
Vallen menggeleng cepat. "Gak usah, gue aja."
"Sama gue. Oke?" Mantan Vallen itu tersenyum ramah lantas mengelus kepala Vallen sebentar, tidak dengar apa tadi Vallen bilang apa? Ia kemudian menunduk untuk mencari bawaan cewek itu, hingga sampailah matanya pada totebag hitam dengan motif menara Eiffel warna pink pastel.
Devan mengambil totebag tersebut yang sepertinya milik Vallen, kalau tidak salah ia pernah melihat Vallen memakainya sewaktu study tour kelas 11.
"Bro gue ke kelas ya!" Devan pamit pada ketiga temannya.
Mereka pun menoleh.
"Iya!" jawab Satria dan Bayu.
Devan pergi yang disusul dengan Vallen, gadis itu tak enak jika Devan berjalan sendiri toh dia bukan pembantu yang bisa Vallen suruh untuk membawa barangnya ke kelas.
Ketiga cowok itu pun lanjut menyusun buku. Setelah beres, Ina hendak mengangkatnya lagi. Namun Rafa segera membawa buku itu. Ina terkejut dengan apa yang Rafa lakukan, tapi baru saja mau bicara, Rafa sudah berdiri dan membalik badannya. Karena hal tersebut, Ina mengejarnya.
__ADS_1
"Anak pinter ...," puji Bayu setelah melihat Rafa dan Ina jalan menjauh.
"Gak ada yang mau bantu gue gitu!" omel Chela yang tengah menatap lekat Satria dan Bayu, ia meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Gak! Lo galak!" ujar Satria yang langsung meneruskan jalan ke kantin.
"Nasy, gue bantu ya." Bayu berinisiatif dan mengambil keresek cewek itu. Nasya mengangguk sembari tersenyum.
Satria auto lihat ke belakang saat mendengar Bayu berkata seperti itu. "Anjir gue ngejomblo dong jalan ke kantin!" Ia kemudian menatap Chela dengan kesal. "Sini sini gue bawain."
***
"Anjig dia pake lagu filing gud lakasud ... tapi sambil melotot hahahah."
Bayu ikut tertawa.
__ADS_1
Di paling pinggir kiri ada Chela dan Nasya yang sedang memotret makanan dan membuat storygram.
Kemudian di tengah baru ada Devan Vallen yang berhadapan dengan Rafa Ina.
Vallen tengah menikmati chicken katsu-nya yang ia beli di kantin jepang, ia mencoba duduk dengan santai di sebelah Devan sembari menatap lalu-lalang murid serta sebagian dari mereka yang sedang melakukan transaksi.
"Val, lo suka sayur kan."
Suara Devan membuat Vallen menoleh padanya. Cowok itu memberikan makanan sejenis tumis jagung, kacang polong, dan wortel ke piring Vallen. Tumis itu memang sepaket dengan ayam crispy saus pedas yang Devan beli.
Vallen kemudian menunduk, menatap piringnya sendiri.
"Makan," katanya seraya mengelus rambut Vallen. Tolong Vallen semakin tidak kuat jika Devan terus-terusan mengelus kepalanya! Hatinya bisa-bisa akan melemah dan jadi tunduk lagi pada Devan seperti anak kucing yang mengebawahkan kepalanya setiap dielus.
Untung saja Devan tidak lama melakukan itu. Ia langsung memakan makanannya lagi.
__ADS_1
Setelah beberapa lama, bel masuk pun berbunyi. Mereka juga telah selesai makannya. Vallen berusaha keluar dari kursi panjang ini untuk memulangkan piring. Karena ribet jika harus menyuruh Nasya bergeser, Vallen memutuskan untuk melewati saja kursi ini asalkan ia masih bisa menjaga sopan santun dari rok pendeknya. Begitu juga yang Ina lakukan, ia berdiri lalu menghadap kebelakang, melangkah untuk melewati kursi dan satu kaki pun berhasil keluar, tinggal satu lagi. Tapi yang satu malah tersangkut padahal Ina hendak melanjutkan langkahnya langsung. Tak heran jika gadis itu jatuh bersama piringnya yang terlempar.
Pranggg ....