Pear

Pear
113


__ADS_3

"Giliran lo Dev, ceritain pengalaman pertama lo ketemu Rafa!" suruh Satria.


"Skip deh."


"Lah?"


"Si Rafa ngelarang gue ceritain. Aib dia katanya."


Bayu dan Satria langsung menyipitkan mata. "Curiga ...," ucap mereka berdua.


"Gak usah mikir aneh-aneh!"


"Hmmm."


"Udah, ayo keluar. Gantian sama yang lain."


"Fa cepet bangun lo!" suruh Satria.


"Woy!" panggilnya dengan suara bergetar. "Besok kita main basket lagi, ayo!" Lalu kemudian cowok itu malah meneteskan air matanya, begitu juga dengan Bayu.

__ADS_1


"Fa, besok kita ke sini, lo udah harus bangun!" Bayu meremas sisi ranjang sembari menahan kesedihannya. "Gak boleh ada di antara kita berempat yang pergi, kan kita udah janji bakal sahabatan sampe tua. Fa! Lo denger kita semua ngebacot kan? Ayo bangun dong, nanti siapa yang bakal jadi penengah di antara kita kalo lo gak sadar-sadar? Siapa lagi yang tahan sebangku sama si Satria Anak Onta! Siapa ntar yang dicurhatin si Devan pas lagi galau? Siapa ntar yang ngajarin gue pas gue gak ngerti pelajaran?"


Devan melihat ke arah lain, matanya sudah terasa panas bahkan dengan sekali mengedip saja ia sudah bisa mengeluarkannya, tapi Devan tahan dengan menatap langit-langit ruangan. "Apa sih lo pada?


"Jangan lama-lama tidurnya yo ma pren!" ucap Satria sebelum meninggalkan ruangan.


***


Vallen berpapasan dengan mereka yang baru keluar dari ICU. Ia menatap tiga pasang mata itu dengan kosong. Kemudian kakinya mulai melangkah memasuki area ICU yang di dalamnya terdapat beberapa ruang lagi, Vallen ditemani Nasya dan Chela. Setelah beberapa langkah, Vallen menoleh pada salah satu kaca jendela di sana yang menampakkan langsung keberadaan Rafa di dalamnya.


Selama berjalan, Vallen memegang lengan Nasya agar bisa membantu ia berdiri lebih kuat, sekali pun hatinya lemah, apalagi saat menyaksikan Rafa dilingkupi oleh alat-alat, seperti ventilator, selang infus, pulse oximetry, alat yang dihubungkan ke monitor denyut jantung, dan lainnya.


"Fa, bangun! Buka mata lo, please ...."


"Rafa ayo liat gue."


"Rafa sadar ...."


"Hiks ...."

__ADS_1


Satu tangan Vallen mengusap rambut Rafa, kemudian satunya lagi memegang bahu. Lantas, ia memeluk Rafa dan membenamkan wajahnya di sebelah wajah tunangannya. Vallen terisak, tak peduli akan seberapa banyak air mata yang diserap oleh bantal yang ditiduri Rafa, ia hanya ingin memeluk cowok tersebut dengan erat untuk melampiaskan segala kekhawatirannya.


"Cepet bangun Fa, gue nunggu lo ...," bisiknya lembut.


***


Satria memeluk dirinya sendiri seturunnya ia dari motor yang terparkir di sekolah. Ia menggigil, ya bagaimana tidak karena sudah malam begini, tapi masih saja dirinya memakai jersey basket. Tak hanya Satria, Bayu dan Devan juga sama. Mereka bertiga langsung berlari ke kelas untuk mengambil tas yang tertinggal--sebenarnya yang lebih penting itu hp mereka di dalam tas tersebut. Diikuti oleh dua orang cewek yang tiba-tiba minta ikut saat di rumah sakit tadi, Chela dan Nasya.


Mereka menyeberangi lapangan sekolah yang gelap. Sampai di kelas, Devan menekan sakelar lampunya. Mereka kemudian membereskan tasnya masing-masing, lalu menggendongnya. Hingga mata mereka semua tertuju pada tas Rafa dan Vallen yang masih tertinggal.


"Gue yang bawa tas Vallen deh," inisiatif Nasya. "Siapa yang mau bawain tas Rafa?"


Devan memandang tas hitam itu sebentar.


"Gue," putusnya.


Nasya pun menyerahkan tas Rafa yang baru saja ia tarik resletingnya. "Gue baru ngeh deh Ina daritadi gak ikut, padahal dia yang deket sama Rafa."


"Tapi malah Vallen yang ...." Chela menggantungkan ucapannya. "Sumpah, gue heran banget liat Vallen."

__ADS_1


__ADS_2