
Ina berusaha menggapai apa yang tak bisa ia jangkau, maka darinya cewek itu berjinjit. Tatapannya fokus pada rambut Rafa, di mana banyak daun berjatuhan di sana, lebih tepatnya sobekan daun kering yang ukurannya kecil-kecil.
Ina menyingkirkan itu semua menggunakan tangannya sendiri. Sedangkan Rafa yang sudah tidak terlalu perih matanya, sekarang bisa dengan jelas melihat wajah Ina. Wajah yang pernah mewarnai harinya. Lesung pipi yang pernah menenggelamkannya dalam kemanisan dan kelembutan Ina. Lagi-lagi hati Rafa tidak kuasa dengan segala perkecamukan yang ada di dalamnya. Ditambah lagi ia merasa Ina berada di jarak yang tidak aman. Gadis itu terlalu dekat, sampai-sampai Rafa yang melihat wajahnya pun jadi juling. Rafa berpikir apakah rasa tak karuan hanya dia yang rasa? Apa Ina melupakan semua yang terjadi saat dua tahun lalu?
Rafa meneguk ludahnya, beberapa saat ia masih membiarkan Ina dengan jarak seperti itu, tapi lama-lama hatinya tidak kuat juga. Lagipula Rafa tidak boleh terbuai dengan kebaikan Ina. Karena sadar hal tersebut, Rafa pun mundur selangkah, membuat ujung kaki Ina yang tadinya tertahan oleh sepatu Rafa jadi tidak punya tumpuan, terlebih lagi kepala Rafa yang tiba-tiba menjauh. Otomatis tubuh gadis itu terhuyung ke depan.
Ina terkesiap karena tubuhnya tak siap. Baiklah, ia hanya harus menunggu waktu untuk jatuh karena dirinya tak percaya Rafa akan menolong.
Namun pikiran Ina salah, sebelum jatuh, tangan kiri Rafa berhasil menahan tangan kanan Ina. Tak sampai berpelukan karena Rafa sangat mencegah hal itu terjadi, tenaganya masih lebih dari kuat untuk mempertahankan Ina berdiri.
Setelahnya, Rafa melepas tangan itu, kemudian berjalan meninggalkan Ina seraya mengacak rambutnya sendiri untuk menyingkirkan daun.
Beberapa detik berikutnya, ia pun sampai di ruang guru. Kakinya mulai memasuki area tersebut. Namun aneh, mata Rafa tidak menemukan Bu Anggi di mejanya. Hingga seorang guru di sana tergerak untuk bertanya kala melihat Rafa yang sedikit kebingungan.
__ADS_1
"Nyari Bu Anggi?"
"Iya, Pak."
Bapak guru itu membenarkan posisi kacamatanya. "Bu Anggi tidak ada jadwal hari Selasa, jadi tidak masuk hari ini."
Orang yang mendengar penjelasan tersebut mengerutkan kening dan segara melihat ke arah luar. Ina hilang.
***
Suara pantulan bola basket dan decitan sepatu di lapangan meramaikan sekolah yang semakin sepi. Murid-murid sudah banyak yang pulang, yang tersisa adalah mereka yang punya jadwal ekskul saja dan ... mereka yang masih punya urusan lain.
Seperti Vallen, Chela, dan Nasya. Chela yang masih menunggu Ina menghadap Bu Lucy di ruang guru, Nasya yang menunggu mobil jemputannya, serta Vallen yang menunggu Rafa mewujudkan syarat yang ia ajukan.
__ADS_1
Mereka sedang duduk di pinggir lapangan. Vallen dan Chela menggunakan waktu untuk menghitung uang hasil palak di kelas tadi. Apalagi kalau bukan uang kas. Sedangkan Nasya, dia menonton para cowok yang sedang latihan basket.
"Chel, itu Ina udah keluar," kata Vallen yang tak sengaja melihat ke ruang guru.
Chela dan Nasya pun mengalihkan mata ke cewek tersebut, cewek yang tengah berjalan kemari dengan muka masam.
Chela menaikkan satu alisnya dan bertanya dengan nada ragu. "Gapapa?"
Ina memiringkan muka sambil menatap Chela lekat. "Gapapa ..., cuma disuruh minta maaf doang."
"Tuh kan! Lo sih malah kabur duluan tadi!"
"Ya gue syok lah! Lo yang udah ngomongin itu guru pas kemaren, katanya galak gila pawrahhh, 'lo kalo ngapa-ngapain bakal diterkam'. Gue jadi parno sendiri!" oceh Ina yang dibalas kekehan Chela karena ia baru ingat omongannya kemarin.
__ADS_1