
"Val?"
"Hm?"
"Ngapain lo ke rumah sakit?" tanya Devan.
Perlahan Vallen melepaskan pelukannya dan mulai menatap Devan.
"Jenguk Rafa yah?" tebak cowok itu.
Vallen menautkan alis, gelisah dan bingung harus menjawab apa.
"Kakak Cantik kan nemenin Kakak Cem---"
Mulut Azka langsung ditutup oleh Satria dan Bayu. Anak itu pun kemudian diajak keluar.
Devan melihat adiknya yang beranjak pergi itu dengan bingung. Ia tak mengerti maksud Azka, apa yang sebenarnya anak itu ingin sampaikan?
"Um, iya. Gue ke sini buat jenguk Rafa, tapi karna diajak orangtua," alasan Vallen untuk mengalihkan perhatian Devan, padahal hal tersebut justru membuat Devan jadi terdiam untuk mencerna kalimatnya. Memangnya ada urusan apa antara orangtua Vallen dan Rafa?
"Oh ya, jawab pertanyaan gue yang lainnya, tentang Azka."
"Pas beli gitar ini ...” Devan menyentuh gitarnya. “... gue pernah bilang kan alesannya adalah karna gitar gue yang sebelumnya rusak setelah dipake main kuda-kudaan sama sepupu?"
__ADS_1
Vallen mengangguk.
"Sebenernya itu bukan sepupu, tapi adik gue, Azka. Masalahnya, kalo gue bilang itu dirusak sama adik, takutnya lo nyari tau tentang keluarga gue."
"Apa salahnya gue tau tentang keluarga lo? Dev, gak ngerti. Jelasin ...," pinta Vallen.
Devan memejamkan mata dan merutuki omongannya barusan. Mungkin memang takdirnya malam ini Vallen tahu segala hal tentang ia yang merupakan anak adopsi.
***
"Nih, piloks putih," kata Marvel seraya menyerahkan barang tersebut kepada seseorang.
Orang yang menerimanya langsung menarik satu sudut bibirnya. Ia pun mulai menyemprotkannya di dinding sembari mengingat kejadian masa lalu.
Claudi yang saat itu sudah kelas 4, tengah berlari mengenakan baju olahraganya di lapangan. Lebih tepatnya ia bermain bersama Devan di jam istirahat padahal jam olahraganya sudah lewat beberapa menit lalu.
Satu kaki miliknya lalu dinaikkan untuk menjadi palang dan membuat Claudi jatuh tersandung. Tentu, hal itu terjadi dan Claudi jadi menangis keras.
Hari-hari selanjutnya tetap berjalan dengan ia yang menjahili Claudi, senang rasanya melihat wajah imutnya yang sedang menangis.
Bukan tiba-tiba ia mengerjai adik kelasnya. Semua berawal karena Rafa yang menjadi korban perundungan awal selalu menghilang di kelasnya saat jam istirahat. Ia pikir adiknya itu benar-benar menghindar darinya, tapi pada kenyataannya Rafa sedang memerhatikan Claudi dari jauh. Dan jika dipikir, Claudi memanglah anak yang menggemaskan.
Tak butuh waktu lama hingga terbentuk lambang awan di depan mata seseorang yang menerima piloks tadi. Sang pelukis pun mengamati hasil karya buatannya.
__ADS_1
Awan, itu adalah perlambang seorang Claudi, selain dari namanya yang hampir sama dengan kata cloud. Claudi yang sering menangis pun persis seperti awan saat sedang hujan.
***
Vallen menyuapi Rafa pagi hari ini setelah malam kemarin melakukan hal serupa sepulangnya dari kamar Devan. Tunangan Vallen itu tak banyak bicara, masih menetralkan perasaannya untuk kembali bersikap seperti biasa.
"Terakhir, Fa," kata Vallen sembari menyatu-nyatukan sisa makanan yang tinggal sedikit tertinggal di mangkuk.
Rafa pun membuka mulut saat Vallen menyuapkannya. Setelah itu, Vallen menyimpan alat makan di atas nakas, kemudian mengasongkan gelas untuk Rafa.
Pandangan Vallen tiba-tiba menurun dan seolah dirinya sedang merenungi banyak hal. Kejadian itu tak lepas dari perhatian Rafa yang tengah meneguk minumannya.
"Kenapa?" tanyanya Rafa pelan.
Vallen menggeleng. "Gapapa."
"Val."
"Iya?"
"Bantuin gue belajar jalan," pinta Rafa yang disambut dengan anggukan gadis itu.
Vallen pun mengulurkan tangan untuk membantu Rafa turun dari brangkar.
__ADS_1
Setelah kaki cowok tersebut memijak lantai, satu tangannya memegang tepi kasur, dan satu lagi bertumpu pada lengan Vallen.