
Ina yang ditinggal Marvel merasa omongannya salah. Karena dengan ia berkata begitu, artinya dia hanya bersama dengan Frian di ruangan ini. Gadis tersebut membuang muka, tidak mau melihat Frian yang bahkan sudah menatapnya lekat.
Tiba-tiba cowok itu pindah duduknya menjadi di sebelah Ina, membuat Ina terperanjat dan ingin pergi, tapi tak bisa. Tangan dan kakinya diikat.
Ia sempat menggeser duduknya. Namun percuma, Frian makin mendempetkan dirinya bahkan mulut cowok itu mendekat ke wajah Ina. Hal itu tentu membuat Ina memundurkan tubuhnya yang mentok-mentok malah menyender ke sandaran sofa. Ina membuka matanya lebar saat Frian makin dekat. Dekat dan terus dekat. Gadis itu segera memejamkan matanya.
"Apa kabar?" tanya Frian tepat di dekat pipi dan telinga Ina. Suaranya mampu membuat Ina merinding seketika. Ina tak menjawab dan hanya menyipitkan mata.
Tak lama dari itu, langkah Marvel kemudian terdengar oleh Frian, membuat cowok itu langsung duduk di tempat semula.
"Nih minum," kata Marvel sembari menyodorkan gelas.
Ina mendongak melihatnya. "Mau pulang ...," pintanya dengan nada gemetar.
"Tetep di sini lebih lama lagi, Na."
"Mar, mau pulang ...."
"Sore."
"Sekarang!"
"Nanti."
"Mau sekarang!"
"GUE BILANG NANTI!" Marvel membanjur Ina dengan air dari gelas yang masih dipegangnya.
__ADS_1
***
"What you gonna do when I come come through with that that uh uh huh ...." Nasya bernyanyi mengikuti alunan lagu yang terputar di ponsel Chela.
Si pemilik ponsel juga ikut bernyanyi. "What you gonna do when I come come through with that that uh uh huh ...."
"TEKWAN TEKWAN TEKWAN LIKE FIRE!" sambung Satria heboh sambil mengangkat satu tangannya.
Turutut tutut tutu turutut tutut tutu
"TEKWAN TEKWAN TEKWAN LIKE FI-mmm!"
Sepotong roti yang ukurannya besar langsung Chela jejalkan ke mulut cowok itu. Salah siapa ganti-ganti lirik!
Namun dengan senang hati Satria memakannya, malah setelah itu ia berterimakasih pada Chela. "Tau ae lo gue pengen itu, cuma malu ngambilnya tadi."
Chela menarik ujung bibir atasnya. "Hah? Malu? Gue kira malu lo udah dijual ke kang loak!"
Yang lain tertawa mendengar keributan mereka. Beda halnya dengan Satria yang meneguk minumannya kesal. Dan kemudian meminta izin ke kamar mandi karena ingin pipis. Vallen mengangguk.
Cowok itu pun menjauhi keberadaan teman-temannya.
You have slain an enemy.
Satria memicingkan mata mendengar suara tersebut. Ia lalu mendekati sumbernya yang mana ternyata dari dalam kamar.
Satria bingung saat melihat nama Vallen di pintu tersebut. Apakah tukang renovnya main game di dalam? Ia pun mendekatkan lagi telinganya sampai pintu yang ditekannya menimbulkan suara.
__ADS_1
***
Rafa yang ada di dalam sana langsung terkejut karena sepertinya ada yang menguping.
Double kill!
Ia membelalakkan mata dan segera mengecilkan volume suara.
***
Satria mengerutkan kening, ia menggaruk rambut keheranan, dan langsung pergi saja ke kamar mandi.
Seusainya, Satria duduk lagi di karpet depan sofa. "Val, tukang renov kamar yang lo bilang malu-malu kucing malah main game tuh!" adunya yang membuat Vallen tercengang.
Kemudian suara seseorang yang sedang mengetuk memakai palu terdengar jelas di telinga mereka.
Dok tok tok!
Chela langsung menoleh pada Vallen. "Val? Katanya tukang lo lagi ngecat?"
Vallen mengepalkan tangannya. "Oh iya, itu kan ngecat cara baru, pake palu!"
RAFAAA!!! pekiknya dalam hati.
🍐 Bersambung ....
...✨ Jangan lupa vommentnya gaisss ☺️...
__ADS_1
...Jangan jadi silent reader pleaseee 🥺...
...Makasih ✨...