Pear

Pear
Chapter 17 (1)


__ADS_3

Motor hitam dengan gagahnya melaju kencang membelah jalan dengan tirai air indah yang turun dari langit. Beruntunglah sore ini hujan datang dengan santai, tidak ada guntur menyeramkan seperti malam kemarin. Di belakang Rafa juga ada Vallen yang asyik menampung air di tangannya. Ia bahkan membuka helm dan menengadahkan kepala. Merasakan kesegaran dari butiran air yang menyentuh wajahnya. Seulas senyum pun ia perlihatkan pada langit.


Hanya sebentar hal itu terjadi, sebelum akhirnya rinai indah lama-lama berubah semakin kejam dan memukul-mukul bumi dan siapa pun yang berada di atasnya dengan cukup keras.


"Rafa, berteduh dulu!" teriak Vallen yang samar masih bisa Rafa dengar.


Tanpa menjawab, sang pengendara motor langsung mengegas lagi motornya. Menjalankannya dengan kencang sampai membuat genangan air yang terkena bannya jadi memercik kemana-mana.


Vallen memegang tas hitam Rafa dengan erat hingga sampailah mereka di depan minimarket. Motor pun terparkir dan Vallen segera turun. Ia berlari sambil mengibaskan bajunya yang terkena air. Selanjutnya, ia mendorong pintu yang tulisannya 'tarik'.

__ADS_1


Di dalam sana, Vallen berjalan-jalan mengitari rak penuh makanan. Ia lalu tersenyum karena merasa Rafa membawanya ke surga dunia. Langsung saja dia mengambil snack tortilla jagung, keripik kentang, dan cokelat. Kaki gadis itu pun berlari menuju freezer ice cream.


"Fa, bayarin yah!" kata Vallen setelah menutup kaca freezer. Ia menatap Rafa dengan mata berbinar, sedangkan tangannya memeluk belanjaan. Tanggung jika mengambil keranjang tadi, soalnya Vallen hanya membeli sedikit barang.


Rafa yang baru saja jalan mendekat segera memutar bola mata malas. "Gak usah minta juga tiap kali gue bayarin lo."


Vallen tertawa puas. "Iya sih, bagusnya ... gak pelit itu satu-satunya sisi positif yang bisa gue ambil dari lo. Selebihnya ..." Vallen menyender pada lemari pendingin dekat sana, kemudian memperhatikan Rafa dari ujung kaki sampai ujung kepala. "... gak ada. Lo jelek, lo nyebelin, lo garing, gak humoris, gak romantis." Vallen mengangguk-ngangguk sendiri membenarkan ucapannya, setelah itu, ia berjalan ke kasir dengan wajah tanpa dosa.


Rafa pun memberikan uangnya ke mbak-mbak kasir dan mereka berdua keluar. Karena masih hujan, mereka duduk di kursi yang ada di depan minimarket itu. Vallen menghela napas seraya merapatkan bibirnya saat melihat langit. Ia pun membuka bungkus keripik, lalu memakannya satu. Menyingkirkannya, lalu membuka bungkus snack tortilla, kemudian mulai mencamilinya secara bergantian.

__ADS_1


Vallen mengeluarkan ponsel yang rasanya jadi jarang ia mainkan selepas putus dari Devan. Jarinya bergerak mengecek ig dan ia pun baru menyadari dirinya sudah lama tidak memposting sesuatu, juga baru sadar fotonya dengan Devan masih lengkap di sana. Pantas saja Arcturus tidak heboh, dan kelihatannya juga tidak ada orang yang berprasangka aneh-aneh tentang hubungan mereka.


Setelah cukup lama Vallen berselancar di akun sosmed, ia menutup lagi ponselnya, gadis itu membiarkan saja isi instagram-nya begitu toh bukan sesuatu yang mengganggunya. Ya maksudnya tidak terlalu mengganggu, bagaimana pun Vallen masih kepikiran tentang Devan. Saat melihat wajahnya pun rasanya Vallen ingin selalu memuji karena tampang dan perilaku cowok itu benar-benar selaras.


Vallen menyender pada kursi, ia pun membuka bungkus cokelat, lalu memakannya satu potong. Dan kemudian Vallen baru ingat ice cream-nya belum dimakan, semoga saja tidak cair.


"Ujan gini malah makan yang dingin," cibir Rafa.


"Suka-suka gue! Kok lo yang repot sih."

__ADS_1


"Serah."


__ADS_2