Pear

Pear
90


__ADS_3

Ina diseret paksa memasuki rumah yang selalu menjadi tempat berakhirnya setiap orang ini membawa.


"Sakit Mar ...." keluh Ina yang dijawab bentakan keras dari Marvel.


"Diem!"


Kemudian tangan berototnya mendorong gadis itu dengan kasar ke sofa. Ia bahkan seperti tidak peduli pada Ina yang menangis sesenggukan karena takut.


"Kamu tau kan kamu salah apa, Na?!"


Jdug ....


Marvel menendang sofa, kemudian membanting dirinya untuk duduk juga. Ia segera merangkul Ina dan memegang dagu gadis tersebut menggunakan tangan kiri. Mata tajamnya menyorot wajah Ina yang menunduk. "Berani ngelunjak kamu sekarang, hah?" ucap Marvel pelan.


Karena tidak mendapat jawaban, jadi Marvel mendekatkan wajahnya pada Ina sampai jarak mereka hanya satu jengkal saja.


"BERANI NGELUNJAK, NA?!"


"JAWAB!!!"


Ina memejamkan mata, dirinya sungguh tersentak dengan apa yang Marvel lakukan. Pun tak hentinya bibir cewek itu bergetar karena ketakutan.

__ADS_1


"Ma-maaf ...." cicit Ina yang dibalas Marvel hanya dengan senyum jahatnya.


Dengan cepat ia menjambak kuciran rambut Ina, membuat kepala Ina tertarik ke belakang. Gadis itu memekik sakit, tapi Marvel tidak melepaskannya.


"Marvel! Hiks. Aw!"


Marvel mendekatkan mulutnya pada telinga Ina, ia lalu bicara dengan nada yang halus. "Sekali lagi aku liat kamu deket sama Rafa ..." Cowok itu menyeringai sesaat sebelum melanjutkan.


"... awas aja!" sambungnya sembari melepas cengkeraman di rambut Ina.


"Wey ma bro! Gak bilang lo ada di sini." Putra datang membawa gitar yang masih ia gonjrengkan, di sebelahnya ada Frian yang berjalan, dan di belakangnya ada anggota lain dari Geng Rigel yang tak lebih dari sepuluh orang. Mereka bukan datang dari depan rumah, melainkan halaman belakangnya. Halaman luas yang menjadi tempat tongkrongan mereka. Jika geng lain suka menghuni warung atau kafe, maka Geng Rigel berbeda. Mereka berandalan rumahan yang hanya sesekali ke jalanan untuk balapam liar, membuat mural pada fasilitas umum, atau sekedar mengganggu orang.


Mendadak Marvel tersenyum manis pada Ina, lalu mengusap wajah cewek itu dengan telapak tangannya, menghilangkan jejak tangis yang Ina tinggalkan.


Marvel kemudian menoleh pada teman-temannya. "Baru sampe."


***


"Val, lo salah paham. Ina gak nyium! Dia bilang 'bye' abis itu."


Rafa berdiri dengan tangan bertumpu pada meja belajar yang ada di belakangnya. Matanya terus menatap Vallen yang tengah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


"Val?"


Di bawah sana, Vallen meringis bukan main, wajahnya sudah semerah cabai-cabaian. Keringat Vallen mengucur keluar dan detak jantungnya tak karuan. Ia setia memejamkan mata seraya terus mengomeli dirinya sendiri.


Astaga, bibir gue udah gak suci lagi!


"Vallen!"


Gak mau liat, gak mau liat, aaaaa!


Rafa berjalan ke samping ranjang. Ia membuka selimut itu, dan yang ia dapati adalah Vallen nengkurap dengan bantal di atas kepalanya yang masih dipegang erat.


Cowok itu tersenyum kecil, lalu menyentuh daerah sekitar ketiak Vallen.


"Geli!" pekik gadis itu.


"Malu yah lo?"


"Ng-ngga!"


"Halah!" Rafa tertawa tanpa suara, jadi Vallen tidak menyadarinya. "Yaudah sini, coba liat gue."

__ADS_1


"GAK MAU!"


__ADS_2