
Tak lama, tugas Chela pun selesai, ia juga sudah mengajak Ina pulang, tapi gantian Ina yang menunda mereka pulang. Katanya Ina mau menunggu Rafa. Vallen jadi tambah bingung, bagaimana dengan rencana dia makan sushi bersama Rafa sepulang ini?
Sembari menunggu cowok-cowok itu berlatih, Vallen dan kawan-kawan merecoki ekskul pecinta alam yang sedang naik ke dinding panjat, dinding itu persis berada di samping trek lari SMA Arcturus.
Chela terus bernegosisasi agar ia dan temannya diperbolehkan untuk mencoba, sejujurnya Chela sudah penasaran sejak kelas 10, tapi tak ada waktu terus untuk menaikinya, sekarang saatnya!
Akhirnya mereka diizinkan, anak ekskul pecinta alam pun membantu memasangkan alat keselamatannya. Vallen mendapat giliran yang pertama naik. Dengan gigih ia memegang batu buatan yang tertanam kuat, kemudian kakinya mulai berpijak ke batu lain, ia teruskan sampai memasuki wilayah dinding yang melekuk keluar. Dindingnya tidak rata, sungguh seperti tebing sungguhan.
"Ini gimana naiknya!" teriak Vallen kesulitan.
"Ya lanjutin aja!" kata anak ekskul seolah menggampangkan.
Vallen tidak menyerah, dia terus berusaha sampai-sampai salah satu kakinya tergelincir. Hal itu mengundang teriakan dari orang-orang. Bahkan yang main basket pun jadi berhenti.
Semua kaget dan takut hal buruk terjadi pada Vallen.
Namun untung saja tangan Vallen masih kuat memegang batunya, jadi dia masih tersangkut di tempat yang sama. Cewek itu pun membawa kakinya agar kembali berpijak. Berhasil. Ia kembali naik dengan aman. Sesampainya di puncak, Vallen langsung duduk. Ia kemudian tersenyum saat melihat keadaan dari sana.
__ADS_1
"Pemandangannya bagus!" serunya.
Chela mendongak dan meletakkan kedua tangannya di ujung bibir. "Bisa liat apa Val?" tanyanya penasaran.
"Pohon! awokwokwok."
"Gak guna bego naik ke atas kalo gitu mah! Dari sini juga keliatan."
"Beda rasanya Chel. Ayo ayo!" ajak Vallen seraya mengibaskan tangan ke dalam.
Selain pohon, dari atas sana Vallen juga bisa melihat orang-orang seperti upil, kecil-kecil mereka. Namun pandangannya masih jelas kok untuk melihat itu ada Chela yang sedang dipasangkan tali-tali, itu ada Nasya yang mengambil tas karena sudah dijemput, itu ada Ina yang menjumpai Rafa, lagi.
Bahkan Ina sekarang memberi tisu kepada Rafa, dan selanjutnya malah dirinya sendiri yang mengelap wajah cowok tersebut. Setidaknya itu yang Vallen lihat, Vallen tidak tahu padahal Rafa sudah menolaknya.
Vallen mengulum bibir, lalu mengeluarkan ponsel karena Rafa terlihat mengodenya dari ujung sana. Ia pun membuka kontak Rafa. Belum ada pesan, tapi Vallen tergerak untuk menyindir dua insan itu.
^^^Vallen^^^
__ADS_1
^^^Ada pasangan baru nih!^^^
Rafa
Gausah ikutan berisik
Turun, jalan sekarang!
Vallen mengerutkan kening karena kalimat terakhir Rafa bersuara. Ia lalu mendekatkan ponsel ke telinganya untuk memastikan apakah chat itu benar bersuara atau ponselnya sedang error?
"Vallen turun! Ayo pergi sekarang!" Lagi-lagi Vallen membelalakkan mata. Ia melupakan suara itu adalah suaranya Devan! Astaga, kenapa Devan selalu tiba-tiba nyambung sih?
Vallen bingung dia harus pergi bersama Rafa atau Devan. Namun kelihatannya Rafa sedang senang ditempeli Ina. Vallen tak mau ganggu.
"Iya gue turun!"
Tali pun perlahan diulurkan agar Vallen turun dengan aman. Sesampainya di bawah, yang membantunya melepas semua alat itu adalah Devan. Vallen hanya bisa menatapnya yang sedang berjongkok dan sesekali memegang bahu cowok tersebut sebagai tumpuan keseimbangannya.
__ADS_1
***