
"Kok bisa jatoh?"
"Ke ... kesandung kaki sendiri!" jawab Vallen.
"Astaga .... Oh iya, tadi temen-temen lo bilang lo mau pulang sekarang. Gue anter ya?" Andai saja Satria dan Bayu tidak membujuk Devan, cowok itu tak akan berada di sini sekarang. Sejujurnya Devan tentu merasakan sakit atas kejadian di Dusun Bambu saat itu, tapi bagaimana lagi, ia tak bisa membiarkan Vallen begitu saja.
"Mmm, nggg ...." Vallen melihat ke sekitar dengan canggung. "Ngg-ngga usah, makasih. Lo lanjut latihan aja."
Tangan Vallen meraih meja untuk membantunya berdiri. Mengerti akan apa yang hendak Vallen lakukan, Devan segera membantunya juga.
"Gue gapapa kok, masih bisa jalan, bisa pulang sendiri." Vallen tersenyum kecil tanpa melihat Devan.
"Ya udah."
Devan pun menyesuaikan tingginya dengan membungkuk hingga wajah mereka sejajar. "Ati-ati yah. Kalo ada apa-apa, hubungin gue."
Perlahan Vallen menggerakkan kepalanya hingga menghadap lurus ke depan dan hasilnya mata dia bisa menangkap jelas sosok Devan. "Um," katanya seraya mengangguk sekali.
Devan tersenyum tulus, kemudian pandangannya teralih pada Rafa yang ada di belakang Vallen.
"Lo ngapain di sini, Fa?"
Rafa mengerjapkan mata pelan seraya mencari alasan. Melihat itu, Devan pun jadi memicingkan matanya, sedangkan Vallen yang melihat ekspresi Devan langsung meneguk ludahnya dengan berat, ikut dag-dig-dug dengan jawaban Rafa selanjutnya.
"Um ..., ada dokumen Bu Anggi yang ketinggalan, mau gue simpen di ruang guru."
Devan mengerutkan kening karena merasa ada yang tidak masuk akal. "Kan meja guru di depan? Ngapain lo jalan ke sini?"
Vallen belotot dan sedikit melangkah ke pinggir.
Krek ....
"Mau ambil botol!" Rafa menunjuk benda plastik yang sudah ringsek itu berkat injakan Vallen.
"Hmmm."
***
"Neng Vallen?"
Vallen menoleh saat berjalan di depan pos satpam sekolah.
__ADS_1
"Iya?"
Satpam botak yang tadi memanggilnya masuk ke pos sebentar, lalu ia keluar lagi dengan telah memegang sebuket bunga.
Vallen terheran-heran. Iya, dirinya tahu kok kalau semua penduduk SMA Arcturus banyak yang tahu dia, juga tertarik padanya, tapi apa harus sampai Pak Satpam juga?!
"Hah?" tanya Vallen kaget seraya memandang bunga itu dengan lekat.
"Ini ada yang ngirim," tutur si bapak.
Vallen pun mengambil napas dari mulut, lalu menghembuskannya sekaligus berkata "ohhh" seraya manggut-manggut.
"Dari siapa, Pak?"
"Laki-laki pake seragam ... SMA Canopus kalau gak salah. Iya kali, gitu Neng."
"Eumm." Vallen menilik buket tersebut, sepertinya masih lanjutan dari surat itu. "Ciri-ciri mukanya gimana, Pak?" Gadis itu mendongak dan menatap Pak Satpam penuh harap, siapa tahu beliau bisa menjelaskan secara detail ciri-cirinya.
"Oh, Bapak gak liat. Dia parkir motor di depan sini, terus turun masih pake helm."
***
Remember me?
-5
Seringaian terbit di wajah Rafa. Sekali pun ia merendahkan siapa pun yang memberi ini–karena tidak berani menampakkan muka– pada dasarnya ia juga turut kebingungan dan ingin tahu siapa secret admirer itu.
"Ngapain liat bunga gue?" tanya Vallen yang baru saja selesai mandi. Rafa segera menyimpan barang itu dengan cepat ke tempat semula.
"Gapapa." Ia pun melepas tas, lalu menyimpannya di kursi. Kemudian di belakang tubuhnya ada Vallen yang berjalan menuju meja rias.
"Bau!" ucap cewek itu meledek.
"Ck, gue keringetan tetep wangi!"
"Bau ******!"
"Gak sopan. Bunga lo tuh bau ******!"
"Lo yang ******!" kesal Vallen yang sudah dipendam sejak pagi.
__ADS_1
Rafa melangkah maju. "Bilang sekali lagi."
Vallen yang belum duduk pun memutar tubuhnya jadi menghadap Rafa. "Lo. ******. Denger?"
"Ngambek sih ngambek aja, tapi mulut tetep dijaga dong," nasehat Rafa dengan tatapan tak habis percaya.
"Dijaga dengan baik kok, buktinya mulut gue gak jalan kemana-mana, stay di sini," jelas Vallen sembari menunjuk mulutnya sendiri.
"Jaga bahasa lo sama tunangan sendiri."
Vallen tertawa dengan nada yang bagi Rafa sangat tidak enak, seperti meremehkan. "Salah gue ngatain lo ******?"
"Berhenti, Val."
"Rafa ******!"
"Jangan kurang ajar."
"Gue udah sering diajar, gak kurang kok!"
"Vallen!" ucap Rafa dengan suara keras. Ia bukan baper karena merasa dirinya memang bau, hanya saja ia tak suka cara Vallen yang marah tapi melampiaskan dengan cara menyebalkan seperti ini, apalagi ekspresi dan nada bicaranya itu. Rafa merasa ini bukan Vallen yang dikenalnya kemarin-kemarin. Sejak kapan anak ini jadi tak sopan?
Tok ... tok ... tok ...
Rafa melepas pandangannya sengitnya dari Vallen, lalu memutuskan untuk membukakan pintu.
"Ada kiriman paket, buat Den Rafa."
"Dari siapa?"
"Kata Mang Junet paketnya tadi dilempar. Jadi gak tau juga siapa."
"Ok. Makasih, Bi."
Rafa menutup pintu seraya memandang kotak hitam berpita senada dengan secarik kertas putih yang tertempel di atasnya. Tulisannya "Untuk Rafa".
🍐 Bersambung ....
Jangan lupa vomment guysss
Makasiii 🥰
__ADS_1