Pear

Pear
128


__ADS_3

Merelakan, kata tersebut seolah hanya terpajang dalam kamus bahasa yang tak dapat Devan maknai keberadaannya. Melepas dengan tulus hati?


Apakah bisa? Apakah sanggup setiap manusia melakukan itu? Apakah seutuhnya raga bisa mengikhlaskan sesuatu?


Mungkin iya.


Namun bagi Devan yang telah mencoba menerima semua yang terjadi dalam hidupnya, tak pernah ada rela yang sempurna menurutnya.


"Apa saya harus pergi jauh untuk bisa merelakan?" tanya Devan.


Meisha tersenyum. "Jika menetap membuat kamu makin sulit untuk melepas. Memang pergi adalah cara yang terbaik untuk kamu pilih.


Walaupun sebenarnya yang kamu perlukan adalah keluar dari dunia Vallen. Pada dasarnya dunia itulah yang menjerat kamu untuk selalu memikirkannya."


"Nah, itu yang sulitnya," tanggap Devan dengan nada becanda. Meisha terkekeh. Ia juga pernah merasakan apa yang Devan rasa, maka darinya ia bisa menasehati seperti ini.


Saat tawa mereka mereda, ponsel milik Devan berbunyi.


"Hah?" tanya Devan yang seolah menjawab panggilan dengan setengah hati.


Lo di mana? tanya Bayu di seberang telepon.


Devan melirik Meisya seraya berpikir sejenak. "Parkiran."


NGAPAIN BANJIR!


Segera cowok itu menjauhkan teleponnya karena yang terdengar kali ini adalah suara Satria yang menggelegar.


LO JANGAN NEKAT BERDIRI DI TENGAH PARKIRAN BIAR DITABRAK MOBIL!


"Apaan sih! Gue ngambil tas si Rafa."


Ohhh, kirain. Yaudah, nanti gue kirim alamat ruangannya Rafa.


"Hm."


Devan menurunkan tangannya dan memasukkan ponsel ke saku celana. Ia lantas berdiri. "Dok, terimakasih," ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan Meisha untuk pergi ke parkiran.


***


Vallen segera melepaskan tautan jarinya dengan Rafa saat mendengar daun pintu yang ditekan. Enam orang yang berada di dalam ruangan itu pun langsung melirik begitu saja ke arah pintu.

__ADS_1


"Fa, tas lo," serah seseorang sembari berjalan dan menyimpan tas hitam di sofa yang berada di salah satu sisi kamar. Siapa lagi kalau bukan Devan.


"Thanks."


"Hm."


Pandangan Devan yang tadinya melihat tas jadi beralih menatap Rafa, sahabatnya itu sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan satu hal lagi yang menarik perhatiannya, adalah Vallen yang duduk di kursi sebelah brangkar. Devan mengambil napas panjang, dirinya memang harus terbiasa sekarang melihat mantannya itu dekat dengan sahabatnya.


"Gue balik duluan, sorry gak bisa lama-lama," ujarnya.


Rafa mengangguk paham. "Makasih udah ke sini."


"Sama-sama."


"Duluan semua," pamit Devan kepada teman-temannya.


"Ati-ati Dev!" kata Satria.


Devan pun keluar kamar, meninggalkan teman-temannya yang baru sadar kalau malam akan semakin larut. Chela kemudian mengecek jam. "Gue balik sekarang deh."


"Bareng, Chel!" timpal Nasya.


Bayu yang menyimak dua cewek itu jadi ikutan pamit juga. "Yaudah Fa. Gue sama Satria juga balik."


"Butuh gak?"


"Butuhlah, udah malem. Cecan kalo berkeliaran jam segini bakal berabe."


"Dih!"


"By the way." Rafa memotong percakapan mereka. "Yang lo semua tau tentang gue sama Vallen, jangan kasih tau dulu sama Devan. Gue lagi mikir cara yang pas buat ngomong baik-baik sama dia."


"Sip, Fa. Gak usah khawatir masalah itu!" seru Chela. "Yaudah deh, bye Rafallen! Awas loh di rumah sakit kalian malah ..."


"Malah apaan?" tanya Vallen yang mendongakkan kepalanya ke arah samping untuk menatap Chela.


"Itu loh, ah masa lo gak ngerti."


"Tinggal ngomong ***** njir apa susahnya!" kata Satria frontal yang ia tujukan untuk Chela.


"Bang-sat Satria!" umpat Bayu.

__ADS_1


Vallen langsung berdiri dan menjewer telinga Satria. "Omongan lo filter dulu, gila!"


"Sakit woy! Nenek lampir dasar! Gausah dinikahin Fa!"


"Ihhh Satria!" pekik Vallen yang makin menyiksa cowok tersebut dengan memukulnya keras-keras.


"Udah woy!" lerai Nasya, ia langsung menempatkan diri di tengah mereka.


Chela dan Bayu pun ikut membantu dengan mencoba menarik keduanya. "Heh, Vallen lo malah jambak rambut gue anjir!" teriak Chela yang berada di pinggir gadis itu.


"Njing Satria, gue ketendang!" protes Bayu.


Rafa yang berbaring santai di kasur hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pertarungan ini. "Eh, awas aja kalo sampe Vallen lecet," ucap Rafa yang seketika membuat semuanya diam.


Satria tak berani lagi melawan Vallen.


"Apa lo?" tantang Vallen karena Satria menatapnya dengan mata melotot.


"Apa?!"


"Berani lo sama gue? Dihajar Rafa baru tau rasa!"


"Bocah!"


"Pergi lo, pergi! Sana, jangan balik lagi!" usir Vallen sembari mendorong-dorong tubuh Satria.


"Gue pergi, ntar lo kangen."


"Batch-out banget Satria! Keluar sekarang juga!"


"Iya amjir, gak usah mukul lagi! Remuk badan gue!" Suara Satria makin mengecil seiring ia menjauh meninggalkan kamar.


"Gue cabut, Fa!" katanya yang tiba-tiba nongol lagi di pintu kamar.


"Yaudah kita juga pulang, maaf atas kegaduhan yang disebabkan oleh pasien kami," ujar Nasya sembari membungkuk, berlaku seolah dia adalah perawat pasien rumah sakit jiwa.


"Bye!" Chela berlari untuk mengejar Satria karena ia butuh tumpangan lagi.


Bayu dan Nasya juga meninggalkan ruangan, tapi di ambang pintu mereka berdua berpapasan dengan orangtua Vallen dan ayahnya Rafa.


"Hati-hati," peringat Hilman.

__ADS_1


"Iya, Om."


__ADS_2