Pear

Pear
131


__ADS_3

"Gue sih nganggepnya gitu, tapi waktu prom night ...."


"Fa, lo udah janji sama gue mau ngasih tau siapa orang yang lo suka malam ini! Ayo ayo siapa!" desak Ina sembari menarik-narik tangan Rafa yang padahal sedang memegang gelas berisi minuman.


Rafa pun menunduk untuk menatap wajahnya. Ia kemudian menyimpan gelasnya ke meja bulat yang tepat berada di samping mereka.


"Mau tau banget?"


"Iyalahhh, gue kepo, cewek yang lo suka itu kayak gimana ...."


Rafa tersenyum kecil. Ia lalu mengelus pelan pipi gadis yang sedang penasaran berat itu.


"Kayak lo," jawabnya.


Sontak Ina membelalakkan mata. Beberapa kali ia bertanya pada diri sendiri apakah telinganya sedang gangguan atau bagimana, tapi tak mungkin juga jika Ina mengorek kupingnya sekarang.


"Zevina, mau gak jadi pacar gue?" tanya Rafa to the point.


Ina masih bungkam. Alasannya, baru saja beberapa menit lalu ia ditembak oleh Marvel.


"Rafa ... yang lo omongin ini serius?"

__ADS_1


"Buat apa gue becanda."


Jantung Ina berdebar keras. Kemudian perlahan tangannya memegang satu tangan Rafa yang masih menangkup pipinya.


"Fa, sorry tapi gue gak bisa. Gue udah pacaran sama Marvel."


Kelopak mata Rafa terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Ia lalu melirik ke gerombolan teman-temannya yang sedang bersenda gurau bersama Marvel. Lelaki itu pun berjalan cepat ke arah sahabatnya, kemudian menyeretnya keluar kerumunan.


Di samping hotel, Rafa menghajar Marvel dan membentaknya karena dia berani-beraninya merebut seseorang yang ia suka. Ina yang menyaksikan itu segera menjauhkan Rafa yang hendak menonjok Marvel lagi.


"Berhenti Rafa!" pekiknya seraya menarik jas biru tua yang dikenakan Rafa saat itu.


Rafa pun membalikkan tubuhnya dan melihat Ina dengan mata yang memerah.


Vallen mengerjapkan matanya, mencoba memahami setiap detail cerita yang Ina bagikan. Sepertinya selama ini Vallen salah paham dengan Ina, tapi dengan Rafa ... ia pun masih belum tahu juga bagaimana perasaan cowok itu terhadap mantan gebetannya ini.


***


Sepulang sekolah ini, Vallen telah berada di depan ruang cctv. Keputusannya bulat untuk melanggar perintah Rafa. Ia mengintip ke dalam ruangan sambil sambil sesekali melihat keadaan sekitar. Gadis itu merasa kali ini dirinya lebih was-was daripada ketika bersama Devan kemarin. Takut juga sebenarnya jika kepergok guru dan ditanya-tanya lebih lanjut.


Seseorang tiba-tiba menepuk pundak Vallen, membuatnya terlonjak dan langsung berbalik ke belakang.

__ADS_1


"Ngapain di sini?" tanya orang itu.


"Mmm, itu ...." Vallen menolehkan kepalanya ke ruangan tersebut.


Seseorang di hadapan Vallen kemudian tersenyum samar, atau ... lebih tepatnya terpaksa tersenyum agar terlihat baik-baik saja. "Gue temenin, ayo."


"Devan, lo abis darimana? Kok bisa sampe ke sini?" tanya Vallen heran, mengingat ini adalah area ruang-ruang penting.


"Ruang Kesiswaan," jawabnya.


"Ngapain?"


Devan memasukkan telapak tangannya ke saku celana sembari menghela napas dengan tatapan yang tak lepas menatap wajah gadis di hadapannya. "Biasa, ngurus masalah absensi."


"Lagian lo kenapa sih Dev suka gak masuk?" Vallen menautkan keningnya, jujur ia khawatir, tapi sejak lama pun Devan tidak pernah memberitahunya alasan yang cukup untuk membuat Vallen tidak merasa janggal.


"Gue kan sering bilang kalo gue bolos."


"Absensi lo kelas 10 baik-baik aja loh Dev. Tapi kelas 11 parah banget, trus kelas 12 ini kayaknya gak jauh beda sama taun sebelumnya."


"Gue lagi pengen santai aja. Udah ayo masuk."

__ADS_1


Vallen tak bertanya lagi, ia lalu mengikuti Devan ke dalam.


__ADS_2