
"Mangap mangap. Aaaaaa." Vallen membuka mulutnya lebar sewaktu menyuapi Rafa.
"Ayo Fa Jelek ayo ayo. Buka mulutnya, pesawat mau mendarat. Ngengggg."
Vallen memainkan sendoknya di udara. Rafa pun membuka mulutnya sedikit. Ya tak apalah, setidaknya Vallen masih bisa menyuapkan makanannya.
"Val," panggil Rafa seusai mengunyah.
"Ha?"
"Besok gue latihannya di lapang basket deket apartement Devan."
"Kenapa gak di sekolah?"
"Dipake anak eskul lain."
"Ohh gitu."
"Lo ikut ya," pinta Rafa.
"Hah?"
"Ikut gue ke mana pun gue pergi besok."
"Mmm, bukannya gak mau ..."
Vallen menggembungkan pipinya saat menyendoki makanan lagi.
... tapi ada Devan.
"Nurut sama tunangan."
"Nurut tuh sama suami," gerutu Vallen.
"Ya gue kan calon suami lo." Rafa langsung mencapit hidung Vallen menggunakan jari tengah dan telunjuknya. "Ikut gak?"
"Aaaa," rengek Vallen dengan suara sengau. "Iiiiya' i'qut!"
__ADS_1
Setelah mendengarnya, Rafa tersenyum tipis dan langsung melepaskan hidung Vallen yang disambut dengan dengusan sebal dari gadis itu.
***
Seperti apa yang Rafa bilang kemarin, akhirnya Vallen ikut anak basket ke lapangan dekat apartemen Devan. Bukan hanya Rafa sebenarnya yang mengajak, tapi itu kesepakatan yang lain juga karena takut terjadi sesuatu pada Vallen atas teori yang Bayu sampaikan pada Devan waktu itu. Tadinya cewek itu mau diantar langsung ke rumah, tapi Rafa menolaknya dengan alasan takut terjadi sesuatu dengan Vallen–kenyataannya sih dia tidak mau ditinggal istrinya saja. Sekali pun Vallen berada di rumah, tak ada yang menjamin juga kan bahwa secret admirer itu tidak mengusiknya.
Dan saat ini Vallen sedang memakan snack di pinggir lapang sambil asik menonton para cowok bermain. Decitan sepatu mereka meramaikan bunyi yang ditangkap oleh indra pendengaran Vallen. Gadis itu menikmatinya apalagi langit sore ini sedang indah-indahnya. Walaupun pikirannya sesekali dimunculi oleh tragedi kemarin, tapi Vallen usahakan untuk rileks sekarang.
Dilihatnya Devan yang menangkap bola hasil operan Bayu, lalu langsung ia lempar ke ring.
Dug!
Dug dug dug!
Dug ...
Dug dug dug!
Jika kalian pikir itu suara pantulan bola, bukan. Namun jangan pikir itu suara bedug juga, suara tadi dihasilkan dari batu yang mendarat di area lapangan. Tiba-tiba ada serangan batu bertubi yang untungnya berhasil anak basket Arcturus hindari, tapi ada beberapa juga yang mengarah pada Vallen, hingga membuat Rafa dan Devan berlari mendekat pada gadis itu. Gadis yang sedang menghalangi wajahnya menggunakan tangan sebagai perisai.
"Woy!" teriak Devan yang ia tujukan kepada siapapun yang melakukan ini.
"Val, lo gapapa?" tanya mereka berdua serempak. Sesaat dua cowok itu berpandangan, tapi kembali terarah pada Vallen.
Vallen menurunkan tangannya, lalu mendongak melihat Rafa dan Devan.
Langkah kaki orang yang berlari mengalihkan perhatian mereka semua. Ternyata ada orang-orang keluar dari semak-semak yang sepertinya jadi tempat persembunyian daritadi. Mereka semua menaiki motor, lalu menggerungkannya dengan keras. Beberapa dari mereka juga tak segan membuka kaca helmnya dan menunjukkan wajah angkuh, terutama orang yang motornya berada di paling depan. Ia mengangkat jari tengahnya sambil tersenyum meremehkan.
"Bangs*t!" teriak Bayu yang kenal orang itu, ketua basket SMA Canopus.
"Bro!" Satria memanggil kawan-kawannya. "Anak Canopus cupu! Mainnya lempar-lemparan batu KAYAK BOCAH!"
"Oh jadi let's play kemaren tuh kerjaan mereka? WOY LO SEMUA NGAJAKIN KITA MAIN BATU? GAK SEKALIAN MAIN GUNDU? HAH?!" ujar Bayu menanggapi, lalu yang lain pun tertawa.
"Bacot lo semua, ANJING!" teriak orang yang mengangkat jari tadi.
"Lo gak punya nyali hah? Bisanya nerror doang!" Devan mulai angkat bicara dan maju beberapa langkah.
__ADS_1
"Jangan banyak omong lo ketua basket Arcturus alias sekolah TAI!"
Semua murid yang memakai jas SMA Canopus itu pun tertawa merendahkan di atas motor sport-nya masing-masing.
"Njing!" umpat Bayu yang tersulut emosi, ia hendak meninggalkan lapangan untuk menghajar ketua basket Canopus itu. Namun dirinya ditahan oleh yang lain.
Motor digerungkan lagi, kemudian mereka pun menjalankannya hingga menjauhi lapang, tapi sang ketua basket Canopus berteriak sebelum pergi. "Kita tunggu lo semua di final!"
"PD AMAT LO MASUK FINAL!" balas Bayu.
"Sekolah kita basketnya udah pro, emang lo pada? Amatiran semua!" Setelah itu, motor mereka benar-benar tak terlihat lagi di pandangan anak SMA Arcturus.
"Sial*n!" caci Devan seraya mengatur emosinya. Ia lalu melirik lagi ke Vallen. "Kena?"
"Nggak."
"Syukur deh." Ia pun berbalik menghadap yang lain. "Kalian gapapa juga?"
"Gapapa," jawab mereka.
"Itu ada kertas!" kata Vallen sambil menunjuk batu-batu sebesar kepalan tangan yang berserakan.
Rafa pun mengambil salah satu yang paling dekat. "Siap kalah?" bacanya.
"Mereka yang bakal kalah!" ucap Devan optimis.
"Keterlaluan mereka, ini udah ngancem nyawa seseorang," omel Vallen.
"Manusia biadab kayak si Erkan mana ngerti kalo yang kayak gini udah sadis namanya!"
Rafa melihat Bayu masih saja emosi.
"Gak ada akhlak emang, pasti dia jadi provokator temen-temennya!" tebak Satria.
Jauh di pikiran Rafa, ia tengah kebingungan. Erkan, nama itu tak asing di telinganya dan teman-teman, toh mereka memang sudah sering tanding basket dalam bermacam event yang digelar. Dan Rafa yakin jika Erkan tahu bahwa ketua basket Arcturus namanya "Devan". Namun kenapa dirinya yang diberi teror, sedangkan Devan hanya mendapat sama seperti apa yang Satria dan Bayu dapat? Apakah teror kemarin salah alamat? Tapi jika begitu kenapa tertulis jelas nama Rafa di atas kotaknya?
🍐 Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa vomment guysss
Makasiii 🥰