
Hampir satu jam Vallen menunggu di luar, hingga pintu utama Rafa pun terbuka, dan kemudian seseorang keluar dari sana. Orang itu berjalan menuju motor hitam yang terparkir di depan garasi. Saat melihat orang tersebut, Vallen langsung membelalakkan matanya. Seketika pula orang yang ia lihat langsung kaget.
Rafa menoleh pada Ina yang baru keluar rumah, ia pun berjalan balik untuk mendekatinya. "Gue gak jadi nganter lo."
"Loh, kenapa?" tanya Ina yang baru menutup pintu.
"Ada urusan."
Raut sedih seketika tercetak di wajah Ina, sedih campur khawatir karena ia takut pulang sendirian.
"Beneran gak bisa banget yah?"
Rafa menatap Ina yang sedang menggigit bawahnya sembari menatap lantai.
"Ngga, sorry."
Ina mengangguk, kemudian mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi online.
Tak lama, taksinya pun datang. Ina menatap mobil itu, kemudian beralih melihat Rafa secara intens. Ia pun berjalan hingga tubuhnya sangat dekat dengan Rafa, kakinya berjinjit, lantas wajahnya mendekat ke pipi cowok itu.
Vallen yang melihat mereka segera menutup mata dan tidak lagi mengintip apa yang keduanya lakukan. Sesuatu tiba-tiba meledak dalam diri Vallen, sakitnya lebih terasa. Yang sekarang sangat menghujam.
Segera Ina berlari kencang menuju mobil sebab tidak mau tubuhnya kebasahan. Lalu mobil pun melaju menjauhi rumah Rafa.
__ADS_1
Setelah dirasa aman. Vallen keluar dari tempat persembunyiannya.
"Val?" panggil Rafa yang dianggap Vallen hanya sebagai angin lewat saja. Dirinya tetap berjalan ke dalam rumah dengan langkah tak santai.
"Val lo udah lama sampe?"
Vallen tidak menanggapi.
Cowok itu pun mengerutkan kening atas tingkah laku tunangannya. Ia kemudian menutup pintu dan menyender sebentar karena Vallen sedang bicara dengan ayahnya.
"Ayah ...."
"Eh Vallen baru pulang?" tanya Hilman sembari menoleh ke belakang.
"Selamat ulang taun, maaf Vallen gak sempet siapin apa-apa buat Ayah," cicitnya sambil menunduk dan melepas tangan Hilman.
"Gapapa Vallen."
"Hey, calon menantu ayah yang cantik ini gak boleh sedih ...," hibur Hilman yang mampu membuat Vallen mendongak menatapnya.
"Vallen, dengan adanya kamu di keluarga kami saja itu sudah menjadi hadiah terindah buat Ayah. Ayah yakin pilihan bundanya Rafa adalah pilihan yang tepat untuk menjadikan kamu sebagai istri dari putra kami nantinya."
Vallen tersenyum kecil sambil menatap Hilman, pria itu Vallen anggap asing beberapa waktu lalu, tapi lama-kelamaan ia mulai bisa menerima Hilman sebagai orangtuanya sendiri.
__ADS_1
Hilman mengusap pipi Vallen pelan dan itu membuat gadis tersebut menjadi lebih tenang. "Tapi bagaimana pun ayah ingin minta maaf, karena kami, masa remajamu tidak seperti kebanyakan remaja lainnya," tutur Hilman karena takut Vallen terbebani dengan yang dialaminya.
"Ayah gak usah minta maaf. Vallen baik-baik aja," bohongnya.
Karena dirinya sudah tak kuat, ia pun pamit untuk pergi ke kamar.
Vallen berlari menyusuri tangga. Lalu sesampainya di kamar, ia langsung menjatuhkan diri di atas kasur. Memeluk bantal yang menjadi alas untuk pendaratan wajahnya.
"Val?" panggil Rafa yang baru masuk ke kamar.
"Ganti baju dulu sana," suruhnya karena melihat seragam Vallen kebasahan, bisa jadi karena air hujan menyiprat saat Vallen bersembunyi tadi.
Vallen diam, mendengar suara itu rasanya jadi kesal kembali.
"Val lo kecapean?"
Tak ada jawaban, karenanyalah Rafa berjalan mendekati Vallen dan menyibak rambut gadis itu ke samping. Rafa ingin membalikkan wajah Vallen yang tenggelam di bantalnya, ia ingin tahu apakah Vallen tidur atau bagaimana.
"Pergi!" usir Vallen sembari geleng-geleng kepala agar tangan Rafa enyah.
"Val ganti baju dulu, abis itu ke bawah, makan malem. Oh ya, ada kue juga. Lo suka kue cokelat kan?" tanggap Rafa masih santai.
"Pergi gue bilang! Hari ini gue gak mau tidur sama lo."
__ADS_1
"Lah? Val lo kenapa sih?"