
"Pernah beli yang ini Fa?" tanya Ina seraya menoleh pada Rafa, tangannya sudah menunjuk satu buku di sana.
"Belum."
"Ah gue bingung yang mana ...," keluh Ina setelah menyeret pandangannya untuk melihat berbagai buku di rak.
"Gue pikir lo udah nyari-nyari info buku sebelumnya."
Ina tersenyum kikuk. "Belum."
"Buku yang ini bagus."
Rafa mengambilkan satu buku, kemudian memberikannya pada Ina. Gadis itu pun mengangguk dan menuruti apa yang Rafa bilang. Ia percaya jika Rafa yang merekomendasikan, toh cowok tersebut sudah menjadi master dalam beberapa olimpiade matematika yang diselenggarakan.
Segera Ina membayar buku tersebut, saat di kasir matanya masih saja was-was melihat sekitar. Ia takut orang yang tadi menabrak ... benar seperti dugaannya.
Setelah menerima barangnya, mereka pun pergi ke toko kue.
***
Vallen akhirnya sampai di rumah Rafa dengan menggunakan ojek hasil pesan dari rumahnya. Baju seragamnya cukup basah karena ia menerjang gerimis bersama mang ojek.
Setelah turun dari motor tukang ojek, Vallen melihat sudah ada motor Rafa yang terpakir di halaman.
Ia kemudian berjalan ke arah pintu utama sambil berlari kecil karena langit masih saja menurunkan air. Saat mendorongnya, ternyata pintu itu terkunci. Vallen bingung, memangnya tak ada orang di dalam? Tapi kan motor Rafa ada di sini.
__ADS_1
Gadis itu pun menghampiri Mang Junet untuk bertanya.
"Ada kok, lengkap. Ada Den Rafa, Pak Hilman, Bi Adab, sama satu temennya si Aden."
Vallen menyatukan kedua alisnya, mungkinkah Satria, Bayu, atau ...
Astaga dia melupakan Ina!
Segera dirinya mengintip ke dalam rumah lewat jendela. Untuk apa Rafa dan Ina ada di dalam? Pintunya dikunci pula.
Saat mendekatkan matanya ke kaca, mata gadis itu terbelalak. Rafa dan Ina sedang berada di sofa berduaan. Vallen mengumpat kesal, bagaimana bisa cowok itu dengan santai duduk di sana padahal mengetahui ada ayahnya di dalam? Atau mungkinkah Hilman menyetujui keberadaan Ina?
Ada gejolak dalam hati Vallen yang saking mendidihnya seakan sedang mengiritasi, membuat hatinya terasa perih. Dan itu menjalar pada matanya yang makin terasa panas. Ia sangat tidak menyangka akan apa yang Rafa lakukan. Jadi ini alasan Rafa pergi bersama Ina? Setelah tadi siang di jalan Vallen melihat mereka berpelukan, sekarang ada lagi?
Vallen tersenyum miris. Sepertinya ia harus membuat piagam penghargaan untuk cowok brengsek semacam Rafa.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Itu adalah notifikasi chat dari grupnya bersama Chela, Nasya, dan Ina. Mereka sedang membahas Ina yang berada di rumah Rafa karena gadis itu memotret sudut rumahnya. Chela dan Nasya pun auto menanggapi foto dengan heboh.
Chela
GILA UDAH DIAJAK KE RUMAHNYA AJA!
Nasya
__ADS_1
Gercep nih si Ina!
Chela
Na, inget lo masih SMA!!!
Ina
😂
Vallen menyentuh opsi 'kembali', ia tak ingin membacanya lebih lanjut. Gadis itu takut, sangat malah. Ia merasa bodoh telah memikirkan Rafa akhir-akhir ini, padahal kenyataannya cowok itu pasti masih suka dengan Ina.
Tak sengaja mata Vallen membaca ada nama Rafa di jajaran orang yang mengiriminya pesan dalam waktu dekat ini, di sana masih ada tulisan (1) yang artinya Vallen belum membaca satu pesan darinya.
Ragu tapi pasti ia menyentuhnya, sekali pun di luar pun memang sudah terbaca sedikit isinya.
Rafa
Kalo udah sampe rumah, jangan masuk dulu.
Vallen mematikan hpnya. Seketika lemas dengan apa yang ia baca tadi.
Jahat ..., lirih Vallen dalam hati sambil bersembunyi di balik tembok. Ia memeluk dirinya erat karena suhu Kota Bandung yang sedang dingin.
🍐 Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa vomment guysss
Makasiii 🥰