
"Rafa ...."
"Kenapa?"
"Dingin ...."
"Lo udah pake selimut."
"Masih dingin."
Rafa pun mengambil jaket yang Vallen punya dan menyelimuti ke tubuh gadis itu, tapi katanya masih dingin juga. Maka dari itu Rafa terus menimbun Vallen dengan pakaian yang ada, kecuali pakaian dalam. Ia juga terus mengecek handuk jikalau sudah hilang hangatnya, mengulang merendamnya di air lalu menempelkannya lagi di jidat Vallen.
Setelah melihat Vallen tertidur lagi, Rafa pun memutuskan untuk tidur juga. Baru saja ia menyelimuti dirinya sendiri, Vallen sudah kembali bersuara.
"Fa, peluk ...," pintanya. Vallen juga membuka matanya yang masih saja berlinang.
Rafa terdiam sejenak, kemarin ia melakukan itu dalam keadaan mengantuk berat, tapi sekarang ia benar-benar sadar, pikirannya pun berpikir lebih dari dua kali untuk melakukannya. Namun jika melihat keadaan Vallen yang begini, tentu saja membuat Rafa tak tega. Namun, Rafa tetap mendekatkan dirinya, lalu menarik Vallen ke dalam pelukannya.
Tubuh Vallen pun tenggelam di bawah selimut yang mana atasnya banyak tumpukan baju, tapi sepertinya ia tak masalah dan tidak sesak napas, malah Vallen makin merapatkan wajahnya ke dada Rafa.
Rafa menghela napas karena Vallen memeluk pinggangnya dengan erat.
Selama tidur, sesekali Vallen merengek seperti anak kecil, walau begitu Rafa mengerti karena orang yang sakit tubuhnya memang suka terasa linu dan tak nyaman. Sesekali pula tangan Vallen bergetar, mungkin karena kedinginan. Dan saat itu semua terjadi, Rafa segera mengusap lembut kepala Vallen. Seolah berkata ada seseorang di dekatmu dan kamu tak perlu cemas. Ia sangat berharap gadis itu merasa lebih tenang.
__ADS_1
***
"Gila! Banyak yang gak masuk gini!" pekik Nasya saat usai menuliskan laporan murid yang tidak masuk untuk diserahkan ke guru piket hari ini.
"Si Ina kemana yah gak ada kabar, alfain aja?" tanyanya seraya menoleh ke Chela yang jadi teman sebangku sementaranya.
Chela menggaruk kepalanya sambil mengecek lagi ponselnya. "Aduh gak tau, tuh anak dihubungin gak bisa terus."
Devan yang sedang mengerubungi bangku Nasya karena ikut Bayu--sang sekertaris 2--juga ikut bingung. Namun bukan bingung karena Ina. Melainkan sahabatnya. "Tumbenan si Rafa izin masuk siang."
***
"Mmmh."
Vallen menggeliat. Membuat Rafa yang sudah bangun sedaritadi, tertarik untuk menunduk dan melihat wajahnya. Percuma, di pandangan dia hanya rambut Vallen saja yang terlihat. Akhirnya ia pun memundurkan tubuh. Namun tangan Vallen langsung mempererat pelukannya.
Rafa pikir cewek ini masih tidur, tapi tahunya Vallen mendongak dan menatapnya dengan mata yang kosong sewajarnya tatapan orang yang sedang tidak enak badan. Rafa sedikit canggung karena Vallen melihatnya seintens itu.
"Um. Val gue telfon ortu lo yah."
Vallen mengangguk, kemudian Rafa izin berbalik badan dulu untuk mengambil ponselnya di nakas. Tak lama ia terbebas dari Vallen karena gadis itu langsung memeluknya lagi.
"Mah ...."
__ADS_1
"Halo Rafa, kenapa?"
"Vallen-nya demam. Katanya mau ketemu mamah papah."
"Hahaha, dia pasti manja banget yah. Nanti siang paling mamah ke sana, kalo papah lagi kerja. Bilang ke Vallen tunggu nanti ya."
"Iya, makasih Mah."
"Ngga, gue gak manja," sanggah Vallen karena telinganya mendengar itu.
"Dih gak ngaku!" kata Rafa seraya menyentil kepala Vallen menggunakan jarinya.
Vallen kembali merengek, membuat Rafa menghembuskan napas kesal dan lagi-lagi akhirnya ia mengelus kepala gadis itu. "Berisik!"
"Huaaa."
"Vallen, sttt."
Rafa menekan kepala Vallen ke dalam pelukannya dan ia menempelkan dagunya di atas kepala gadis itu. Dasar Baby Buffalen!
🍐 Bersambung ....
...✨ Jangan lupa vommentnya gaisss ☺️...
__ADS_1
...Jangan jadi silent reader pleaseee 🥺...
...Makasih ✨...