menyanyikan bait selanjutnya.
Lalu mataku merasa malu-uuu
__ADS_1
Semakin dalam, ia malu kali ini
Kadang juga ia ta-kuuut tatkala harusss
Berpapasan di tengah pelariannya ....
Di malam hari ....
Menuju pagi-iii ....
Sedikit cemas ....
Banyak rindunya ....
"Yang ada banyak fals-nya bjir!" cela orang di sebelah Satria. "Sat, ini saatnya lo nurut sama pepatah diam itu emas!" sarannya kemudian, siapa lagi kalau bukan Bayu.
Devan pun tertawa.
"Sttt sttt, Bay. Jangan ganggu calon penyanyi papan reklame pas lagi tampil!" balas Satria tak terima.
"Kagak ada yang mau lewat di jalanan udah kalo ada lo tampil," gumam Bayu.
"Hah, sekali lagi Bay sekali lagi!" Satria mendekatkan telinganya.
"Udahlah ...," lerai Devan. "Kayak bocah lo berdua. Eh Bay, Vallen nanya sesuatu lagi gak sama lo?"
"Ntar, gue belum cek hp."
Bayu melihat ponselnya dan memang ada satu pesan dari Vallen yang masih belum ia baca. "Jagain Devan yah, Bay."
"Hmmm, perhatian sekali ...," ucap Satria pelan dengan gerakan kikuk.
Devan menyender ke sandaran kasur, ia lalu mengetukkan jari ke gitar saat sedang memeluknya. "Hm. Gue pengen nanya satu hal. Lo pada jawab yang jujur," suruhnya sebelum intens melihat dua sahabatnya.
"Tentang Vallen sama Rafa," lanjut Devan.
***
__ADS_1