
SD Tadinya Mesra
"Huaaaa ... pintunya jangan ditutup, hiks, Clau mau ditemenin mamah!"
"Mamah ... aaaaa, hiks."
Bu guru tetap membujuk anak perempuan kecil untuk duduk karena kelas akan segera dimulai, tapi anak tersebut tetap berdiri di depan pintu yang baru saja wanita itu tutup.
Devan yang melihat ke arah mereka pun langsung turun dari kursi dan menghampiri.
"Cengeng!" ucapnya untuk mengatai anak perempuan itu.
"Mau sama mamahhh, heuuu."
"Kelasnya udah mau mulai, jangan repotin bu guru!"
Devan langsung menarik tangan anak itu dan menyuruhnya duduk di kursi samping tempat duduknya. Selagi tangan mereka masih pegangan, Devan menggoyangkan tangannya itu ke atas-bawah.
"Nama aku Devan."
"A-aku Vallen Claudia Arunika. Panggilnya Claudi aja."
Devan kecil mengangguk.
"Jangan nangis lagi," pintanya. Kemudian bocah laki-laki itu mengambil sesuatu dari dalam tas. "Mau?" tawarnya seraya mengasongkan permen lolipop rasa susu.
Claudi mengangguk dan menerimanya, tapi tangannya tidak bisa membuka bungkus permen itu, maka darinya Devan mengambilnya kembali. Kepala Claudi langsung terangkat karena permennya diambil, ia hendak menangis lagi, tapi tidak jadi karena Devan bertanya pada Bu Guru ...
__ADS_1
"Bu, Claudi boleh makan permen di kelas?"
Bu Guru tersenyum. "Karena ini hari pertama, boleh deh."
Devan pun menatap Claudi, lalu membukakan permen untuknya.
"Nih."
"Makasih."
"Sama-sama."
"Kalau Clau nangis, kasih permen lagi yah!" pinta bocah perempuan itu ngelunjak, tapi Devan menanggapinya dengan tersenyum, ia juga mengangguk.
***
Vallen memainkan jarinya sambil duduk di kursi depan area ICU. Ia menunggu jam besuk yang dimulai sekitar jam 11.00 pagi, tinggal beberapa menit lagi.
Vallen mengangguk.
Ia kemudian menoleh pada orang tuanya juga Hilman. "Boleh gak Vallen masuk sendiri dulu?" tanyanya.
Para orangtua yang masih duduk itu pun mengangguk. Mereka mengerti perasaan Vallen, butuh banyak waktu untuknya menghabiskan waktu bersama Rafa.
Vallen pun menggunakan handsanitizer yang sudah disediakan, lalu masuk.
Ia merasa sedih karena Rafa masih belum bangun juga. Gadis itu menghela napas dalam.
__ADS_1
"Fa, lo mau ngambil alih jabatan gue jadi kebo, hah?"
"Masa tidur dari kemaren sore masih gak bangun-bangun sih? Nih ya Fa, lo udah ngelebihin jam idealnya tidur orang dewasa, 8 jam aja udah cukup tau!"
Vallen mendengus.
"Fa, gue lagi ngomong loh, masa dikacangin. Lo marah sama gue?"
"Kalo marah jangan diemin gue juga dong. Fa ..., respon gue kek."
"Rafa ish ...."
Vallen menggoyang-goyangkan lengan Rafa. "Fa, bangun ...."
"Rafa ih bangun!"
"Rafa gue gak bisa lama-lama liat lo gini, hiks ...."
Vallen memeluk Rafa lagi, ia tak kuasa terus-terusan bermonolog tanpa ada satu pun respon kecil yang Rafa lakukan.
"Gue kangen denger suara lo. Gue kangen main tebak-tebakan sama lo. Gue kangen ke minimarket bareng lo. Gue kangen dianter ke sekolah sama lo. Gue kangen tidur ditemenin lo. Gue kangen semuanya, hiks ...." Vallen mengangkat wajahnya yang penuh linang air mata. Ia pun menatap wajah Rafa penuh harap.
"Gue sayang sama lo."
"Jangan pergi ya Fa. Jangan pernah tinggalin gue ...."
🍐 Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa vomment guysss
Makasiii 🥰