
Vallen menendang Frian, mengerahkan segala tenaga yang tersisa untuk melepaskan diri. Namun brengseknya, Frian malah makin merapatkan dirinya pada Vallen. Dan sungguh, saat ini perempuan itu benar-benar terkunci.
Frian semakin gencar mengeksplor bibir Vallen, bahkan semakin lama ia makin berusaha untuk masuk ke dalamnya. Hingga akhirnya cowok itu pun menggigit bibir bawah lawan mainnya ini agar membuka mulut.
Nafsu Frian sangat menggebu. Hawa di sekitar bahkan bisa mereka rasakan jadi berubah panas. Namun, Vallen masih dalam logikanya untuk tidak menikmati ini semua. Vallen masih memikirkan Rafa.
Suara langkah yang cepat seketika didengar oleh Vallen. Lalu tak sampai sedetik, Frian sudah menjauh.
Dan kemudian Vallen tahu bahwa yang menarik cowok itu adalah Rafa.
"KURANG AJAR!" Rafa membanting kakaknya sendiri ke tembok. Bogem mentahnya lalu mendarat berkali-kali tanpa ampun.
Sedangkan Frian ... orang itu tak membalasnya sama sekali, ia malah tersenyum seakan menikmati pukulan yang Rafa beri.
"Batalin pertunangan lo. Claudi buat gue aja. Lo masih bocah, bisa apa lo sama dia hah?" ucapnya seperti orang sedang mabuk—melantur, atau mungkin karena ia terlampau lemas(?)
"Bangs*t!" umpat Rafa.
Lagi-lagi cowok itu pun menghajarnya. Melampiaskan seluruh amarah yang tak hilang setelah ia berkebut-kebutan di jalan dan sekarang ditambah lagi yang ini.
__ADS_1
Frian, bisa saja habis di tangan Rafa.
***
Ina turun dari mobil dan hendak memasuki rumah Rafa. Namun, dirinya dicekal oleh kedatangan Marvel dan Putra yang tiba-tiba.
"Gak usah samperin Rafa!" perintah Marvel yang baru turun dari motor.
"Mar, aku harus masuk. Aku takut Rafa kenapa-napa. Kak Frian orang jahat!"
"Kamu gak tau apa-apa tentang Frian, Na!"
"Kak Frian yang ngebuat aku pindah sekolah dan jauhin kamu, Mar! Karna aku gak mau lagi terlibat dalam geng Rigel terutama sama dia! Kamu gak pernah tau berapa kali Kak Frian hampir lecehin aku di saat kamu pergi!"
"Gobl*k! Si Bangs*t masih belum cukup main sama cewek lain tiap minggu?!" Marvel masuk ke dalam rumah Rafa sembari mengepalkan tangannya.
Ia kemudian mengambil alih Frian dan menghajarnya habis-habisan. Apapun yang menyangkut Ina, tak akan Marvel biarkan begitu saja. "Mati lo Anjing. Mati!"
Rafa berjalan mundur. Ia kemudian mengejar Vallen yang berlari ke taman belakang.
__ADS_1
Mobil polisi berbunyi. Bi Adab yang baru habis dari warung memang meneleponnya tadi, beliau bahkan sempat menenangkan Vallen beberapa saat sebelum cewek itu kabur.
Rafa memanggil nama tunangannya. Raut wajahnya terlihat cemas selama matanya menyorot setiap sudut di halaman belakang.
Kemudian, samar terdengar suara tangis yang membuat Rafa segera mencari sumbernya. Ternyata Vallen sedang berada di ujung taman beralaskan rumput gajah dengan wajah yang ditempatkan di atas lutut dari kakinya yang menekuk.
Rafa berlari mendekati lalu berjongkok. Alis cowok itu bertaut, ia amat merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Vallen. Rafa kemudian mencoba memegang pundaknya, tapi gadis itu malah langsung berteriak dan menggedikkan bahu agar tangan Rafa enyah.
"Val?"
Vallen menangis sejadinya. Ia makin merapatkan tubuh ke tembok, seperti takut sekali dengan kedatangan orang di depannya ini.
"Val, ini gue Rafa."
Vallen menggeleng. Ia sungguh merasa trauma atas apa yang dilakukan Frian tadi.
"Val jangan takut. Gue Rafa ...." ucap Rafa yang tak kuasa menahan tangisnya. Ia kemudian langsung memeluk Vallen walaupun gadis itu berontak.
"Lepas! Pergi!!!"
__ADS_1
"Val jangan gini ...."
Rafa mengeratkan pelukannya. Hingga pada akhirnya Vallen hanya bisa menangis, dan membiarkan dirinya dalam pelukan cowok tersebut.