Pear

Pear
141


__ADS_3

"Eyang, makan ...," ujar sosok bertopi hitam setelah sampai di rumah eyang putrinya yang cukup lama ia tinggali.


"Apa-apaan ini!" bentak Mira sambil memeluk Rafa yang terengah-engah karena sudah berlari.


Plak!


Tamparan Hilman mendarat di pipinya. Kencang, bahkan membuatnya jatuh tersungkur. "Berani-beraninya kamu bertindak seperti ini pada anak saya! Mau jadi psikopat hah?"


Yang ditampar tadi langsung melempar mayat kucing di gendongannya ke sembarang arah, ia lalu memegang sebelah pipinya yang terasa sakit. Matanya memerah menatap dua orang dewasa di hadapannya. Yang ia inginkan hanyalah mereka peduli. Namun kenyataan jauh berbeda dengan apa yang diharapkan.


Hilman menyeretnya sampai ke sudut dapur, mengambil gelas, lalu lelaki itu lemparkan ke tembok sebelah anak tirinya. Membuat beberapa serpihan kaca itu ada yang menancap ke kulit sang anak.


"Semakin hari kamu semakin ngelunjak! Anak nakal! Bisanya merundung anak saya saja. Kemarin minta maaf, minta satu kamar lagi dengan Rafa, jadi ini niatmu? JAWAB!" Hilman menendang kaki anak tirinya yang sedang tertekuk. Sedangkan yang dimarahi tak berkata sepatah katapun. Ia bahkan ingin menangis karena lukanya sangat sakit. Darah pun mengalir di tangan dan kakinya.


"Mira, secepatnya kita harus kirim dia tinggal dengan ibumu. Aku muak satu rumah dengan anak tidak tahu diri ini. Harusnya sejak awal kita singkirkan dia."


"Lebih baik saya tinggal sama eyang daripada harus sama kalian!" protesnya.


"Hhh, memangnya kamu pikir saya mau melihara anak seperti kamu?!" teriak Mira yang mulai angkat bicara.


"Bunda, kakak berdarah!" sela Rafa.

__ADS_1


Sang kakak hanya bisa menatap sinis pada adiknya. "Gak usah sok peduli!"


Dan satu pukulan dari Hilman pun lelaki itu tujukan ke kepala anak tirinya lagi. "Anak gak tau terimakasih!" ucapnya terakhir kali sebelum menghampiri anak kandungnya.


"Rafa kamu tidak apa-apa?"


"Iya, kamu gapapa kan, Sayang?" Mira memperhatikan sekujur tubuh Rafa yang terkena darah kucing.


Astaga, di mana mata dua orang itu? Yang kenapa-napa itu kakaknya, bukan Rafa!


Kenangan pahit yang selalu membekas dan tak pernah mau lepas. Bagaimana dunia bisa sekejam itu padanya?


"Claudi ...” Eyang menyebut nama seseorang yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. “Kamu masih suka kirim hadiah sama dia?" tanya eyang sembari menyendok makanan.


"Claudi pasti senang jika tau kamu orangnya."


"Atau ngga. Kan pas masih di SD yang sama, aku suka bully dia sampe nangis," tandas sang cucu.


"Tapi kamu sudah berubah jadi lelaki yang manis pada perempuan, dia pasti memaafkan perilaku kamu yang dulu."


Senyum laki-laki itu mengembang. Hanya eyang putrinya yang mengerti dia. Hanya beliau yang bisa menolerir bagaimana pun nakalnya dia. Ia harap sang eyang tak pernah pergi dan selalu ada di sisinya.

__ADS_1


***


"Kakak cantik?"


Seorang anak yang umurnya sekitar 4 tahun berjalan mendekati Vallen--gadis yang tengah terduduk sendirian di taman rumah sakit.


Vallen pun menoleh dan matanya langsung membulat menemukan bocah laki-laki yang pernah ia temui dengan Rafa di supermarket beberapa bulan lalu, yang kesulitan saat hendak mengambil susu kotak.


"A-Azka yah?"


Anak itu mengangguk.


"Azka ngapain di sini? Malem-malem lagi."


"Nemenin Abang Es belobat."


Vallen mengerutkan kening. "Abang Es?"


"Iya, abangnya Azka!"


🍐 Bersambung ....

__ADS_1


...Jangan lupa vomment guysss 🔥🔥🔥...


...Makasihhh 😘...


__ADS_2