Pear

Pear
84


__ADS_3

Selamat ulang tahun kami ucapkan


Selamat panjang umur kita kan doakan


Selamat sejahtera sehat sentosa


Selamat panjang umur dan bahagia ....


Nyanyian itu menggema saat seseorang baru saja membuka pintu. Ia langsung menyambut kemeriahan ini dengan senyum haru yang ditampakkan. Senyum yang bersatu dengan kepahitan di umurnya yang genap setengah abad ini.


Rafa menghela napas, kemudian ia maju satu langkah.


"Selamat ulang taun, Ayah," ucapnya sambil menarik kedua ujung bibir.


Matanya pun menatap dalam seseorang yang telah menjaganya dengan baik selama ini. "Hari ini Rafa gak bisa surprise-in ayah dengan ditemani bunda ...," lirihnya seraya menurunkan pandangan. Mata itu benar-benar sayu, seakan tak ada lagi semangat untuk mengucapkan kalimat berikutnya. Namun, Rafa mengepalkan tangan dan menghirup udara banyak, berharap ada energi yang masuk ke dalam tubuh.


"Tapi Rafa tetep berharap supaya Ayah bahagia. Maaf cuma ini yang bisa Rafa lakuin, maaf Rafa gak bisa buat surprise yang luar biasa kayak apa yang bunda buat sebelumnya ...."

__ADS_1


Di hadapan Rafa, Hilman dengan sekuat tenaga tengah menahan tangisnya yang ingin membuncah. Jangan lihat bagaimana tentang sosok lelaki tua itu yang memiliki tubuh atletis, Hilman tetap manusia yang merasakan sedih saat orang tersayangnya tak bisa lagi mendampinginya.


Rafa menunduk, merasa bahwa dia salah bicara karena membicarakan tentang bundanya malah membuat dia sedih juga, seharusnya saat ini mereka bahagia.


Ina yang melihat ke samping segera mengusap punggung Rafa. Selagi melakukannya, ia pun mendongak pada Hilman.


"Selamat ulang tahun ya, Om. Aku harap om sehat selalu," ucap gadis tersebut yang membuat Rafa menoleh sedikit sekali pun sedang menunduk.


"Iya, terima kasih."


"Oh ya, ini teman SMP kamu yang dulu suka main ke rumah itu ya?" tanya Hilman untuk mencairkan suasana.


Rafa mengangguk sekali. "Iya, ini Ina."


"Oh, hahaha. Iya iya namanya Ina, ayah sampai lupa saking lamanya gak ketemu."


Ina terkekeh kecil.

__ADS_1


"Yah, ini buat Ayah. Rafa gak tau harus beli apa, tapi semoga ayah suka." Cowok berambut hitam semu kecokelatan itu menyerahkan sebuah paper bag pada ayahnya.


Hilman tersenyum seraya mengusap puncak rambut Rafa. Alih-alih mengambil hadiah tersebut, lelaki itu malah memeluk putranya. Yang Hilman butuhkan bukan sebuah barang atau apa, dia hanya butuh Rafa menjadi anak yang baik, yang selalu mendoakan bundanya di sana.


Setetes air mata keluar dari mata Rafa, tapi air mata itu segera ia seka. Ia tak mau membuat yang lain ikut sedih jika melihatnya begini. Rafa dan Hilman saling berpeluk, saling memberi ketegaran dan kepercayaan bahwa mereka bisa melewati ini semua.


"Eh, maaf Den, Pak. Ini lilinnya kasian gak ditiup-tiup," ucap Bi Adab seraya tertawa canggung.


Hilman ikut terkekeh, ia kemudian melepas pelukannya dengan Rafa, lalu memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya meniup lilin itu.


***


Vallen menjatuhkan air matanya untuk ke sekian kali setiap dirinya melihat apa yang terjadi di dalam. Ia bukan tersentuh, karena pada dasarnya gadis itu tak dapat mendengar juga apa yang mereka bicarakan di sana. Hanya saja Vallen merasa sangat kecewa karena Rafa tidak memberi tahu bahwa hari ini ayahnya ulang tahun, ayahnya yang bahkan adalah calon mertua dia sendiri. Vallen juga kecewa karena Rafa lebih memilih ditemani Ina dalam urusannya, apa tak seberguna itu adanya Vallen? Apa cowok itu tidak bisa meminta pada dirinya saja? Vallen juga ingin bisa diandalkan, ingin turut berperan penting dalam kehidupan Rafa, tapi nyatanya? Rafa pun tak pernah mengirim surat undangan untuk mengundangnya masuk lebih jauh menelusuri kehidupannya, bahkan untuk sekedar membantunya saja ia disingkirkan dari list yang Rafa buat.


Vallen melangkah ke balik tembok yang ada di depan garasi. Ia pun menurunkan tubuhnya di sudut antara pintu garasi dan tembok. Kemudian pandangannya mengarah pada langit petang yang kelabu di atas sana. Vallen merasa ... hujan hari ini tidak bahagia seperti kemarin-kemarin saat adanya Rafa, kali ini menyakitkan.


***

__ADS_1


__ADS_2