
Se ... kejam itu kau fitnahkan
Toettt tet tet tet tet tetetet tet tet
(Musik deh pokoknya)
Satria menggoyangkan tubuh dengan lentur. Ia sangat ekspresif, bahkan sampai mangap sok ganteng dalam video tik-tuk kali ini. Ya, dan seperti biasa Satria ditemani oleh Bayu, partner hidupnya, eh ngga, partner jogetnya.
"Hooobbah!" ujar anak itu heboh sampai satu kelas memberi perhatian padanya, tak terkecuali salah seorang guru di sana.
TETTT TET TOET TEOT TETT
__ADS_1
Musiknya masih menggema. Membuat Bayu segera mematikan hp-nya dengan rusuh.
Di belakang kursi Bayu, ada Satria yang menebarkan senyum pepsodent-nya dengan kaku. Cowok itu juga melirik teman-teman hanya lewat ujung matanya. Dan tak lama, keadaan kelas pun kembali seperti semula, bu guru yang kembali bicara dan murid-murid yang ... hhhh, sibuk dengan urusan masing-masing.
Salah satu contohnya adalah Rafa, lelaki itu menggerakkan tubuhnya tak nyaman padahal baru memasuki jam pelajaran pertama. Semua tulangnya serasa retak. Melakukan perenggangan berapa kali pun masih membuat sendinya menimbulkan suara seperti pintu tua yang baru dibuka setelah sekian lama.
"Lo salah bantal?" tanya teman sebangkunya yang tak lain adalah Satria.
Bagaimana bisa salah bantal jika dia tidak tidur pakai bantal malam tadi. Terpaksa Rafa tidur di sofa ruang keluarga karena kamar tamu pun ternyata dikunci, entah kuncinya Bi Adab atau ayahnya yang pegang, tapi Rafa takut mengganggu tidur mereka saat itu.
Alasan tidur di luar? Ya apalagi kalau bukan karena Vallen mengamuk tadi malam dan berujung kasurnya dikuasai gadis itu, ia tidur menghabiskan tempat membentuk huruf X. Rafa sempat berpikir untuk menindih dia saja, toh nanti Vallen juga akan terusik dan tidur dengan benar, tapi tidak, itu mungkin akan membuat Vallen tambah kesal. Lagipula jika ia melakukan demikian ... posisinya cukup bahaya dan mengancam keselamatan hati beserta jiwa mereka.
__ADS_1
Rafa menguap, dengan perlahan ia pun meletakkan keningnya di atas satu buku yang tersimpan di meja. Dirinya mencoba memejamkan mata, sebab selain sakit badan tidurnya juga tidak nyenyak.
Segala kekesalan masih disimpannya sendirian, termasuk pura-pura menjadi suami yang baik di depan ayahnya. Menyebabkan dia dengan amat terpaksa harus mengantar Vallen barusan setelah apa yang terjadi tadi malam. Ah seandainya ayah Rafa sedang bekerja, tak mungkin Rafa mau mengantar Vallen hari ini.
Oh ya, meski sudah kesal pun, Vallen menambah Rafa naik pitam karena katanya Rafa boleh kembali tidur di kasur jika ia membawa Vallen makan di toko sushi favoritnya hari ini. Untung Rafa sabar, jadi amarahnya mudah reda.
Di bangku terjauh dari tempat duduknya Rafa, ada Vallen dan Nasya yang sedaritadi sibuk memainkan permainan di secarik kertas. Mereka sedang bermain SOS. Keduanya mengisi secara acak dulu huruf S atau O di kotak yang terlampau banyak mereka buat. Baru setelah cukup penuh, mereka memulai permainan mengasah ketelitian itu.
Seorang guru wanita yang mungkin berumur 50 tahunan terus menerangkan di depan kelas dengan diabaikan para muridnya, terdengar tidak sopan memang, tapi beliau terus membahas hal yang kelewat jauh dari topik utama, dan jadi membicarakan hal ngalor-ngidul yang tak kunjung usai.
Sesekali Vallen menghela napas melihat si ibu yang masih saja asik dengan obrolannya sendiri, padahal selama Vallen mengedarkan pandangan ke teman sekelasnya, mereka sama sekali tidak peduli dengan bahasan ibu tersebut. Ya ada sih satu atau dua orang yang saking bingungnya tidak tahu mau melakukan apa, jadi memutuskan memperhatikan beliau.
__ADS_1