
"Hah? Devan gak masuk tanpa kabar lagi?" tanya Nasya setelah Bayu lapor padanya.
Vallen yang baru datang segera menyimpan tas di sebelah Nasya. "Kayaknya masih sakit."
Nasya mendongak, melihat temannya itu yang baru saja mau duduk. "Sakit apa, Val?"
"Demam sih."
"Hooo."
"Devan pasti kecapean pacaran sama lo kemaren ya Val?" celetuk Ina di belakang mereka. Gadis berlesung pipit itu tersenyum, sedangkan yang lain menatap Vallen dengan bingung.
Bayu yang berdiri di ujung meja dekat Nasya menempatkan kedua lengan bawahnya untuk menumpu ia yang sedang bungkuk, sengaja untuk mendekatkan wajahnya dengan Vallen. "Lo sama Devan ke mana aja sih? Si Rafa kemaren marah anjir. Kalian berdua gak ada yang bisa dihubungin," ucapnya dengan volume pelan.
"Beneran marah?"
"Iyalah. Rafa juga bisa marah."
Vallen mulai menceritakan kejadian sebenarnya, tak perlu menyuruh Nasya, Satria, dan Chela untuk mendekat, toh mereka sudah semangat dengan sendirinya. Beruntung, Ina tidak ikut-ikutan karena tengah mengerjakan PR yang belum usai. Satu hal yang tidak Vallen ceritakan, perihal rambut itu.
Setelah beres bercerita, Vallen pun meminta pendapat pada teman-temannya.
__ADS_1
"Pulang sekolah ini lo harus langsung ke rumah sakit, jangan kemana-mana lagi. Trus jelasin yang benernya, percaya sama gue, Rafa pasti paham," saran Bayu.
Vallen melihat jarinya yang ia ketukan di meja. "Hmm, gue masih mikir buat jelasin yang sebenernya atau mau gimana."
Lalu tiba-tiba gadis itu ingat sesuatu, membuatnya langsung menoleh pada Bayu dan Satria. "Eh, Bay, Sat."
"Oy."
"Boleh minta tolong gak?"
Satria dan Bayu mengangkat dagunya.
"Cek Devan ya pulang sekolah nanti, kabarin ke gue keadaannya gimana," pinta Vallen penuh harap yang disambut dengan tatapan heran dari dua anak itu. Vallen sungguhan khawatir dengan keadaan Devan. Namun jika bertanya langsung pada orangnya, takutnya cowok itu berpikir yang bagaimana.
***
Vallen membawa sebuket bunga ke dalam kamar Rafa, bukan inisiatifnya untuk membeli itu, tapi lagi-lagi hal tersebut merupakan pemberian secret admirer-nya. Lumayan juga sebenarnya untuk ajang minta maaf sore ini.
Gadis itu duduk di samping Rafa yang seakan tidak menganggap tentang kedatangannya.
"Fa," panggil Vallen. Namun seketika Rafa malah memejamkan mata.
__ADS_1
Vallen menghela napas untuk mencoba sabar, lagipula ini salahnya juga. Gadis itu menyimpan bunga di atas nakas. Kemudian perlahan tangan dia menyentuh jari jemari Rafa, sebelum akhirnya benar-benar menggenggam itu dan menunduk menatap tangan mereka.
"Fa Jelek mikir aneh-aneh kemaren?" tanyanya lembut.
Rafa masih tidur, tapi Vallen yakin ia hanya pura-pura saja.
"Fa, lo kenal gue kan? Gue gak mungkin lakuin yang nggak-nggak. Ciuman aja gak pernah," jelas Vallen.
"Sorry banget, tapi kemaren tuh ..."
Rafa membuka mata, sekilas melirik Vallen. Namun alasan dia bangun adalah karena ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Selang beberapa detik, pintu pun terbuka, nyatanya seorang suster.
"Sore Rafa ... sekarang waktunya fisioterapi."
"Iya," jawab Rafa dingin.
"Padahal gue belum beres ngomong," cicit Vallen.
Suster langsung mengambil kursi roda di sudut kamar, lalu mendorongnya hingga dekat dengan ranjang. Ia kemudian melihat Vallen yang hendak membantu Rafa untuk duduk.
__ADS_1
"Biar gue bantu," ucap Vallen pada Rafa, tapi gerakannya terhenti karena ponsel dia berbunyi.
Sejenak Rafa melihat layar ponsel Vallen. "Angkat di sini," suruhnya.