Pear

Pear
144


__ADS_3

"Mau berapa?" tanya Vallen yang mengintip Azka dari kulkas berpintu transparan.


"Dua!" jawab anak itu sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya seperti huruf V.


"Wah, udah bener sekarang ngitungnya. Azka pinter!" Vallen tersenyum seraya menyerahkan dua susu kotak rasa cokelat. "Nih, pegang sama Azka, yah?"


Vallen membayar itu lalu mereka pun pergi keluar kantin.


Di tengah jalan Azka berjongkok untuk membuka plastik sedotan dari salah satu susu kotaknya. Melihat dia yang ribet, Vallen pun ikut jongkok untuk membantu.


"Abang Es ada di kamar apa?"


"Gak tau," jawab Azka santai sambil menyedot minumannya. Ia pun kembali berdiri.


"Kok? Kalo gak tau gimana baliknya Azka?"


"Azka gak tau Abang Es ada di kamar apa, tapi Azka tau jalannya."


Vallen langsung bisa bernapas lega setelah itu. Malas juga jika seandainya harus mengurus tentang anak hilang malam-malam begini.


***


Di dalam kamar, Rafa tengah menatap buket bunga yang Vallen bawa sepulang sekolah tadi. Ia pun mengambilnya dan menemukan bahwa ada secarik kertas yang terselip.


Setelah dibuka, tulisannya adalah:


Have a nice day, Cloud-1

__ADS_1


-5


Kening Rafa berkerut, ia berpikir apakah mungkin maksud secret admirer Vallen ini Claudi?


Yang membuatnya tambah bingung adalah karena selama SMA panggilan tunangannya itu sudah bukan Claudi lagi. Pernah ia dengar perubahan nama panggilannya itu disebabkan oleh orang sekitar yang langsung memanggil nama depannya, Vallen.


Sedangkan Claudi ... hanya sebatas panggilan semasa kecil.


"Clau punya sandwich, mau?" tawar seseorang seraya mengasongkan kotak bekalnya yang sudah dibuka, itu adalah anak perempuan berwajah manis dengan mata almond yang jernih, saking jernihnya Rafa yang waktu itu bertubuh gembul pun bahkan bisa melihat pantulan dirinya sendiri di sana.


Saat itu mereka duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar. Di mana lagi kalau bukan di SD Tadinya Mesra. Karena bekalnya diambil oleh sang kakak, pula uang jajannya yang dirampas, jadilah Rafa berdiam diri di samping lapangan sambil memegang perutnya yang kelaparan.


Ini bukan pertama kalinya perempuan itu menawarinya makan, sudah menjadi kali kesekian yang tidak Rafa hitung juga.


Rafa dan Claudi, keduanya tidak satu kelas, mereka hanya tetanggaan saja. Rafa kelas 2A, dan Vallen kelas 2B. Satu hal yang tak pernah terjadi dalam pertemuan mereka; perkenalan. Hanya Rafa saja yang tahu nama Claudi karena ia sering memanggil dirinya sendiri dengan nama itu.


"Sama-sama. Mau nambah lagi gak? Clau mau ke kelas."


Rafa menggeleng.


"Dadah!" ucap Claudi sembari melambaikan tangan. Dan secepat kilat ia pun sudah hilang ditelan pintu kelas.


Rafa menghela napas jengah. Apakah secret admirer Vallen adalah teman SD-nya?


***


"Ibu, ada Kakak Cantik!" kata Azka saat ia dan Vallen sampai di depan kamar abangnya.

__ADS_1


Vallen tersenyum lalu salam kepada ibunya Azka. Kemudian datang seorang pria paruh baya yang berpakaian rapi dengan memakai kemeja biru tua dan jas hitam.


"Siapa?" tanya pria itu pada istrinya.


Ibu Azka tertawa kecil. "Dia waktu itu pernah nolongin Azka ngambil susu kotak waktu di supermarket."


Pria itu mengangguk-anggukan kepala. "Tadi Ayah denger Azka manggil apa? Kakak Cantik?" tanyanya pada sang putra bungsu.


"Iya!"


Ayahnya Azka kemudian tertawa. "Pinter yah, kecil-kecil udah tau mana yang cantik!"


Vallen ikut terkekeh.


"Kakak Cantik ayo ketemu Abang Es!" ajak Azka sembari menarik tangan Vallen untuk berjalan mendekat ke pintu kamar.


Sesampainya di sana, Azka pun melepaskan pegangannya agar bisa membuka gagang pintu. Mata Vallen menghadap depan sembari menunggu Azka yang mendorong pintunya.


🍐 Bersambung ....


...Jeng jeng jeng ......


...Siapa tuch Abang Es...


...Erkan? Devan? Frian? Putra? Marvel? Atau orang baru? Hiyaaa 😂...


...Jangan lupa vomment guys 🙌...

__ADS_1


...Makasiii 😘...


__ADS_2