
"Fa, ke minimarket dulu!" pinta Ina saat masih dibonceng Rafa. Cowok itu menurut dan meminggirkan motornya.
Mereka turun dengan Rafa yang malah jalan mendahului, ia berkeliling-keliling lantas membeli beberapa snack. Stok makanan ringan di rumahnya dikit lagi, dan kasihan jika Vallen menginginkannya tapi tak ada. Aneh memang, tumben dia inisiatif.
Di lorong lain yang sedang Ina pijaki, gadis itu santai memasukkan roti ke dalam keranjangnya. Ia juga mengambil beberapa buah susu di kulkas. Namun seseorang tiba-tiba meraih tangannya yang baru mau membuka pintu kulkas. Langsung mata Ina pun terbelalak.
"Stttt."
***
"Mau sate apa bakso?" tanya Aya.
"Terserah Mamah, bebas ...," jawab Vallen bersemangat.
"Ya udah bakso aja ya?"
"Okay!"
Mobil Vallen yang berisi keluarga kecil bahagia itu melesat ke kedai bakso yang biasa mereka kunjungi, selain enak, tempatnya pun nyaman sebab itu lebih mirip seperti kafe modern. Sesampainya di sana, mereka pun langsung masuk. Namun Aya terkejut karena sahabat SMA-nya ada di sana, mereka memang masih saling menghubungi satu sama lain, tapi tak janjian untuk bertemu hari ini.
"Eh Aya?" Mira menunjuk Aya.
"Eh! Gak nyangka ketemu di sini!"
Mereka cipika cipiki seperti ibu-ibu pada umumnya, lalu terkekeh entah untuk topik apa. Vallen hanya memandangi keduanya, lantas mengedarkan pandangan ke area kedai untuk mencari tempat agar setelah ini bisa langsung duduk.
__ADS_1
"Ay, ini anak kamu?" tanya Mira yang amat tercengang melihat Vallen.
Gadis itu pun tersenyum manis seraya menyalami tangan sepasang orang tua di depannya. "Om, tante ...," sapanya ramah.
"Iya. Namanya Vallen."
"Cantiknya ...," puji Mira.
Vallen tertawa kecil mendengar itu. Aya pun mengusap sayang rambut anaknya, kemudian menatap Hilman dan Mira lagi. "Mau makan juga kalian?" tanyanya.
"Ngga, Mas Hilman mau nyuci piring katanya," jawab Mira sekenanya. Hal itu mengundang tawa dari keluarga Vallen, sedangkan Hilman mendengus kesal tanpa melakukan hal kasar sedikit pun pada istrinya.
"Kebiasaan kamu Mir, suami sendiri diejek gitu!" sindir Aya.
Mira tertawa, lalu mengajak mereka duduk di bangku yang sama. Alih-alih memegang tangan Aya, Mira malah menarik Vallen. Membuat gadis itu sedikit melebarkan mata sebab sangat tiba-tiba.
Tak lama, pesanan pun datang. Vallen mengesfatetkan mangkuk karena dia berada di ujung yang bukan mepet tembok.
"Ini Tante," serah Vallen.
Mira tersenyum sambil menerima mangkuk itu, ia kemudian mulai membumbuinya. Namun saat membuka wadah sambal, nyatanya itu habis.
Vallen yang tengah mengaduk makanannya pun peka terhadap hal tersebut. Ia kemudian meraih tempat sambal dari tangan Mira.
"Vallen mintain dulu ya, Tan."
__ADS_1
Lalu gadis itu segera meminta sambal ke bagian depan kedai yang ada sejenis etalasenya.
"Makasih, Cantik," ucap Mira sekaligus sebagai pujian bagi Vallen.
Gadis itu tertawa garing seraya duduk lagi. "Sama-sama, Tan."
Selagi menuangkan sambal, Mira berceloteh dengan Vallen untuk membahas makanan favorit. Dari sana Mira mengetahui bahwa Vallen sangat suka sate, sedangkan Mira sendiri sama seperti mamahnya Vallen, lebih suka bakso.
Lama-lama topik berubah karena Mira yang menggibahi anaknya sendiri, mulai dari membahas manjanya sampai ...
"Pokoknya dia kalo Tante masakin masakan pedes nih, dikittt aja pedesnya, udah gak mau makan. Kadang kasian gitu, anak tante gak ngerasain kenikmatan dunia kayak kita-kita."
Vallen terkekeh sambil mengangguk membenarkan pernyataan Mira, sungguh makanan tanpa pedas itu seperti kupu-kupu yang hanya memiliki satu sayap, tak lengkap.
Dari sana Vallen mulai kenal Mira dan Hilman. Kemudian, dengan takdir yang tidak disengaja mereka bertemu lagi di kali kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Hingga pada selanjutnya, sosok hangat Mira terus membekas dalam ingatan Vallen.
Linangan di mata Vallen berkurang saat gadis itu mengerjapkan matanya. Air mata itu segera pindah, mengalir di pipi putih mulusnya. Kesedihan yang timbul ini berkat rasa bersalah yang menjalar dari hati ke matanya. Rasa bersalah saat mengingat Mira juga ngiang suaranya saat meminta ia untuk menjaga Rafa.
Gadis itu terisak seraya mengelus foto Mira. "Gimana cara Vallen jaga Rafa ... gimana cara Vallen omelin Rafa? Bunda Vallen bingung, Vallen harus gimana sama Rafa kalo Rafanya mau sama Ina, hiks. Vallen butuh Bunda ...."
Vallen menunduk dan menempelkan kepalanya ke dinding. Ia menghabiskan sebentar waktunya untuk membiarkan dirinya menangis terlebih dahulu. Setelah itu, ia kemudian melangkah ke piano. Vallen duduk di kursi depannya. Lalu satu tuts pun ia tekan, selanjutnya lima jari ia tempelkan, baru dilanjut dengan jari pada tangan satunya.
Lagu River Flows in You milik Yiruma menjadi pilihannya dalam memainkan piano ini. Jemari Vallen menari di sana tanpa diiringi tangis, pasalnya Vallen memainkan lagu untuk menstabilkan emosinya, sekali pun alunannya terdengar sedih, tapi bisa apa lagi jika ini satu-satunya lagu yang Vallen hafal.
Semakin lama lagu semakin emosional, tapi bagi Vallen, dirinya jauh lebih netral. Air matanya pun mengering dengan sendirinya berkat udara sekitar.
__ADS_1
Drnggg ....