Pear

Pear
120


__ADS_3

Pagi ini Ina telah meminta Chela untuk berangkat bersama ke sekolah, dengan begini Marvel yang mungkin saja sedang mengawasi di depan rumah Ina bisa mengurungkan niatnya untuk menculik kembali gadis itu. Dan sepertinya cara itu berhasil, Ina sekarang sudah berada di dalam taksi online bersama Chela, dan pasti seorang sopirnya juga.


Usai melihat ke belakang untuk mengecek apakah motor Marvel mengikutinya atau tidak, Ina pun kembali menghadap depan. "Keadaan Rafa gimana sekarang?" tanyanya.


Chela yang sedang menyisir rambut pendeknya sembari mengaca di layar ponsel segera menoleh pada Ina. "Dia masih koma."


Helaan napas pun terdengar dari lawan bicaranya Chela, gadis itu kemudian menatap keluar kaca mobil.


"Sedih banget gue masih belum bisa jenguk dia ...." Ina menggigit bibir bawahnya. Khawatir pada Rafa, ingin jenguk, tapi seperti tak punya tenaga untuk kabur dari pacarnya sendiri.


Saat terbesit sesuatu di pikirannya, Ina langsung melirik Chela kembali. "Eh! Kalian udah tau siapa yang racunin Rafa?" Sebelumnya Ina memang sudah pernah Chela kasih tahu tentang Rafa yang keracunan, hanya saja tidak banyak informasi lagi yang didapatnya setelah itu.


"Belum. Dan lo tau, Na? Ayahnya Rafa malah ngelarang kita buat cari tau. Bukan kita doang sih, Bu Anggi sama panitia penanggung jawab yang ikut ke RS waktu itu juga disuruh tutup mulut masalah ini. Alhasil sekarang sekolah sepi, gak ada yang bahas Rafa, soalnya yang mereka tau Rafa udah baik-baik aja, cuma butuh istirahat di rumah."

__ADS_1


Ina mengerutkan keningselamam mendengar penjelasan Chela. "Kok? Terus kalian nurut buat gak nyari tau?"


"Gue sama Nasya sempet diskusi sih, cuma gak nemu juga tersangkanya siapa. Mau nyalahin Erkan yang udah dipukul Rafa waktu itu? Tapi aneh gak sih, mereka kan berantem pas acara udah setengah jalan, masa Erkan sengaja nyiapin racun sebelum ke sini. Kecuali tuh orang udah keparat bar-barnya!" Chela membuka tutup produk lip tint-nya yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas. "Menurut lo gimana, Na?"


***


"Sttt, Val!" bisik Nasya sambil melotot pada Vallen yang serius dengan pekerjaannya.


"Sttt, ish!"


"Nethink aja lo! Gue mau minjem pulpen! Yang gue macet ...."


"Tuh tuh ambil," kata Vallen sembari menyodorkan tempat pensilnya yang sudah terbuka lebar.

__ADS_1


Nasya pun memilah-milah dengan teliti isi barang tersebut, dibantu dengan matanya untuk menemukan pulpen hitam. Namun tidak ditemukan, yang ada adalah pulpen warna-warni dan pensil mekanik.


"Gak ada et dah!"


"Masa sih?" tanya Vallen. Ia pun merebut tempat pensilnya kemudian mencari satu-satunya pulpen hitam lain yang seharusnya ada di sini. Pulpen yang plastik bagian 'tekan-tekannya' berwarna biru muda, dan badannya berwarna putih. Pulpen itu tak polos, ada motif kucingnya. Benda tersebut dibelikan oleh Devan saat mereka jalan-jalan di mall.


Dan benar saja, pulpen itu tak ada.


"Pinjem ke yang lain aja deh, Nasy," saran Vallen.


***


Satu cup jus alpukat beserta sedotan yang masih belum ditusuk tiba-tiba mendarat di meja kantin depan Vallen. Segera gadis itu melihat sang pemilik tangan yang sudah menyimpan jus tersebut.

__ADS_1


"Gue gak pesen," ujarnya sembari menggeleng kecil.


"Gue yang pesen," balas orang tersebut--orang yang tak lain dan tak bukan adalah Devan. Cowok itu lalu duduk begitu saja di sebelah Vallen.


__ADS_2