
Sepatu sekolah mereka terus mengetuk jalanan yang tanpa sadar kaki mereka membawa dua insan itu ke sebuah taman. Taman indah yang dihiasi berbagai warna di dalamnya. Taman yang memiliki aliran sungai kecil di tengahnya.
Vallen mengerjapkan mata sembari melihat sekeliling. Kesadarannya sontak membuat ia berhenti berlari. Hal itu mengakibatkan Devan yang daritadi mengejar akhirnya bisa menangkapnya.
Vallen meneguk ludah seraya melihat tangan Devan yang memeluknya dari belakang, tangan itu sekarang melingkar di depan dadanya, lebih tepatnya sejajar dengan bahu.
"Inget?" tanya Devan.
Ini kedua kalinya ia bertanya, dan Vallen akan menjawab lagi dengan bagaimana mungkin dia bisa lupa, sekali pun dalam hati.
"Makasih udah buat gue bahagia hari ini," ucap Devan pelan di dekat telinga Vallen. "Inget hari ini hari apa?"
Vallen mengerutkan kening, jadi maksud Devan daritadi itu ingat waktu bukan ingat tempat?
Gadis itu kemudian mengangkat ponselnya yang sedari tadi memang dipegang. Ia membukanya, lalu sebuah tanggal, bulan, dan tahun pun terpampang.
__ADS_1
Sial, kenapa dia bisa lupa kalau sekarang adalah hari jadian mereka? Hari ini, tepat di taman ini satu tahun lalu, seorang Devan Mahesa Anggara dengan sangat berani mengungkap perasaannya pada Vallen, mengungkap keinginannya untuk bersama wanita itu, juga mengungkap seberapa besar rasa cinta dan ketulusan yang ada di hatinya.
Devan tersenyum pahit tanpa dilihat Vallen. Ia sadar sekarang bukan tanggal anniversary-nya, mereka sudah putus bahkan sebelum menginjak hari ini.
Beda halnya dengan Vallen yang tak menunjukkan ekspresi yang bagaimana, ia hanya berdiri membeku saat ingat seberapa senangnya ia setahun lalu, saat menerima buket bunga dari Devan, saat menerima semua perlakuan manis dari cowok itu. Devan adalah cowok yang selama ini hanya berstatus sebagai seorang teman, dan kemudian resmi berubah statusnya menjadi pacar di tanggal ini, tahun kemarin.
Semenjak Sekolah Dasar, Devan sudah ada untuk mewarnai hidup Vallen, melindunginya dari murid nakal yang suka mem-bully gadis tersebut, menenangkannya saat ia menangis, menghiburnya di saat dia sedih, mengubah mood-nya saat dia sedang marah, semua Devan lakukan dengan sabar.
Mata Vallen memanas, ia mungkin merasa baik-baik saja tadi karena memang hanya ada Devan di matanya. Jika ia sedang jauh dari Devan pun Vallen yakin ia akan menggalaui makhluk satu ini juga. Devan terlalu membekas.
"Vallen, gue menghargai keputusan lo buat nyudahin ini semua, gue berusaha ngerti alesan yang bahkan gak pernah lo bilang, dan sampe sekarang pun gue gak dapet alesannya apa. Tapi Val, gue gak bisa terus-terusan gini. Gue butuh lo."
"Dev ...."
Devan menggeleng. "Tolong biarin gue nuntasin apa yang mau gue omongin."
__ADS_1
"Dev, udah mendung," alasan Vallen.
"Selama kita putus, gue semakin sadar kalo gue butuh lo ada di samping gue, Val."
"Dev, percaya sama gue. Banyak cewek yang lebih baik dari gue di luar sana ...." Vallen mengucapkannya dengan tak bertenaga, seketika ia merasa lemas jika sudah membahas perasaan bersama Devan.
"Mungkin banyak, tapi bagi gue cewek yang lebih baik dari lo belum tentu sesuai sama hati gue. Lo tau? Kalo satu kepingan puzzle milik lo ilang, terus lo nemu kepingan puzzle lain yang semisal kualitas gambarnya lebih bagus atau warnanya lebih cerah, tapi pas ditempel gak bisa, gak nyambung, percuma!"
"Dev, gue pengen pulang sekarang."
Devan tersenyum miris. "Val bahkan lo gak ngasih kesempatan gue buat lanjut ngomong?" Ia kemudian berdecak.
"Please, gue mau pulang."
Vallen tahu ini bukan hal yang baik, menghindari pembicaraan yang bagi Devan itu sangat penting. Namun ia bisa apa saat ini selain menghindar?
__ADS_1
***