Pear

Pear
125


__ADS_3

Perawat yang melihat monitor menunggu sebentar hingga tampilan di sana akurat.


Matanya pun seketika terbelalak.


"Denyut jantung pasien kembali," ujarnya.


"Nadinya terdeteksi!"


Dokter langsung menatap monitor untuk lebih memastikan, ia lantas bisa bernapas lebih lega saat mengetahui itu benar adanya. Kemudian sesuatu yang mengejutkan tiba-tiba terjadi.


"Dok, jari pasien bergerak!" kata salah satu perawat.


"Rafa?" gumam Chela yang menatap ke dalam dengan bingung. "Vallen!" panggilnya kemudian seraya menepuk pundak gadis itu.


Vallen memberanikan diri untuk menoleh ke kaca, matanya membulat, dirinya pun langsung membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Membelah kerumunan tim emergency yang menangani Rafa tadi.


"Rafa ....," panggil Vallen dengan isakan yang masih tersisa.


"Fa?"


Perlahan mata Rafa terbuka. Cowok itu sedikit menyipit untuk menyesuaikan cahaya terang yang tiba-tiba ditangkapnya. Kemudian setelah cukup terbiasa, ia makin melebarkan lagi pandangannya.


Orang pertama yang ia lihat adalah Vallen. Gadis itu langsung menangis dan memeluknya.


Rafa mengatur napas, kemudian tangannya naik dan bergerak untuk mengusap rambut Vallen.


"Jahat!" ucap gadis itu.

__ADS_1


Rafa masih diam karena lemas.


"Rafa jahat, hiks ...."


"Ja-ngan nangis," pinta cowok tersebut dengan lemah.


"Gue takut ...."


"Gu-e di sini, jangan ta-kut ...."


Vallen kembali menangis. Ia rindu suara itu. Ia amat merindukan Rafa.


Devan baru saja tiba di rumah sakit, ia langsung berdiri di sebelah Satria yang masih di luar ruangan Rafa. Matanya segera tertuju pada dua orang yang menjadi pusat perhatian di sana, tentu saja mantan dan sahabatnya.


Vallen menjauhkan dirinya dan menghadapkan wajahnya di depan Rafa. Cowok itu lantas menautkan alis, merasa tidak tega dengan tangis Vallen yang seakan begitu menyakitkan.


"Gak boleh gini lagi, Fa ...."


"Gue kangen sama lo, hiks," aku Vallen.


Sesungguhnya Rafa masih bingung dengan apa yang terjadi, maka darinya ia hanya diam sambil tetap menghapus air mata Vallen.


Dika--papahnya Vallen--mengusap punggung Hilman yang tengah menangis haru.


"Ayah senang kamu sadar, Rafa," ucap Hilman seraya menyentuh lembut kepala anaknya.


"Kenapa ... pada nangis sih?" tanya Rafa yang sungguh tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Ish malah nanya! Hiks ...." Vallen memukul tangan Rafa dengan kesal.


"Ma pren gue sadar?" Satria yang baru masuk langsung seperti orang linglung saat memijakkan kaki di ruangan itu.


"Iya, Sat!" jawab Bayu sembari menonjok pelan pipi Satria.


"Njir Fa, sadar lo gak usah ngebuat orang lain jantungan bisa gak sih!" omel Satria yang akhirnya bangun dari ketercengangannya.


Rafa menanggapi sahabatnya itu dengan kening yang berkerut.


"Gue kenapa?"


"Lo koma empat hari!" jawab Satria dengan semangat. Ia lalu menutup mulut karena sadar di sini banyak orang. Hilman hanya tersenyum. Lelaki itu berjalan keluar ruangan bersama orang tua Vallen dan tim emergency. Hilman dan dokter berdiskusi tentang apakah Rafa akan tetap di ICU atau dipindah ke ruang rawat inap.


"Empat hari?" ulang Rafa.


Satria mengangguk.


Mata Rafa lalu melihat ke setiap sudut ruangan. "Bentar amat."


"Rafa!" rengek Vallen yang langsung mencubit perut cowok itu. Enak saja Rafa berkata demikian, Vallen bahkan sudah sangat tersiksa walau hanya empat hari.


"Eh ...." Rafa bingung lagi saat Vallen kembali menangis. Ia lalu menggenggam tangan sang tunangan. "Udah Val."


Pandangan Rafa beralih dengan mengabsen satu persatu temannya. "Devan mana?" tanyanya.


Langsung saja Satria menengok ke sana kemari. "Tadi sih ada sebelah gue, lah kok ilang?"

__ADS_1


Rafa segera memandang Vallen. Sepertinya ia tahu penyebabnya apa, tapi Rafa tidak bisa mengabaikan Vallen yang histeris seperti tadi. Bahkan ibu jari dia pun sekarang mengusap punggung tangan Vallen yang masih dipegangnya. Berusaha membuat gadis itu jadi lebih tenang.


***


__ADS_2