Pear

Pear
Chapter 19 (1)


__ADS_3

Lihat kanan-kiri, atas-bawah, depan-belakang, semua sudah dilakukan Vallen. Ia juga telah selesai mengelilingi rumah orang tuanya, bukan untuk ritual atau apa, tapi Vallen mencari tempat agar Rafa bisa bersembunyi. Perempuan itu sekarang pun masih saja melangkah sekali pun tubuhnya sedang tidak enak. Wajahnya panik karena suara motor yang berhenti di depan rumahnya sudah terdengar.


"Ke mana?" tanya Rafa ikutan panik karena Vallen malah bolak-balik tak jelas. Sepatunya pun masih cowok itu jinjing.


Vallen berbalik badan dan menatap Rafa kesal. "Ish ikut pikirin dong! Tempat apa yang gak akan mereka masukin?"


"Kamar orang tua lo."


"Bener! Lo sembunyi di kamar gue!"


"Lah?" Rafa mengerutkan kening.


"Gue ceritanya istirahat di kamar ortu karena kamar gue lagi direnov. Mereka bakal curiga kalo dateng ke kamar gue tapi barang-barang gue yang ada cuma sedikit!"


"Oh."


Vallen menarik tangan Rafa untuk membawanya ke kamar, siapa tahu Rafa menyasar dan salah ruang kan soalnya dia belum pernah masuk ke kamarnya.


Mereka pun sampai di depan pintu bertuliskan nama Vallen. Mantan pemilik kamar itu membuka pintunya seakan mempersilakan mata Rafa untuk menangkap warna-warna pastel yang beterbaran di setiap sisinya.


Ting nong ....


"Tunggu di sini yah," kata Vallen sebelum meninggalkan cowok itu.

__ADS_1


Rafa berdehem. Vallen pun menutup pintu kamarnya dan berjalan ke depan rumah. Saat kakinya menapaki ruang tamu, ternyata pembantunya sudah membukakan pintu untuk teman-temannya.


"Vallen ...," lirih Chela dan Nasya yang langsung memeluk. "Cepet sembuh ya!"


Vallen tersenyum menanggapi omongan mereka.


Tak lama Chela pun melepas pelukannya, kemudian memegang leher dan kening Vallen. "Masih mayan anget."


"Tapi lo gapapa kan Val?" tanya Nasya.


"Gapapa."


"Uohok," batuk Satria karena merasa kedatangannya dikacangi, padahal dia dan dua cowok lainnya sudah membawa barang masing-masing. Satria dengan seperangkat buah-buahannya, Bayu dengan seperangkat roti-rotiannya, dan Devan dengan seperangkat buku yang tidak dibayar.


Vallen tersenyum simpul. "Buat gue kan itu?" tanyanya pada Satria.


"Buat gue ini mah!" Satria memeluk parsel buah dengan erat seolah tak boleh ada seorang pun yang mengambilnya.


"Gak usah bawa-bawa ke sini kalo gitu ceritanya!" protes Vallen.


Devan menyimpan barangnya di atas lantai, ia pun melangkah maju mendekati Vallen. Mengerti akan hal tersebut, Chela dan Nasya bergerak menjauh.


"Apa yang sakit?" tanya Devan lembut.

__ADS_1


Vallen tak perlu mendongak untuk menatapnya balik sebab cowok itu telah membungkukkan badannya. Jujur, Vallen bingung jika ditanya begitu, ia juga tidak bisa menjelaskan secara spesifik apa yang sakit, seperti meriang pada umumnya saja. Maka untuk menjawabnya, ia hanya bisa menggeleng.


"Udah makan berapa kali?"


"Satu."


"Kapan?"


"Pagi."


"Makan lagi yah?"


"Gak mau."


"Tante ada yang pacaran ...," adu Satria pelan yang tentu mengganggu kedua manusia itu.


Vallen langsung belotot ke arah Satria karena mamahnya tidak tahu ia pacaran dengan Devan. Yang Aya tahu, Vallen dan Devan berteman. Itu saja.


"Gue suapin Val." Devan melanjutkan obrolannya.


"Gak usah, makasih."


Mendengar Vallen bicara seperti itu ... ada sebagian dari diri Devan yang merasakan sesak. Dulu Vallen tak pernah menolaknya, bahkan sekali pun ia sudah kenyang jika Devan suapi masih saja masuk.

__ADS_1


__ADS_2