Pear

Pear
122


__ADS_3

"Ngelamun?" Devan menundukkan kepalanya, berusaha melihat muka Vallen yang sedang menghadap ke bawah.


"Val?" panggilnya.


Cowok itu kemudian menggeleng, seolah tidak habis percaya Vallen bisa setidak fokus ini. Lagi, ia pun menepuk pundaknya.


Vallen segera memejamkan mata saat sadar kembali. "Ah, sorry banget, Dev ...."


"Mikirin apa sih?"


"Yang racunin Rafa!" ucapnya cepat. "Eh ...." Vallen mengulum bibirnya karena merasa salah berucap, tak seharusnya ia mengucapkan itu pada Devan.


Ada keheningan yang timbul setelah itu, bagaimana tidak jika dalam diri Devan muncul berbagai gejolak dan salah satunya adalah kecemburuan. "Lo penasaran?"


Pelan-pelan Vallen menoleh pada Devan. Kemudian dengan gerakan ragu, ia mengangguk.


"Gue pikir ini juga gak bisa didiemin gitu aja. Mau coba cari bareng-bareng?"


Vallen mengangguk semangat. Cowok itu bisa menangkap mata Vallen yang makin terbuka lebar, gadis itu senang. Jika begitu ... haruskah Devan terus-terusan merelakan sakit di hatinya demi kebahagiaan Vallen?


"Kita cek cctv."

__ADS_1


Devan bangkit duluan dari kursinya. Sedangkan Vallen dengan cepat memasukkan barang-barangnya ke tas. Mereka berdua pun berjalan beriringan dengan Devan sampai ke ruang cctv.


Sampai di sana, mereka mengintip ke dalam, nyatanya sepi. Tak ada satu pun orang yang sedang menjaga ruangan. Namun monitor-monitor itu memanglah menyala.


"Gak ada orangnya?" tanya Vallen untuk memastikan apa yang ia lihat tidak salah.


"Iya, ayo masuk."


Devan membuka pintu yang tidak dikunci. Mereka berdua pun masuk. Vallen segera duduk di kursi depan komputer, tapi saat tangannya hendak memainkan mouse. Devan sudah memegangnya duluan, lalu tangan kiri Devan memegang sandaran kursi yang Vallen duduki.


Cowok itu segera mencari rekaman saat hari pertandingan. "Lo tau Ina keluar kelas pas kapan?" tanya Devan yang tatapannya fokus ke layar.


Usai di-setting rekamannya, Devan melirik ke bawah. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat saat menyadari posisinya. Ia kemudian melepas mouse dan jadi berdiri di belakang kursi Vallen.


Mata mereka berdua lalu fokus ke rekaman itu. Keduanya menyimak dengan sangat teliti.


"Orang itu nabrak Ina?" heran Vallen saat rekaman masih berjalan.


"Hm."


Video lanjut diputar.

__ADS_1


"Bentar," interupsi Devan.


Laki-laki itu berpikir, tadi video yang mereka lihat dimulai dari orang itu berjalan dari depan kelas XII IPA 6. Padahal ruangan untuk SMA Canopus ada di XII IPA 4.


Saat jalan di depan XII IPA 3 awalnya ia melewati kelas begitu saja, bahkan orang itu pun sampai berjalan ke luar dari koridor kelas 12 IPA dan beralih ke persimpangan setelah sebelumnya bertabrakan dengan Ina. Namun setelah Ina keluar kelas, ia kembali lagi berjalan di koridor itu dan masuk ke kelas yang telah Ina masuki sebelumnya.


Vallen mengerutkan kening. "Jadi maksudnya orang ini tau Ina sekelas sama Rafa?"


"Kayaknya iya."


"Orang itu udah pasti kenal sama Ina. Kalo Ina-nya kenal gak yah?"


Devan menatap Vallen dengan tatapan bingung. Lalu setelah itu, ada suara percakapan yang terdengar dari luar, membuat dua manusia di ruang cctv sontak kaget. Dengan tergesa Devan mengembalikan format tampilan layar ke cctv yang sekarang sedang menyala.


Gagang pintu ditekan, mereka berdua lantas berlari ke belakang meja yang memang sudah tidak beraturan tataannya. Sebelah sisi ruangan itu masih rapi karena ditempatkan layar komputer, tapi satu sisinya lagi berantakan. Vallen dan Devan pun tidak mengerti kenapa meja dan kursi bekas ini malah ditempatkan di sini.


Suara tawa menggema, sesekali bahana seruputan kopi pun terdengar. Bukan hanya satu orang yang datang, melainkan dua. Dan dua-duanya adalah guru TIK SMA Arcturus.


Srek!


Kaki Vallen tidak sengaja menyenggol salah satu meja yang reyot saat ia hendak bergeser. Dan sialnya itu malah membuat bangku yang tersusun di atasnya ambruk karena meja tersebut miring.

__ADS_1


__ADS_2