
"Fa, gue mau cerita," kata Vallen yang berusaha menenangkan dirinya dari keadaan mencekam malam ini.
"Hm?"
"Pas masih di rumah lama, kalo ujan sambil ada guntur kayak gini, gue suka pindah ke kamar mamah papah, gue nyempil di tengahnya, terus dipeluk mereka biar gak ketakutan," dongeng cewek itu.
Ia menunggu jawaban dari Rafa, tapi nyatanya tidak ada sama sekali.
Saat menoleh, ternyata cowok itu sudah menutup matanya dengan ekspresi muka yang tenang.
Udah tidur?
"Rafa ih malah tidur duluan ...," protes Vallen dengan nada kekecewaan.
Mata Vallen teralih pada gorden yang menyajikan kilat entah ke berapa kalinya, tapi ini lebih terang dibanding sebelumnya.
Tak menunggu waktu lama, datang suara guntur yang luar biasa keras.
DUARRRR!
"AAAA!!!" teriak Vallen amat kencang.
Tangan kiri Rafa bergerak ke atas dan menutup telinga kanan Vallen. Rafa belum tidur sepenuhnya. Ia juga masih mendengar cerita Vallen tadi.
"Rafa! Rafa! Rafa!" panggil Vallen karena ingin Rafa bangun, ia makin mengeratkan pegangannya pada guling karena kilat datang lagi.
DUARRR!!!
"RAFA!" kali ini Vallen benar-benar takut, napasnya juga tak karuan. Ditambah lampu tiba-tiba saja mati.
__ADS_1
Namun saat itu juga Rafa melepaskan tangannya yang menutupi telinga Vallen. Ia menyingkirkan guling yang gadis itu peluk, kemudian memajukan tubuhnya agar lebih dekat. Setelah itu, ia menarik lengan kanan Vallen agar tubuh gadis itu miring jadi menghadap padanya. Tangan Rafa pun memegang kepala belakang Vallen, membuat wajah cewek tersebut tenggelam di sekitar ceruk leher dan dadanya.
"Diem, gue mau istirahat."
"Aaaa," rengek Vallen karena Rafa tidak ada niatan bangun.
DUARRR!
Lagi, Vallen terperanjat, dan saat ini ia makin menekan kepalanya ke dada Rafa.
"Tidur, biar ga denger guntur lagi," kata Rafa yang selanjutnya mengelus rambut Vallen agar gadis itu segera tidur.
***
Seorang cewek mengambil hpnya yang tadi tersandar di cermin. Ia baru saja selesai memakai sheetmask ke dengkulnya, nggak lah, ke mukanya. Cewek itu melempar dirinya ke kasur dan membenarkan bantal di belakangnya agar enak disandari.
"Aneh gak sih Nasy. Vallen sama Devan tuh keak ada garing-garingnya gitu. Hubungannya udah gak letoy kayak kanebo basah," ujar Chela sebagai kalimat pembuka di acara gosip via video call-nya bersama Nasya.
Nasya mengambil susu di kulkas lalu menuangkannya ke gelas.
"Heh anjir gue ngomong sama lo, Nasya!" kesal Chela.
"Woy!"
Kamera di sana pun mulai berputar hingga menampilkan sebuah sosok. "HAI!" sapa Nasya. Namun yang disapa langsung melempar hp-nya.
Chela kaget dengan makhluk hitam di sambungan itu.
"Gila-gila. Hantu jaman sekarang bisa sosmed-an?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
"Chel! Chela wey! Gue lagi pake masker charcoal ...." Suara kecil karena teredam itu timbul dari hp Chela.
Chela pun mengambilnya lagi dan memandang Nasya dengan tatapan yang datar. "Oh."
"Jawab pertanyaan awal gue tadi! Gue udah lupa pertanyaannya apa."
Nasya di sana terkekeh. "Iya-iya, gue juga ngerasa mereka gitu."
"Tadi gue nanya apa sih anjir?"
"NANYA NYADAR GAK LO VALLEN SAMA DEVAN JADI GARING?"
"Gak usah ngegas Maridoh!"
"Gue cuma ngulang, tadi nada lo segitu etdah. Gak nyadar suara banget."
"Oh, mang iya? YA ODAH SIH BODO AMAT, INI KITA LAGI NGOMONGIN VALLEN. ADA APA YAH MEREKA?"
"Chel sekali lagi lo teriak, gue matiin nih."
"Ih jangan kakaq."
"Besok deh kita tanya Vallen-nya. Mending gosipin yang lain dulu, jangan mikir yang nggak nggak sama sahabat sendiri."
"Asyiap .... Lo pernah nyium kentutnya si Parjo gak?"
"GILA GUE PERNAH! Pantes aja pada gak mau sebangku sama dia."
"Anjir sumpah itu kentutnya kek ...."
__ADS_1
***