
Sampai di kamar, mereka pun mulai mendekornya. Menempelkan kertas krep di langit-langit, merangkai lampu tumblr, menata ulang furniture, dan lain sebagainya.
Butuh waktu lama untuk melakukan hal tersebut, mungkin sekitar tiga jam. Namun, hal itu dibayar dengan hasil yang membuat Vallen dan Bi Adab tersenyum puas. "Semoga besok berjalan dengan lancar," harap Vallen yang kemudian membaringkan tubuhnya di kasur.
***
Devan masih di rumah sakit untuk pemulihan pasca kemoterapi kemarin. Badannya cukup lemas dikarenakan obat-obatan yang masuk itu. Dirinya masih dan akan selalu berharap bahwa obat-obat tersebut—yang memberi banyak efek samping, bisa menimbulkan efek yang baik juga untuk tubuhnya. Devan optimis bahwa ia bisa sembuh. Selama Devan bisa menikmati berkah yang hadir dalam hidupnya, Devan pun percaya keajaiban akan menyertainya.
Cowok itu melihat Azka sedang bermanja dengan ibunya. Mereka membicarakan hal-hal sepele yang membuat kamar rawat inap ini jadi lebih berwarna akibat ocehannya. Devan sangat berterimakasih kepada Tuhan karena sudah memberi orangtua angkatnya keturunan. Azka sangat membuat perubahan di keluarga kecilnya. Setidaknya, orangtua Devan tidak terlalu larut dalam kesedihan berkat sakitnya remaja itu, sebab ada Azka yang bisa mencairkan suasana.
Devan mengalihkan pandangan jadi melihat langit-langit kamar. Dua hari lalu, ia sudah bercerita yang sebenarnya kepada Vallen tentang kehidupan aslinya. Ada satu hal yang Devan minta dan sejauh ini Vallen kabulkan, yakni tetap memandang Devan sebagai Devan yang selama ini Vallen kenal. Lelaki itu tidak ingin Vallen melihat dia jadi seseorang yang harus dikasihani.
Devan menghela napas. Tiba-tiba memikirkan Vallen jadi membuat sesuatu seketika terlintas pula di pikirannya.
Ia pun mengambil ponsel dan mengirimkan pesan untuk gadis itu.
^^^Devan^^^
^^^Val, malem itu lo sempet foto si topi item kan?^^^
Setelah mengirim, pesan tersebut langsung dibaca ternyata, jadi Devan tetap berada di roomchat dan menunggu jawaban beberapa saat.
Vallen
Iya!
Vallen send a picture.
^^^Devan^^^
^^^Val, lo ngelawak? Itu ngeblur.^^^
Vallen
Ngga ngelawak :(
^^^Devan^^^
^^^Hp kentang.^^^
Vallen
__ADS_1
Devan! 😂 Nggak gitu ihhh. Gue keburu salfok pas liat lo lemes.
^^^Devan^^^
^^^Alesan.^^^
Devan terkekeh karena pesan-pesan selanjutnya Vallen mencak-mencak tidak terima hpnya disebut kentang.
Vallen
Nyebelin ahhh.
Gak gitu tauuu.
Dibilang gara-gara lo juga!
^^^Devan^^^
^^^Salahin aja terus cowok.^^^
Vallen
Emang pantes disalahinn
^^^Devan^^^
Vallen
Gak! Lonya lagi gini.
Kapan-kapan lagi aja, pas lo udah baikan.
^^^Devan^^^
^^^Gue udah baikan kali.^^^
Vallen
Gak ah, nanti lo ngedrop. Baru aja baikan, masa udah cape-capean lagi.
^^^Devan^^^
__ADS_1
^^^Kalo ditunda, ntar keburu ganti topi dia.^^^
Vallen
Hahaha, Devan!
^^^Devan^^^
^^^Gue salah lagi?^^^
Vallen
Nggak, tapi ngakak. Bisa-bisanya mikirin itu.
Devan tersenyum.
Sampe sekarang gue masih jadi orang bego yang gak tau lo sama Rafa ada apa, tapi gue bakal tetep bantu lo buat ungkap tentang masalah ini.
***
"Makasih Bu ...," ucap para murid saat Bu Anggi meninggalkan kelas di hari pertama pembelajaran minggu ini. Beberapa saat lalu bel istirahat memang sudah berbunyi, maka darinya para murid pun sudah banyak yang langsung mengacir ke luar kelas.
"Kantin atau rooftop Dev?" tanya Bayu yang baru saja berdiri. Satria yang ada di belakang bangku mereka pun langsung memposisikan diri di samping meja selagi menunggu jawaban Devan.
“Rooftop,” jawab Devan yang kemudian membuat mereka—alias tiga cogan Arcturus—berjalan bersama meninggalkan kelas.
Di sisi lain 12 IPA 3, Vallen memandang Devan dengan khawatir. "Kenapa ya, perasaan gue gak enak," katanya.
"Ga enak gimana?" tanya Nasya.
"Gitu deh. Takut Devan kenapa-napa."
Vallen melirik ke belakang di mana Chela dan Ina masih duduk sembari menyalin materi yang ada di papan tulis, wajar saja mereka telat menulis, tadi bukannya menyambi melakukan hal itu, mereka malah bergibah ria hingga sedikit membuat Vallen terganggu.
"Guys, kantin yuk!" ajak Vallen.
"Tanggung."
"Chel, ayo ah! Sekarang."
"Hmm, iya iya." Segera, Chela pun menyimpan pulpennya. "Ayo, Na."
__ADS_1
***