Pear

Pear
112


__ADS_3

Kenangan adalah keabadian yang digenggam oleh setiap insan. Vallen bersyukur menjadi satu dari banyak orang yang masih memiliki ingatan yang baik dalam mengenang. Namun alangkah lebih baiknya jika orang di dalam kenangan itu tetap hadir menemaninya, bukan hanya tampil dalam sorotan film warna monokrom yang terputar dalam otaknya saja.


Keputusan besar yang akhirnya mengubah hidupnya sudah ia dan Rafa jalani hampir dua bulan lamanya. Saat ini, Vallen sangat takut jika takdir menyuruhnya untuk "kecewa", ia masih ingin dan terus ingin "bahagia".


Gadis itu menutup mata, bibirnya setia merapal doa pada Yang Maha Kuasa, meminta agar tunangannya baik-baik saja. Bulir bening itu menitih lagi, entah kapan akan habis. Namun rasa sesak selalu saja mempersilakan air matanya keluar tanpa penghalang.


Chela dan Nasya ikut berdoa di sebelah Vallen, pula Aya yang juga berharap calon menantunya bisa terus mendampingi Vallen sampai waktu yang lama di masa depan.


Keempat perempuan itu larut dalam harapannya demi kesadaran dan kesembuhan Rafa. Seusainya, mereka kemudian kembali ke IGD.


Namun satu hal yang membuat semuanya tercengang, di depan IGD sudah sepi. Hanya tersisa papahnya Vallen saja. Sontak, sebuah tumbukan keras seperti jatuh menimpa diri Vallen. Ia tidak mau bertanya dan mendengar apapun karena dirinya bisa saja membeku di tempatnya berpijak.


Bahkan langkah kaki perempuan itu berhenti walaupun belum sampai di dekat papahnya. Aya, Chela, dan Nasya lah yang menunjukkan kepanikan mereka dan langsung meminta keterangan pada Dika.


"Pah, yang lain pada ke mana?"


"O-om, kok pada gak ada?"

__ADS_1


"Om, Rafa masih di dalem kan?"


Dika tidak menjawab pertanyaan mereka, ia malah menatap putrinya yang berada cukup jauh dari tempatnya berada.


"Om jawab om!" pinta Nasya.


Dika kemudian berbicara singkat pada tiga orang di depannya, lalu mereka pun menghampiri Vallen.


"Ayo, Sayang," ajak mamahnya sembari menyeka air mata.


"Ayo." Mamahnya Vallen merangkul gadis itu, tapi Vallen mempertahankan dirinya, tidak mau bergerak sama sekali.


"Ke mana, Mah?" tanya Vallen pelan.


"Kita ketemu Rafa."


Vallen meneteskan air mata lagi walaupun tidak histeris seperti sebelumnya. Mendengar jawaban mamahnya, menjadikan Vallen lemas lagi, tidak bisakah beliau langsung bilang tempatnya apa? Supaya jika harus jatuh, Vallen bisa jatuh sekarang juga, setidaknya lebih baik daripada perasaannya digantung begini terus.

__ADS_1


"Ketemu Rafa di mana, Mah?"


***


"Fa, lo inget gak pas pertama kali kita duduk sebangku? Gue deketin lo karena lo diem aja, padahal yang lain lagi ngadain sesi SKSD. Langsung duduk aja gue di sebelah lo. Gue nanya 'boleh duduk di sini kagak?' lo nya cuma manggut gegara lagi ngerjain soal mtk. Kirain gue lo kutu buku akut, taunya kagak gitu juga," ujar Satria yang kemudian terkekeh kecil. "Sorry Fa gue suka ledekin lo buat senyum, abisan ekspresi lo kaku amat sih."


Bayu menatap Rafa yang sedang terbaring di ranjang ruang ICU. Sahabatnya itu sudah dipastikan koma dikarenakan ia terkena hipoksia--kondisi kekurangan oksigen dalam sel dan jaringan tubuh yang dapat mengganggu fungsi otak, hati, dan organ lainnya secara cepat. Lebih tepatnya Rafa mengalami hipoksia histotoksik yang tak lain disebabkan oleh keracunan sianida. Pada hipoksia histotoksik, meskipun kadar oksigen dalam darah normal, tapi karena selnya keracunan, jadi sel tidak dapat menggunakan oksigen.


"Pertama kali gue kenal lo ... gara-gara gue belum ngerjain PR di hari kedua masuk. Trus lo bukannya ngasih contekan, malah ngajarin gue. Seneng gue punya temen kayak lo, Fa!"


Satria menoleh. "Kalo kayak gue gimana, Bay?"


"Sedih gue sedih! Kesalahan apa yang udah gue perbuat di masa lalu nyampe akhirnya gue harus ketemu lo!"


"Bangs*t!"


Devan tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2