Pear

Pear
106


__ADS_3

"Ha? Cewek kayak gini lo tuduh gue deketin? Cih!" ucap Erkan meremehkan Vallen.


"Heh, apa maksud lo!" Vallen angkat bicara, tapi bukan dia saja yang tidak terima, melainkan Rafa juga. Ia berjalan ke arah Erkan yang sudah mematik api dalam dirinya dan dengan segera satu tendangan pun dilakukan hingga Erkan tersungkur dan menabrak pohon.


"Jaga ucapan lo!" teriak Rafa.


Teman-temannya kaget karena dia bisa seemosi ini.


"Sekali lagi lo rendahin Vallen ...


... abis lo sama gue!"


Rafa menyepak kaki Erkan, membuat cowok tersebut mendongak dengan tatapan ingin melenyapkan Rafa. Ia pun berdiri dengan tenaga yang masih dipunyainya, tapi kemudian guru-guru datang.


"Tuh Nasy, liat sendiri kan Erkan gimana," kata Ina.


Nasya pun bergumam, ia jadi berpikir dua kali jika ingin menuduh Erkan adalah secret admirer-nya Vallen.


"Rafa aneh," ujar Chela yang melihat tiga orang itu sedang bernegosiasi dengan guru.


Ina menengok wajah Chela. "Wajar aja sih kalo bela cewek, apalagi Vallen temennya, ya kan?"

__ADS_1


***


Negosiasi berlangsung lancar. Kedua sekolah itu masih bisa melanjutkan pertandingan karena tidak ada yang menuntut dan dituntut, terlebih lagi keduanya sepakat untuk berdamai.


Dan sekarang adalah waktunya final. Semua penonton mengerubungi satu lapangan saja. Tatapan anak Arcturus dan Canopus terlontar tajam satu sama lainnya, tak ayalnya tatap antara Rafa dan Marvel. Rafa baru menyadari keberadaan anak itu, entah dia tadi kemana saja. Marvel, sahabat Rafa yang sudah mengkhianatinya karena malah merebut Ina.


Jauh di pikiran Marvel, ia teringat akan seseorang yang berkata padanya.


Suatu hari saat Marvel baru beres mengantar Ina pulang ...


"Lo gak seharusnya nyiksa Ina terus," kata seseorang seraya minum kaleng soda.


"Tapi Ina berusaha jauhin gue, gue harus kekang dia. Dia gak boleh pergi!" ujar Marvel mantap, itulah keinginan terbesarnya, tidak ditinggal oleh orang yang amat ia cinta. Namun sayang sejuta sayang karena Ina malah memilih untuk pindah sekolah. Marvel kecewa, tiap harinya pun setiap ia menghubungi Ina, gadis itu selalu slowresp bahkan tidak merespon. Maka darinya, yang bisa dia lakukan adalah memaksa Ina, dengan begitu Ina akan segan dan jadi menurut padanya.


Marvel menggeleng. "Ina gak ngasih tau alesannya apa."


Orang yang mendengar itu langsung menyunggingkan senyumnya. "Itu karena Rafa! Makanya ... akar dari masalah itu ada di Rafa."


Dari sana pikiran Marvel jadi terbuka, ia membenarkan perkataan temannya ini.


"Jadi, lo harus kerjasama sama gue ...

__ADS_1


... buat bikin Rafa seng-sa-ra."


Permainan pun dimulai, kali ini sedikit kasar karena sebagian dari mereka bermain dengan emosi, meskipun tidak memegang bola tapi ada saja yang senggol-senggolan dengan sengaja bahkan sampai membuat jatuh.


Rafa men-dribble bola dan berlari zig-zag untuk menghindari lawan.


"Sat!" panggilnya lalu melempar bola itu. Satria menerimanya, kemudian ia passing ke arah Devan yang sudah berada di dekat ring.


Dikit lagi saja mereka bisa mencetak skor, tapi Erkan menepis bola yang hampir memasuki ring, ia pun menguasai bolanya.


Beberapa umpatan dilontarkan saat pertandingan kali ini, intinya final saat ini sengit sekali, tak ada dari keduanya yang memberi celah sedikit pun agar lawannya dapat skor.


Peluit ditiup, arti bahwa babak 1 beres. Mereka pun istirahat sejenak. Rafa berjalan ke arah tempat dia menyimpan botol pemberian dari panitia, lalu ia baru menyadari bahwa botol bening itu sudah habis. Maka darinya, Rafa berlari ke kelas untuk mengambil botol minum miliknya sendiri.


Di dalam sana Rafa berpapasan dengan Vallen yang memang jadwal jaganya sudah beres, karenanyalah gadis tersebut bisa bebas melakukan apa saja sekarang.


"Ngapain?" tanya Rafa.


"Ngaca sekalian bawa hp hehe," jawab Vallen cengengesan.


"Centil!"

__ADS_1


"Ih nggak!"


__ADS_2