
Pak Gabud, sang pemilik nama lengkap Galang Budaya yang jadi guru seni budaya itu duduk lagi dengan anteng di singgasananya, membiarkan kelas ricuh oleh para murid yang mengobrol dan mulai berpindah-pindah tempat duduk.
"Val, sorry gue harus ke mejanya Dito."
"Nasy ...," panggil Vallen. Matanya memohon agar Nasya tidak pergi, tapi Nasya harus pindah.
Vallen mendengus kecewa saat teman sebangkunya itu benar-benar meninggalkan dia. Belum lama kursi Nasya kosong, tiba-tiba saja sudah ada yang mengisinya, siapa lagi kalau bukan Devan.
"Val?"
Vallen melirik.
"Gue gak ada ide, bahasnya nanti aja," ucap Devan yang kemudian memainkan game di ponselnya.
"Um." Vallen mengangguk, lantas meletakkan kepalanya di atas tangan kirinya yang dilipat. Kemudian tangan kanannya mencorat-coret kertas. Baguslah tidak diskusi sekarang, lagipula hati Vallen juga tidak berada dalam mood memikirkan tugas ini.
__ADS_1
Devan melirik Vallen yang membelakanginya. Ia pun menghela napas. Jujur, bermain game hanya alasan dia saja karena melihat Vallen masih murung. Jika dipaksa membahas tugas pun Vallen tidak akan fokus. Devan ingin memberi ruang dulu bagi gadis itu.
Lalu bukannya bermain game lagi, Devan malah mencari sesuatu di saku celananya. Ia kemudian mengetuk pelan benda tersebut ke pipi Vallen.
Vallen menatap benda itu. Benda yang bulatan atasnya tertutup plastik gambar sapi, lalu ada batang berwarna putih sebagai pegangannya.
"Gue gak tau lo murung karena apa, tapi jangan sedih terlalu lama, Val," nasehat Devan seraya menyelipkan batang lolipop itu di jari Vallen yang sedang memegang pulpen. Vallen menatap sesaat sapi di kemasan permen itu, kemudian ia menengok ke arah Devan.
Keduanya diam, hanya menatap dengan mata yang berbicara. Devan yang rindu satu-satunya gadis yang ditangkap matanya ini, dan Vallen yang entah harus melakukan apa.
Vallen menggeleng kecil.
Devan pun mengangguk sekali, pura-pura percaya saja dengan jawaban mantannya. Kemudian ia menyelipkan rambut Vallen ke telinga. "Hari ini gue mau jenguk Rafa, mau ikut?"
***
__ADS_1
Satu-satunya alasan Ina alpa sekolah adalah karena lagi-lagi dia terperangkap di basecamp geng Rigel. Marvel melarang Ina sekolah sebab tidak mau saat pulangnya nanti Ina kabur untuk menjenguk Rafa.
Rumah penuh mural itu ramai, tentu saja karena penghuninya pun pengangguran dan suka berkumpul tidak jelas di tempat ini. Frian, Putra, Marvel, dan lainnya sedang memperbarui gambar di dinding menggunakan cat semprot. Kemudian tiba-tiba ponsel Marvel berbunyi dan membuatnya keluar untuk mengangkat panggilan tersebut dikarenakan di dalam rumah berisik.
Ina menyimpan gelas seraya melihat Marvel menutup pintu, ia lalu menengok ke belakang. Dirinya pun bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri salah seorang yang sedang menyemprot dinding. Ina takut, tapi pertanyaan dalam benaknya tidak bisa terus dipendam.
"Ngapain kakak ke Arcturus waktu itu?"
Orang itu pun menoleh.
***
Sekali pun yang dapat giliran masuk area ICU saat ini adalah Vallen, Nasya, dan Chela, tapi dua sahabat Vallen itu sengaja mempersilakannya masuk sedirian ke kamar Rafa, biarlah mereka berdua menunggu di luarnya dulu.
Suara monitor denyut jantung pun menyambut kedatangan Vallen, sungguh ia tak suka mendengarnya karena suara itu malah makin membuat hatinya gelisah. Lagi, kesekian kalinya yang Vallen lihat di kamar itu adalah Rafa tetap terbaring di sana.
__ADS_1