
"Bi ... Vallen bantu yah."
"Gak usah, Non," tolak Bi Adab yang hendak mengambil apa yang Vallen pegang.
"Gapapa, Bi. Vallen aja."
Ia pun tersenyum lantas memindah-mindahkan piring ke meja makan. Tak lupa, Vallen berlari ke ruang keluarga untuk memanggil Hilman yang sedang menonton tv.
"Ayah makan malemnya udah siap ...."
Hilman mengangguk. Ia pun berjalan berbarengan dengan Rafa yang baru turun tangga.
Mereka pun makan bersama, setelah beres, Vallen langsung naik ke kamar. Tadinya ia juga mau membantu cuci piring, tapi Bi Adab bilang tidak usah.
"Yah, Bi, Rafa ke kamar dulu," pamit laki-laki itu.
Rafa masuk ke kamarnya, kemudian ia menemukan Vallen yang sudah tidur saja. Biasanya cewek itu yang susah tidur tiap malam, tumben sekarang tidak. Rafa menutup pintu dan sementara menyender ke papan itu, melihat wajah Vallen yang menghadap kemari, tapi sebagiannya tertutupi oleh helaian dari rambut hitamnya. Rafa berpikir mungkin gadis itu terlalu lelah karena menunggu hujan reda.
Rafa pun berjalan ke meja belajarnya, menyalakan laptop untuk mencari eksperimen apa yang bisa ia lakukan untuk demo eskul.
Dirinya hanya ditemani oleh detak jam dinding serta suara keyboard saat ia mengetik. Sepi jika Vallen tidur, tidak ada suara-suara menganggu, tapi rasanya Rafa tak suka jika begini, membuat aktivitasnya terasa lebih cepat membosankan.
***
"Mpph---"
Seorang cewek menggeleng seraya menitihkan air mata saat ada yang membekap dan menyeretnya secara paksa. Orang itu memasukannya ke dalam mobil. Seusai menutup pintu mobil, orang tersebut turut masuk ke jok pengemudi. Terbit sebuah senyum di wajahnya. Ia lalu menalikan tangan cewek itu karena berontak hendak membuka pintu mobil.
__ADS_1
Selesai.
Cowok itu pun memakaikan seatbelt pada si cewek. Setelahnya, ia mengelus pipi mulus itu dengan tatapan sedih. "Kamu gak boleh pergi ...," lirih sang cowok.
Si cewek kali ini bisa menatap balik sekali pun ia tetap menitihkan air mata. "Jangan gini terus, aku mohon ...," pintanya.
Cowok itu mengelus rambutnya pelan, tapi kemudian ia malah menampar pipinya dengan keras karena cewek ini terus menggeleng tak karuan. Tangisnya pun makin menguat. Isakan terus memenuhi suara dalam mobil. "Ber-hen-ti ...."
***
"Mamah ... papah ...."
"Mah ...."
"Pah ...."
Rafa membuka matanya mendengar suara itu. Vallen meracau, bahkan di sekitar matanya basah.
"Vallen ...." Rafa menepuk bahu gadis itu dengan pelan.
"Hiks ...."
"Val, Vallen!"
"Hiks."
"Vallen Claudia Arunika lo kenapa?"
__ADS_1
Vallen pun membuka matanya. "Rafa ...," panggilnya yang kemudian disusul oleh tangisan.
Rafa mulai panik, ia segera memegang pipi Vallen, hangat. Kemudian ia mengecek pula kening dan lehernya, lantas membandingkan dengan suhu tubuhnya sendiri. Gadis itu lebih panas dari suhu Rafa.
Mungkinkan Vallen demam karena hujan-hujanan?
"Rafa telfonin mamah papah ...."
"Val, udah malem."
"Gue kangen mereka. Hiks."
"Lo demam, Val."
"Rafa dingin ...," celotehnya lagi.
Rafa langsung duduk, ia pun turun dari kasur untuk mengambil air hangat di dapur. Lelaki itu juga mencari handuk kecil di lemari, lantas naik lagi ke kasur.
Ia menyingkirkan dulu rambut yang menghalangi kening Vallen sebelum mengompresnya.
"Rafa ...."
"Hm?"
"Mau minum."
"Bentar gue ambilin." Lagi, Rafa kembali ke dapur untuk mengambilkannya.
__ADS_1
Ia pun membantu Vallen untuk duduk, pula menahan punggungnya selama cewek itu meneguk air.
Vallen melepas gelasnya perlahan, menyebabkan Rafa yang sedaritadi ikut memegang gelas pun paham bahwa ia telah selesai minum. Vallen kembali tiduran, sedangkan Rafa kembali mengompres kening dan lehernya secara bergantian.