Pear

Pear
73


__ADS_3

"Oke dan penampilan selanjutnya adalah dari eskul futsal!" Suara MC membuat pandangan Vallen langsung tertuju ke depan, sekarang bagian Satria, si ketua eskul futsal untuk tampil.


Belum saja anak futsal itu semuanya sampai ke tengah lapang untuk salam pembuka, Vallen sudah mengalihkan lagi matanya. Ia menatap segerombolan anak berjas laboratorium yang berjalan menuju air mancur sekolah. Mata Vallen sangat mengenali dua orang yang memimpin jalan gerombolan itu, siapa lagi kalau bukan Rafa dan Ina. Eskul olimpiade memang sudah tampil sebelum-sebelumnya dan sekarang mungkin mereka sedang melakukan sesi foto.


"Kita pulang jam berapa sih?" tanya Devan yang membuyarkan pikiran Vallen tentang Rafa.


"Umm, jam 1."


Jadwal pulang SMA Arcturus hari ini dan besok memang jam segitu karena memang hanya diadakan demo eskul saja.


"Eh, Dev!"


"Hm?"


"Lo pulang naik taksi online aja yah," pinta Vallen yang khawatir Devan tak bisa mengendarai motor dengan benar karena keadaannya begini.


"Gue gak bisa ninggalin motor di sekolah, Val."


Vallen menggigit bibir bawahnya, tak ada lagi yang bisa ia lakukan juga sih. Maka darinya ia kembali menyimak Satria yang menggiring bola ke sana kemari. Namun lagi-lagi Vallen harus menghadap Devan karena cowok itu bertanya.


"Val, lo bilang mau rawat gue kan?"


"Iya."


"Hari ini ikut ke apart gue yuk!"


"Hah?"


"Lo ... tau kan Val gue gak akan lakuin aneh-aneh. Ada yang lain juga kok, Satria sama Bayu. "


Iya tau.


Vallen pun menyipitkan matanya. "Mmm, kalo Rafa?"


"Nah gue gak tau hari ini Rafa nganter Ina lagi apa ngga. Kalo dia nganter kan bisa jadi mereka jalan-jalan dulu, jadi gak bisa."


"Oh gitu." Vallen kemudian melihat Rafa dan Ina lagi. Ia pun mengangguk sebagai jawabannya.

__ADS_1


***


Vallen pamit pada Chela dan Nasya untuk ke toilet karena ingin ganti baju menjadi seragam lagi, tapi di persimpangan ia tak sengaja bertemu Rafa. Sesaat gadis itu celingukan mencari anak buah Rafa yang berjas putih-putih tadi, tapi nyatanya tak ada.


"Cie jomblo," ledek Vallen yang nadanya terkesan datar. Sayang sekali hal itu hanya dijawab dengan deheman saja.


"Fa, pulsek gue mau ke apartemennya Devan," izin Vallen yang masih sadar diri kalau dia itu tunangannya Rafa.


"Ngapain?"


"Rawat Devan."


Rafa mengerutkan kening, tak mengerti maksud Vallen. "Rawat? Devan kenapa?"


"Luka gara-gara pas turun gedung tadi."


"Oh."


"Lo nganter Ina lagi hari ini?"


Vallen pun mengangguk singkat dan melanjutkan jalannya lagi. Namun, tangan Rafa seketika menahan keningnya, membuat Vallen refleks memejamkan mata saat telapak tangan itu mengenainya.


"Gue ikut ke apart Devan."


Rafa pun kembali menurunkan tangan dan memasukkannya ke saku. Ia kemudian pergi, meninggalkan Vallen yang menginjak lantai dengan kesal.


Dipikir jidat gue maling apa, main portal-portal jalan pake tangan segala!


***


"Val sama gue?" tanya Devan yang sudah naik ke motornya, tapi nadanya terdengar ragu. Cowok itu takut juga jika tiba-tiba rasa perih ini membuatnya tak fokus saat mengendarai motor.


"Sama kita aja deh Dev si Vallen," saran Satria yang memang hendak Devan utarakan juga. Hanya saja melihat Vallen yang bingung harus naik ke mana, Devan juga jadi tak enak bilangnya.


"Eh Fa, itu helm tadinya buat anter pulang Ina ya? Udah deh lo aja yang bareng Vallen, mumpung ada helmnya juga kan?" Bayu mengeluarkan pendapatnya.


Mendengar itu, Devan jadi minta maaf pada Rafa sebab sahabatnya itu jadi tak pulang bersama dengan Ina karena dirinya.

__ADS_1


Rafa memandang Devan tanpa arti, lalu mengiyakan ucapan Bayu. Ia melihat Vallen dan kemudian menggerakkan kepalanya agar gadis itu mendekat. Setelah itu, Rafa memberikan helmnya.


"Udah?" tanyanya untuk memastikan Vallen sudah naik ke motor dengan benar.


"Udah."


Motor pun melaju dengan motor hitam Rafa yang berada di paling depan. Alasannya agar Devan dan yang lain bisa memastikan Vallen baik-baik saja.


Vallen diam, mengingat ucapan Bayu tentang helm ini untuk Ina bisa jadi benar adanya, siapa tahu Rafa mengantar Vallen sekali pun setengah jalan hanya untuk melaksanakan suruhan ayahnya, sedangkan jauh di lubuk hati Rafa, cowok itu ingin mengantar Ina.


Tiba-tiba lampu pun merah, padahal Rafa tadinya hendak menerobos lampu kuning yang masih ada beberapa saat sebelumnya. Hal itu pun membuat ia mengerem mendadak.


Vallen terkesiap dan tubuhnya maju ke depan hingga ia memegang pinggang Rafa dengan spontan. Tubuhnya pun menabrak tas di punggung Rafa dengan cukup keras.


"Lo ngelamun?" tanya Rafa, karena menurutnya jika Vallen sadar ia tak akan terlalu lemas dan menjatuhkan tubuh seperti itu.


"Gak."


Mendengar jawaban singkat itu membuat Rafa kembali fokus ke jalan. Sedangkan Vallen memundurkan duduknya dan menunduk.


Dari kaca motor, Rafa bisa melihat gadis itu murung.


"Val?" panggilnya yang sebisa mungkin tak melirik ke pinggir. Ia tak mau teman-temannya menyangka dirinya dan Vallen akrab.


"Hm?"


"Lo gapapa?"


"Gapapa."


Hati Rafa tiba-tiba saja merasa tidak enak, tapi entah untuk urusan apa, apa mungkin karena Vallen?


🍐 Bersambung ....


Jangan lupa vomment guysss


Makasiii 🥰

__ADS_1


__ADS_2