Pear

Pear
161


__ADS_3

Disaranin sambil denger lagu 'One Last Cry', bukan apa-apa sih, takut cringe aja pas nanti ada scene lagu itu.


Selamat membaca part-part terakhir Pear ☺️


***


Di depan ruang IGD, yang Rafa dan Vallen temukan hanyalah teman-teman mereka. Lalu dua pasang kaki itu melangkah, dan dua hati itu tidak berhenti untuk berharap bahwa Devan akan baik-baik saja.


Satria bangkit duduk dari kursi tunggu. Rautnya datar saat menyambut kedatangan Vallen dan Rafa, beda sekali dengan ia yang biasanya ceria juga seringkali tertawa tak jelas.


Kemudian Bayu yang masih duduk hanya menunduk.


Vallen melihat sekitar, Nasya dan Chela pun sama saja muramnya. Semua aura yang bisa Vallen rasakan dari setiap temannya sangatlah tidak bersahabat, membuat jantungnya berdebar makin cepat. Lalu, ia pun mendekati Satria dan bertanya, "Devan gimana, Sat? Orangtuanya belum dateng ya? Udah dihubungin belum?"


Satria bungkam.


Rafa menatap sahabatnya itu dengan lekat tanpa bereaksi apapun.


Lima detik.


Sepuluh detik.


Rafa masih setia menunggu jawaban, hingga lama-lama merasa kesal.

__ADS_1


"Sat!" panggilnya cukup keras. Namun, Satria hanya menoleh padanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Masih berusaha, Vallen kemudian menunduk melihat Bayu. "Bay, Devan gimana?" tanyanya penuh harap.


Tak ada yang berbeda dari reaksi Bayu dengan Satria. Mulut mereka seakan terkunci.


Hati Vallen pun semakin tidak tenang, ia lantas berbalik menghadap ke arah Chela dan Nasya yang berdiri di pinggir pintu IGD sambil menahan isak tangisnya. "Chel, Nasy?"


"Woy, gak ada yang mau ngasih kita jawaban hah?" tanya Rafa geram. Terlebih tangannya mulai terkepal, rasanya Rafa ingin menghajar Satria dan Bayu yang diberi anugerah untuk bisa bicara, tapi tidak mereka gunakan.


Segera, ia pun menarik kerah seragam Satria dan mencekalnya dengan erat. Sorot mata Rafa berbicara, menjelaskan bahwa ia marah, bahwa ia khawatir, dan yang Rafa butuhkan hanyalah penjelasan.


Bayu langsung berdiri, menginterupsi Rafa sebelum cowok itu membuat keributan di sini.


"Ikut kita," suruhnya dengan pandangan kosong, sekaligus mengangguk pada Chela, Nasya, serta Satria. Keenam orang itu pun beranjak pergi.


Kemudian, waktu Vallen seketika berhenti seiring Bayu yang menghentikan langkahnya.


Lorong yang mereka pijaki sepi, sunyi. Dan lorong itu sudah tidak asing bagi Vallen. Beberapa bulan lalu ia mau tak mau harus ke sini, demi menemani bundanya Rafa.


"ABANG ES!!!" teriak anak kecil dari dalam kamar. Anak itu menjerit, menangis. Dan Vallen amat mengetahui bahwa itu adalah Azka.


Vallen langsung menerobos masuk pintu ruang tersebut. Kemudian ia dapati Azka, orangtua Devan, dan seorang dokter yang pernah tak sengaja bertabrakan dengannya—Meisha, sedang melingkupi seseorang. Orang yang tengah terbaring dengan tudung putih melingkupinya.

__ADS_1


Rafa menyusul Vallen. Kemudian saat kakinya baru sampai di sebelah tunangannya ....


"Doain Devan yah," pinta ibunya Devan pada sepasang insan itu. "Doain biar dia tenang di sana. Kalo Devan ada salah, maafin ya?"


Seketika dunia Vallen terasa hancur. Hantaman keras menimpanya. Kemudian air mata itu jatuh tanpa harus diminta.


Azka berjalan mendekat pada Vallen. Anak itu mendongak dengan tangis yang masih tersisa. "Kakak Cantik! Abang Es marah sama Azka, makanya gak mau buka mata," ujarnya, membuat tangis Vallen semakin pecah, dan gadis itu pun langsung memeluk Azka.


Orang tua Devan beserta Meisha lalu izin kepada Rafa untuk keluar ruangan. Mereka ingin memberi waktu bagi Rafa dan Vallen sebelum Devan dipindahkan.


Rafa berjalan gontai menghampiri brangkar. Kemudian perlahan dirinya membuka kain penutup. Lelaki itu masih berharap ini semua hanya mimpi. Devan, sahabat baik yang menemaninya selama ini tak mungkin pergi, ya kan?


Namun, saat dengan jelas matanya melihat sosok Devan di sana, benteng pertahanan Rafa yang masih ia tahan-tahan daritadi pun akhirnya runtuh juga. Rafa menangis, tubuhnya merosot hingga ia terduduk di atas lantai. Segala sesal baru lelaki itu rasakan. Rafa telah menjadi orang jahat karena sudah mengambil Vallen, seseorang yang bahkan menjadi salah satu sumber kebahagiaan Devan selama ia masih hidup. Dan memori tentang waktu yang ia habiskan bersama Devan, Satria, dan Bayu pun tiba-tiba terputar. Dari bermain basket bersama, menginap di rumah salah satu dari mereka jika sedang liburan, bercerita, dan banyak hal lagi.


"Gue minta maaf, Dev," ucap Rafa sembari menitihkan air matanya.


Vallen menuntun Azka saat mendekati Devan. Jelas dengan matanya sendiri ia melihat mantannya itu sebab Rafa tidak menutup kainnya kembali tadi.


"Dev, bangun .... Lo pasti marah bukan karena Azka. Karena gue kan? Karena gue udah sering nyakitin lo, ya kan?"


"Dev .... gue minta maaf. Ayo dong buka mata lo. Jangan diem gitu, gue gak suka."


"Devan! Gue bakal jaga diri gue baik-baik, tapi lo jangan gini. Lo harus bangun. DEVAN!!!" Vallen mengguncangkan tubuh lelaki itu dengan kasar. Kemudian Rafa berusaha menenangkannya dan mencoba menarik Vallen menjauh.

__ADS_1


"Devan jangan tinggalin gue .... Fa, suruh Devan bangun. Rafa, gue mohon, hiks. Rafa!!!" Vallen memukul dada Rafa karena cowok itu tak mau menurut. "Suruh Devan balik, gue gak mau dia pergi ...."


***


__ADS_2