
Mata Vallen seketika terpejam, mengetahui dirinya akan dihujam oleh kayu-kayu yang jatuh di atasnya. Kemudian suara bising pun mulai bergemuruh. Vallen langsung merapatkan dirinya pada Devan yang memang berada di pojok.
Satu hal yang membuat Vallen terlindungi, tangan kiri Devan sigap menangkis beberapa kursi yang hendak menjatuhi tubuh mereka, dan satu tangannya lagi menahan meja di hadapannya agar tidak menimpa.
"Loh kok jatoh?" tanya salah satu bapak-bapak.
Vallen langsung membuka mata.
"Gak bener kali nyusunnya," jawab si bapak yang satunya lagi.
Pintu ruang cctv yang masih terbuka lalu diketuk seseorang. "Suara apa tadi, Pak?"
"Itu jatoh."
"Ohhh. bisa bantu saya di ruang server?"
"Bisa-bisa, kami ke sana."
Bapak-bapak itu pun pergi.
Vallen menoleh ke belakang dengan posisinya yang masih jongkok. Satu gerakan kecil darinya saja sudah membuat kekacauan separah ini.
"Lo gapapa?" tanya Devan.
Vallen mengangguk, kemudian mengecek tangan kiri Devan yang dipakai untuk menangkis kursi tadi. Tidak ada yang lecet sih.
"Kalo memar kompresin es ya?" saran Vallen karena dirinya tidak bisa melakukan itu.
Devan mengangguk kecil.
Mereka berdua lalu berdiri, kemudian melangkahi kursi-kursi yang berserakan, lantas pergi keluar ruangan tersebut.
__ADS_1
"Devan makasih," ucap Vallen setulus hati.
"Um."
Ponsel Vallen berbunyi. Bukan karena ada yang menghubunginya, melainkan karena alarm yang memang diaturnya.
"Dev, maaf ya. Kayaknya gue gak bisa lanjutin kerkom hari ini, gue harus pergi. Sorry sekali lagi." Vallen sedikit membungkuk. "Bye," pamitnya sebelum berlari meninggalkan cowok itu.
Devan melihat jam tangan hitamnya. Tepat pukul 4 sore, dan bisa jadi Vallen pergi ke rumah sakit karena tepat pukul 16.00 ini jam besuk ICU sudah mulai dibuka. Lelaki itu menghela napas.
"Bro! Mau ikut jenguk Rafa?" tanya Satria dan Bayu yang berjalan sambil makan gorengan. Nyatanya mereka juga belum pulang.
"Gak dulu deh, ada yang mau dateng ke apartemen gue."
"Sip. Duluan, Dev!"
***
"Makan malam dulu, Sayang," suruh ibunya Devan yang berkunjung untuk mengecek kesehatan anaknya.
"Nanti ya Bu. Mau ke kamar sebentar."
Devan duduk di tepi kasur sembari membuka resleting tas Rafa. Ia tahu ini tidak sopan, tapi siapa tahu ada hp Rafa dan ia bisa menemukan secercah jawaban atas pertanyaan besarnya.
Dan benar saja ternyata, hp Rafa masih berada di tasnya dan berada dalam keadaan mati. Devan mengaktifkannya, lantas membuka aplikasi chat yang memang tidak pernah Rafa password.
Matanya mengamati setiap nama yang ada dalam obrolan terakhir anak itu. Nihil, tidak ada Vallen. Entah harus bahagia atau bagaimana, intinya Devan masih janggal. Namun kenapa tidak ada satu pun pesan yang Rafa sampaikan pada Vallen?
Masih penasaran, Devan pun mengeluarkan buku-buku Rafa dan membuka halamannya satu persatu, siapa tahu Rafa gabut hingga menuliskan nama Vallen di sana. Tidak juga, yang ada hanyalah sketsa bangunan yang memang suka Rafa gambar.
Devan membalikkan tas Rafa dan menggoyangkannya hingga semua isinya keluar. Lalu munculah satu benda yang seketika jatuh menuruni kasurnya.
__ADS_1
Pulpen biru muda bermotif kucing.
"Val, kaki lo gak ada capenya ya jalan-jalan?" tanya Devan yang merasa mereka sudah lama berkeliling mall dan setiap tokonya.
Vallen tertawa. "Kalo dibawa jalan-jalan gini kaki gue gak mau berhenti!" Cewek itu pun memegang lengan Devan dan membawanya berjalan beriringan dengannya. Hingga langkah kecilnya berhenti saat menghadap pulpen di atas rak.
"Lucuuu."
Devan tersenyum. "Mau?"
"Mau!"
Devan pun mengambil itu dan menyerahkannya pada Vallen agar memegangnya dulu sebelum dibayar nanti. Kemudian mereka kembali berjalan-jalan dengan mata Vallen yang berbinar melihat berbagai alat tulis yang menggemaskan di sana. Namun pada akhirnya dirinya memang hanya ingin membeli pulpen itu saja. Tak boros uang berjalan-jalan dengan Vallen, hanya harus siapkan tenaga saja jika membawanya ke tempat yang indah. Gadis itu ingin mengeksplor setiap sudutnya!
Devan terdiam, ia mengambil pulpen yang ada di sebelah kakinya. Mungkin dugaannya benar, Vallen dan Rafa ada apa-apa, kalau tidak ... bagaimana bisa pulpen Vallen ada di tas Rafa jika keduanya tak dekat? Tak sengaja Rafa bawa? Cowok itu bukan tipe pemungut pulpen saat murid lain sudah meninggalkan kelas. Atau pulpen ini kebetulan sama? Tapi Rafa tak mungkin memilih yang ada motif kucingnya.
Hati Devan terasa remuk, jika seandainya Vallen memiliki kekasih baru pun, biarlah ia dengan orang yang tidak dikenalnya. Dengan begitu rasa sakit dalam diri Devan tidak akan terlalu berasa. Namun jika malah dengan sahabatnya sendiri seperti ini ... entahlah, Devan tidak bisa mengungkapkan apa-apa lagi. Dalam hidupnya mulai sekarang, cowok itu tak hanya kehilangan orang yang ia sayang, tapi Devan juga kehilangan Rafa sebagai sahabat yang selalu mengerti permasalahannya.
Di tengah perkecamukan hati itu, hp Devan berbunyi, panggilan dari Satria.
"Hm?" sapa Devan lemas.
"RAFA CODE BLUE!" teriak cowok itu dengan panik.
š Bersambung ....
Code blueĀ adalah salah satuĀ kode gawat darurat di rumah sakit.Ā KodeĀ ini menandakan bahwa ada pasien yang mengalami henti jantung atau gagal napas dan perlu segera mendapatkan pertolongan.
Jangan lupa vomment gaisss
Makasiii š„°
__ADS_1
Oh ya, jangan lupa juga siapin hati buat part selanjutnya ... :(