Pear

Pear
76


__ADS_3

Dia Devan, lelaki itu menatap Vallen dari samping sembari mengacak rambut panjangnya. Ia kemudian menyejajarkan posisi tangan kanannya dengan tangan kanan milik Vallen yang masih bertumpu di atas pagar balkon, sedangkan tangan kirinya memegang lengan kiri atas gadis itu. Kemudian Devan menempatkan dagunya di atas pundak kiri Vallen.


Mata Vallen terbelalak dengan apa yang dilakukan Devan. Napasnya tercekat dan ia seolah diam seperti patung. Vallen tidak berani menengok ke kiri karena di sana tepat wajah Devan berada. Ia hanya bisa melihat sekilas lewat ujung mata dan mengetahui Devan tengah melihat ke arah langit.


Vallen pun mengatur emosinya, ia turut mendongak entah untuk melihat apa, seketika ia lebih bisa merasakan angin yang membelai wajahnya, menerbangkan helaian rambutnya yang tanpa Vallen tahu wanginya semakin bisa Devan rasakan padahal Vallen sudah melakukan banyak hal hari ini.


"Biarin kayak gini dulu ya, Val. Gue mohon," pinta Devan seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Vallen. Vallen mengerjapkan mata pelan sambil merasakan hembusan napas Devan di lehernya. Devan memang tidak melakukan yang bagaimana apa lagi menciumnya, tapi dengan kulit wajah cowok itu mengenai leher Vallen rasanya ... aneh.


Di dalam sana, Rafa melihat jelas apa yang terjadi di luar. Terimakasih kepada pintu kaca yang benar-benar menyajikan pemandangan tak terbayangkan. Terimakasih telah membuat hati Rafa terasa remuk dengan perlakuan intim mereka berdua.


"Anj*r si Devan," celetuk Satria yang tak sengaja melihat balkon.


Bayu yang selesai main pun ikutan melihat keluar. "Fa giliran lo!" suruhnya sambil tetap memperhatikan Devan.


Yang disuruh hanya menghela napas dengan berat dan langsung main lagi.


"Hm."


Permainan berlanjut dengan peringkat sebagai berikut:


__ADS_1


Rafa


Bayu


Satria


Devan


Vallen



Satria dan Bayu pun memanggil Devan dan Vallen untuk melanjutkan akhir dari permainan ini, yakni hukuman. Namun bedanya, bukan yang kalah menghukum yang menang, tapi peringkat tadi adalah sebagai nomor kocokan untuk memilih 2 orang yang harus diberi tantangan dari 2 orang lainnya yang memberi tantangan, karena mereka itu berlima maka satu orangnya lagi hanya diam.


"Oke, yang harus lakuin tantangan dulu ya!"


Bayu mengocok gelas sambil melihat ke teman-temannya. Ia pun memiringkan gelasnya untuk menjatuhkan salah satu kertas.


Tuk ....


Kertas pun jatuh dan langsung diambil Satria.

__ADS_1


"Ayo siapa ayo?" tanya Satria yang membuat teman-temannya deg-degan.


"Nomer 3!" teriak Vallen seraya menunjukkan tiga jarinya.


"Enak aja!"


"Please Satria aja!"


Satria kemudian mengintip kertasnya, lantas tertawa. Tak pakai lama lagi, ia segera membalikkan kertas agar yang lain ikut melihat.


"Nomer 5! Hahaha ****** Vallen. Rasain lo kena karma dua kali!" tuding Satria dengan semangat menggelora.


"Ih kesel!"


Yang lain tertawa, sepertinya Vallen memang sedang tidak beruntung hari ini. Tolong kecualikan Rafa karena cowok itu diam saja, sedikit tarikan di ujung bibir pun tak ada, apalagi tertawa.


"Yaudah lanjut, orang kedua ...."


Satria kembali mengambil kertas yang terjatuh.


"Aduh, ini nih gak enaknya main pake sistem ginian. Udah cape maen, menang, masih aja dapet hukuman. Hahaha."

__ADS_1


"Number 1," kata Satria sok sokan inggris sembari menampilkan kertasnya.


__ADS_2