
"Non Vallen lagi apa?" tanya Bi Adab yang tengah menyimpan sapu setelah tadi bersih-bersih di ruang depan.
Vallen tersenyum sembari membalikkan roti di atas teflon agar permukaannya sedikit kering. "Bikin bekel buat Rafa, Bi."
"Aduhhh, romantisnya," puji si bibi.
"Hehe. Biar Rafa gak makan sembarangan aja sih, soalnya hari ini dia tanding, Vallen gak mau Rafa kenapa-napa. Taunya dia sakit perut karena makan sembarangan kan berabe."
"Iya Non. Mau Bibi bantu?"
"Gak usah, Bi. Bentar lagi juga beres." Vallen menyusun sandwich dengan cepat di kotak makan, lantas mengisi botol minum Rafa dengan air dari dispenser.
Tak lama, Rafa pun keluar kamar sudah dengan jersey basket Arcturus yang berwarna hitam polet biru tua. Setelah menuruni tangga dan sampai di meja makan, ia langsung dihampiri oleh Vallen. Gadis itu membuka tas Rafa dan memasukkan kotak bekal serta botol minumnya.
Rafa menoleh ke pinggir. "Makasih."
__ADS_1
"Masama Fa Jelek. Mangat yah, harus menang!" Vallen mengepalkan satu tangannya di depan dada.
Rafa pun tersenyum seraya memutar badan, lalu mengacak rambut Vallen. "Semangat juga," ucapnya karena tahu bahwa Vallen kebagian tugas untuk jaga karena gadis itu anggota PMR. Hari ini sebernarnya SMA Arcturus libur, tapi untuk anak OSIS, PMR, dan terlebih murid XII IPA 3 tidak—mereka tetap ke sekolah dengan berseragam lengkap untuk mendukung tim basket yang didominasi oleh kelas tersebut—beberapa murid dari kelas lain juga sepertinya akan ada, tapi pada intinya kelas Vallen sudah sepakat akan masuk semua.
Rafa pun memegang bahu Vallen untuk mengajaknya berangkat sekarang.
"Wait, tasnya belum diambil!" Vallen berbalik badan dan melewati ketek Rafa untuk berjalan ke meja makan di mana tasnya tergeletak. Setelah itu, ia kembali ke sisi Rafa, lalu mengarahkan tangan cowok tersebut agar merangkulnya kembali.
"Kita pamit ya, Bi!" ucap Vallen.
"Ati-ati Non Den!"
"Aaaa!" pekik gadis tersebut yang tentu tidak Rafa hiraukan.
Rafa pun membuka pintu utama dengan satu tangan yang lain. Ia kemudian ke garasi untuk mengambil motor, tapi baru beberapa detik cowok itu sudah keluar lagi. Vallen memandang Rafa bingung dengan tangan yang masih memegang tali tasnya. Baru saja ingin bertanya pada Rafa 'kenapa?', Vallen sudah dibuat mengurungkan ucapannya karena tunangannya itu menarik dia masuk ke garasi.
__ADS_1
Rafa menempatkan Vallen di sudut ruang tersebut, lalu menatap matanya dalam, menerobos pintu di mata Vallen dan seakan berusaha untuk menjelajahi hatinya, terbukti karena hati Vallen rasanya tak karuan, seperti ada yang berlari di dalam labirinnya.
Pelan tapi pasti tangan Rafa tergerak untuk menyelipkan dua sisi rambut Vallen ke belakang telinga. Perempuan itu menatap Rafa dengan pandangan polos, hanya melongo saja karena tidak mengerti Rafa kenapa.
"F-Fa, ayo berangkat, nanti kita telat," ujar Vallen yang sudah sangat ia usahakan.
Rafa tidak merespon, dia melangkah maju dengan tangan yang masih memegang dua sisi rahang Vallen.
Vallen kemudian memegang salah satu punggung tangan Rafa sebagai isyarat melepaskan tangkupannya karena waktu terus bergulir. Namun napas Vallen langsung tercekat begitu Rafa mendaratkan bibir di keningnya.
Cowok itu memejamkan mata sembari menghirup aroma rambut Vallen yang rasanya khas karena selalu memakai shampo yang sama, tapi Rafa selalu suka dengan wangi ini.
"Fa?" tanya Vallen yang masih tercengang.
Cukup lama Rafa mengecup keningnya dengan lembut sebelum akhirnya ia melepaskan itu dan malah memeluk tubuh Vallen sebagai lanjutannya. Rafa merengkuh gadis itu sangat erat seolah tak boleh ada siapapun yang boleh menganggu Vallen atau mengusik mereka berdua.
__ADS_1
Gak tau kenapa, akhir-akhir ini gue lagi ngerasa beruntung banget punya lo.
Bagaimana tidak merasa beruntung, hari-hari kemarin yang Rafa lewati bersama Vallen sedang baik-baiknya. Sekali pun Rafa masih saja dibuat kesal karena Vallen susah bangun, tapi di waktu-waktu selanjutnya baik pagi, siang, sore, bahkan malam ... Vallen selalu memberi perhatian dan memperlakukannya dengan sopan.