
"Ey ey ey apa nih bohong bohong?" tanya Nasya yang baru datang bersama Ina. Mereka berdua membawa cakwe dan telur gulung yang dijual di depan sekolah.
"Nasy, mau!" pinta Vallen yang langsung tergiur dengan makanan itu.
"Gak! Lo jangan makan ginian dulu."
Vallen memajukan bibir bawahnya, niatnya untuk membuat Nasya mengasihaninya, tapi gagal, teman sebangkunya itu malah menjauhkan makanannya dengan cara makan sambil membelakangi Vallen.
"Apa gue tanyain Devan aja?" lanjut Chela yang masih saja membahas topik yang sama.
Lama-lama Vallen kesal, ia menoleh ke belakang dengan raut masam. "Gausah ih ngapain. Gak percaya banget. Kita baik-baik aja."
"Ah maza?"
"Iya, udah."
"Ina ... mau dong," pinta Vallen pada target satunya.
"Kata Nasya gak boleh!"
Vallen berdecak kesal, kenapa Ina malah ikut-ikutan Nasya? Ia pun mengerucutkan bibir, beda halnya dengan Nasya yang tertawa puas di belakang sana.
"Good girl, Ina!"
Chela berdiri dan bergabung dengan Nasya dan Ina yang ada di depan Vallen. Gadis itu malah langsung ditawarkan makanan dengan baik oleh mereka, membuat kesal Vallen makin bertambah. "Val, serius ih gue kepo!" ujar Chela seraya menggigit cakwenya.
Sebelum menjawab itu, Devan dan kawan-kawan datang. Devan langsung duduk di kursi Nasya sembari memberi sebungkus roti dan susu pada Vallen.
__ADS_1
Yang diberi menunduk melihat dua barang itu beserta tangan yang memberinya. Ia kemudian mengambilnya dan berterimakasih. Tak lupa, Vallen menengok ke Chela. Dan berkata 'see?' melalui gerakan mulutnya tanpa suara.
Chela paham, ia pun menggerakkan bola matanya ke kanan-kiri seolah berkata 'ya ... ya'.
"Rafa mau gak?" tawar Ina sembari menyodorkan makanan, jangan lupakan pula senyum manis yang tercetak setelahnya. Yah sekali pun Rafa tidak melihat Ina.
Cowok itu menggeleng.
"Fa lo ikut eskul olimpiade gitu yah?" tanya Ina.
"Hm."
"Gue denger lo yang jadi ketuanya ya?"
"Hm."
"Demo nanti mau ngapain?"
"Gue ikut yah?" pintanya dengan semangat.
Rafa yang sedaritadi tidak melihat Ina akhirnya melirik gadis itu. "Ngapain?"
"Gak boleh ada orang luar ikut diskusi emang? Oh! Atau harus jadi anggota dulu ya? Ok, gue izin jadi anggota baru ya, Fa!"
"Hah?" tanya Rafa yang bingung.
"Boleh kan?"
__ADS_1
Sejenak tatapan Rafa beralih pada Vallen. Padahal yang memerhatikan mereka berdua ada lima orang lainnya juga.
"Boleh," jawab Rafa singkat.
Ina kembali tersenyum. Hal itu pun membuat yang lain bersorak heboh, apalagi Satria.
"Acikiwiwww!" katanya.
Mereka turut senang jika sahabatnya bisa mulai PDKT.
Devan tersenyum sekilas melihat kehebohan tersebut, kemudian dirinya fokus pada Vallen lagi. "Kok belum dimakan? Gue suapin?"
Vallen rasanya tidak mendengar, ia masih melihat ke depan, bahkan dirinya pun tak sadar roti yang tadi dipegangnya sudah hilang.
"Val?" panggil Devan yang selesai membuka bungkusnya. Ia telah mengangkat tangan dan memposisikan roti tersebut di dekat mulut Vallen.
Vallen menoleh, sesaat ia menatap Devan dan rotinya bergantian. Namun tanpa ragu lagi, ia langsung membuka mulut dan menggigitnya.
"Gue ngiri udah!" teriak Satria yang rasanya ingin pergi saja dari tempat itu karena kesal mereka semua menyajikan ke-uwu-an yang belum bisa Satria dapat. Sebalnya lagi yang lain malah menertawakannya.
"Kesian JOMBLO!" ledek Bayu sambil menunjuk-nunjuk Satria.
Satria menatap sinis partner tik-tuknya itu. "Bay, lo butuh gue beliin KACA SEGEDE APA HAH?!" tanyanya ngegas karena Bayu memang suka tidak sadar diri.
🍐 Bersambung ....
...✨ Jangan lupa vommentnya gaisss ☺️...
__ADS_1
...Jangan jadi silent reader pleaseee 🥺...
...Makasih ✨...