Pear

Pear
86


__ADS_3

Air mata Vallen langsung turun. Ia kemudian menyuruh Rafa pergi lagi dengan suaranya yang bergetar.


"Pergi ... keluar sana!"


Rafa melihat ke sebarang arah. Ia teramat bingung dengan Vallen. "Jelasin dulu lo kenapa."


Tangis Vallen pun makin mengeras, saat Rafa hendak menyentuhnya, lagi-lagi Vallen menghindar. Ini tidak seperti biasanya, Vallen aneh, mungkinkah karena Devan? Itulah pikir Rafa.


Vallen mengambil bantal Rafa lantas melemparnya ke arah pintu. Refleks Rafa menangkapnya. Bukannya menuruti Vallen, ia malah naik ke atas kasur dan mencoba menangkup wajah Vallen. Vallen tak hentinya berontak tapi alhasil Rafa bisa memposisikan wajah Vallen jadi menghadapnya. Vallen yang tadinya tiduran jadi duduk karena berusaha melepaskan tangan Rafa.


Gadis itu memejamkan mata sembari terus menangis, dan rasanya hati Rafa tersayat karena melihatnya seperti ini. "Val ... kenapa?"


"Hiks ...."


"Val?"


Vallen tetap terisak, wajahnya benar-benar memerah berkat emosinya. Tak tega, Rafa pun mengusap pelan kedua pipi Vallen menggunakan ibu jarinya, kemudian ia menarik Vallen ke dalam pelukannya.


"Kalo ada apa-apa tuh bilang Val."


"Hiks ...."

__ADS_1


Tangan Rafa menyentuh pipi Vallen selama masih mendekapnya, ia menghapus air matanya dengan hasil kepercumaan karena bukannya kering, pipi Vallen semakin basah sebab air mata itu semakin deras turunnya.


"Lo budek? GUE BILANG PERGI!" Dalam sekali dorongan Vallen berhasil membuat Rafa menjauh. Ia pun kembali menengkurapkan dirinya sambil meremas bantal.


"Val seragam lo basah, ganti dulu, nanti sakit lagi gimana."


"Bodo!"


Rafa membaringkan diri di samping Vallen sambil menempatkan tangan kirinya di bahu kiri Vallen. Tangis Vallen tersedu-sedu, kali ini ia tak berontak. Hanya saja bahunya naik-turun dan membuat Rafa tak kuasa. Ini bahkan lebih parah dari tangis Vallen karena putus dari Devan waktu itu.


"Pergi Fa! Gue pengen sendiri dulu, hiks ...."


***


Keduanya menggeleng.


"Anjir mulai lagi itu anak ngilang."


"Lah dia gak telat?" tanya Satria yang berusaha positif thinking akan ketidakhadiran seorang Devan.


"Gak."

__ADS_1


"Dan terjadi lagi ... kisah lama yang terulang kembali." Satria bernyanyi dengan pandangan yang kosong.


"Pasti besok kalo masuk dia bilang 'gue bolos'," ledek Satria yang padahal teman Devan sendiri. Saat kelas 10 dan kelas 11, Devan memang terkadang tidak masuk tanpa kabar dan alibinya setelah masuk di hari kemudian adalah bolos. Hanya saja ketiga sahabatnya ini tidak tahu alasan Devan sampai bolos, tidak tahu saat masalah apa dan kapan Devan bisa diprediksi bolosnya, karena hal itu benar-benar tidak tentu.


Bayu pun berjalan lagi ke meja Nasya untuk melengkapi laporan kehadiran murid hari ini. Satria dan Rafa ikut di belakangnya karena guru pun belum masuk. "Vallen sakit?" tanya Bayu saat melihat hasil tulisan tangan Nasya.


"Ha-ah. Kayaknya kecapean kemaren main sama Devan."


Mata Bayu langsung melotot ke arah dua sahabatnya. "Njir si Devan juga sakit jangan-jangan! Lah mereka main apa dah."


Rafa menyipitkan mata mendengar omongan Bayu.


Satria yang peka ikut terbelalak juga. "Jangan-jangan!"


"Heh! Vallen anak bae awas aja lo semua nuduh aneh-aneh!" protes Chela yang tiba-tiba saja bergabung bersama mereka.


"Lah orang bae atau jahat gak jamin Chel bisa nahan nafsu," timpal Satria.


Dan mereka pun melanjutkan perdebatan itu, sedangkan Rafa menyimaknya dengan tidak tenang. Hatinya berkecamuk, seperti bertanya mungkinkah Vallen berlaku aneh-aneh dengan Devan?


🍐 Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa vomment guysss


Makasiii 🥰


__ADS_2