
Devan belum pulang, ia masih berada di taman rumah sakit. Mendengarkan gemericik air yang setidaknya ia harapkan bisa membuat dirinya lebih baik. Rasanya semua sangat tiba-tiba. Mungkinkah ini adalah alasan yang selama ini Vallen sembunyikan darinya? Alasan putus yang tidak pernah gadis itu ungkapkan. Jadi karena Rafa?
Devan memandang beberapa orang yang berlalu-lalang. Temaram lampu taman malam ini yang paling dekat dan menemani keberadaannya. Hatinya seakan teriris melihat yang terjadi di ICU tadi. Astaga, sampai kapan Devan akan begini? Kapan ia bisa melupakan Vallen?
"Loh, Devan?"
Devan mendongak.
"Dokter?"
***
Setelah perbincangan antara Hilman dan dokter yang menangani Rafa tadi. Akhirnya disepakati bahwa Rafa dipindahkan saja ke ruang rawat inap. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Hilman dan orang tua Vallen mencari makan ke luar rumah sakit, alasannya karena tadi Vallen pun nitip dibelikan sushi, ditambah lagi orang-orang dewasa itu ingin memberi waktu untuk teman-temannya Rafa menghabiskan waktu dengannya.
"Val, nempel aja lo!" sindir Satria yang berdiri tepat di sebelah kursi Vallen. Ia daritadi menatap tangan Vallen yang tak melepas Rafa walau untuk sekejap saja.
Vallen menatap sinis cowok itu. "Masalah, hah?" ketusnya.
Karena mendapat respon Vallen yang menyebalkan, Satria pun akhirnya mengupil dan malah mengarahkan jarinya ke gadis yang songong tadi.
"Ihhhh!" pekik Vallen seraya menjauhkan tangannya. Ia lalu menoleh pada tunangannya. "Rafa ...." adu gadis itu.
__ADS_1
"Sat?" panggil Rafa.
"Iya ampun, Bang!"
"Misi ada yang bisa jelasin ke gue ini sebenernya ada apa?" tanya Bayu yang heran dengan Vallen dan Rafa.
Vallen melirik sebentar ke arah Bayu, ia lalu menggeser kursinya agar bisa mendekat ke wajah Rafa. "Nasya sama Chela udah tau," ucap Vallen pelan.
Rafa cukup terkejut, tapi ia juga mengerti, cepat atau lambat rahasia tentang pertunangannya pasti akan dibongkar atau pun terbongkar. Cowok itu pun mengangguk. "Suruh mereka aja yang jelasin ke Satria Bayu."
"Um."
Vallen menengok pada dua sahabatnya. "Chel, Nasy, setelah perundingan panjang antara gue sama Rafa, didapet satu keputusan kotak: Kalian yang jelasin sama dua bocah ini!"
"Iya!"
"Yodah, curut-curut ayo kita keluar." Chela mengibaskan tangan, mengarahkan Bayu dan Satria agar mengikutinya.
"Sengaja banget anjir Vallen nyuruh mereka yang jelasin. Biar bisa berduaan di sini!" tuduh Satria.
"Rafa yang nyuruh, mau apa lo?!" tantang Vallen sembari belotot.
__ADS_1
Satria balas melotot, ia kemudian mengupil lagi dan memberikan hasil tambangnya pada Vallen sebelum benar-benar keluar.
"Nyebelin!" jerit Vallen sembari mengusap-usap tangannya. Lalu dirinya cepat-cepat bangkit dari tempat duduknya dan bersiap untuk melempar Satria menggunakan kursi ini, tapi pintunya keburu cowok itu tutup. Maka darinya, Vallen memajukan bibir bawah seraya duduk kembali.
Ia pun menatap Rafa. "Kok tahan sih Fa duduk sama dia?"
Rafa menggeleng sambil tertawa kecil. Ia juga heran kenapa dirinya tahan, mungkin selama ini Satria pakai pelet.
Beberapa saat, tawa Rafa pun reda. Ia lalu memerhatikan Vallen. "Kok masih pake seragam?" tanya lelaki itu
"Kan abis dari sekolah gue langsung ke sini." Vallen menumpu dagunya dengan tangan yang ditempatkan di atas kasur Rafa.
"Nungguin gue?"
"Nggak, nungguin parkiran!"
"Dapet berapa penghasilan sehari?"
"Ih Rafaaa!" rungut Vallen sembari memasang wajah masam.
Rafa terkekeh, ia lalu menangkup pipi Vallen dengan satu tangannya.
__ADS_1
"Val."
"Hm?"