Pear

Pear
98


__ADS_3

Langkah kaki terdengar mendekat setelah sebelumnya ada suara pintu yang ditutup. Tak lama, suara langkah itu pun berhenti dan digantikan oleh suara wanita paruh baya yang menggema di kamar ini. "Rafa, kamu lagi gambar apa?" tanya wanita itu.


"Rafa lagi gambar rumah! Nanti Rafa mau punya rumah kayak gini di masa depan."


Mendengar jawaban Rafa, seseorang yang sedang tidur di kasur dengan posisi miring langsung tersenyum sinis sambil memandang tembok di hadapannya. Dirinya berkata dalam hati bahwa yang Rafa katakan tadi itu ia pastikan hanya mimpi belaka dan tak pernah terwujud.


Lalu selanjutnya yang ia dengar adalah suara keheningan atau sekadar gesekan antarbenda saja, seperti elusan rambut juga arsiran pensil dan kertas.


"Bunda ...." Suara Rafa lagi.


"Apa, Sayang?" tanya wanita itu dengan nada teramat baik.


Cih! Ke Rafa selalu bilang sayang, tapi pada orang yang kini sedang terbaring karena tak enak badan pun perhatiannya sangat minim, bahkan tidak ada.


Senyum miring terlukis di wajah seseorang kala Marvel datang. Ia keluar dari lamunannya dan langsung menyenderkan tubuh dengan santai ke sandaran sofa.


"Titipan gue udah lo sampein?"


***


Bi Adab sudah membereskan kekacauan, dibantu juga sedikit oleh Vallen sebelum akhirnya ia menyerah karena mual.

__ADS_1


Sekarang Vallen dan Rafa sudah duduk di kasur. Rafa yang menyender sembari menatap lurus ke depan. Dan Vallen yang memegang tangan kanan Rafa menggunakan dua tangannya, setidaknya agar membuat cowok itu merasa aman.


Vallen menghadap pinggir seraya menempelkan kepalanya ke tembok. "Fa, udah dong kagetnya. Jangan ngelamun terus ...."


Tangan kanan Vallen kemudian memegang pipi Rafa dan mengarahkannya agar menatap dia. "Makan malem dulu yuk," ajaknya.


Rafa menggeleng lemah.


"Gue bawain aja deh makanannya ke sini. Ya?" Belum mendapat jawaban, tapi Vallen sudah langsung melepas pegangannya pada Rafa, ia pun turun dari kasur. Namun dengan cepat Rafa menahannya dan menggenggam tangan cewek tersebut.


"Hm?" tanya Vallen bingung.


"Jangan lama-lama."


Setelah mengucapkan itu, Vallen langsung tersenyum, tapi sebelum pergi ia merapikan sebentar rambut Rafa, menyisirnya menggunakan satu tangan yang tidak digenggam. Rasanya Rafa seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal orangtuanya di keramaian karena takut hilang, buktinya ia setia memegang tangan Vallen.


"Dah, bentar kok. Fa Jelek ganti baju dulu gih. Gak usah mandi gapapa, tapi jangan lupa cuci tangan sama cuci kaki. Oke?"


"Um."


"Btw ...."

__ADS_1


Rafa mendongak menatap Vallen.


"Maaf ya tadi gue gak sopan. Lagi dateng matahari, hehe." Gadis itu tertawa kikuk dengan Rafa yang membalasnya menggunakan anggukan mengerti.


***


"..."


"Udah beres!" jawab Marvel bangga dengan kerjanya sebagai pengantar surat dadakan, ya ... dia hanya kebagian memberinya pada beberapa anak basket Arcturus sih. Yang bertugas mengirimkan pada murid SMA lain beda orang. Lagi pula dia dan orang di seberang sambungan sana tidak tahu ketika tanding nanti akan melawan siapa, jadi kirim surat ke semuanya saja.


"..."


"Yo!"


Setelah itu, sambungan pun terputus.


Marvel kembali berbaur dengan geng Rigel, geng yang isinya bahkan mereka yang sudah lulus SMA atau tidak melanjutkan sekolah. Intinya hanya Marvel lah yang masih sekolah di antara perkumpulan itu.


"Oy Bro!" sapa Putra yang baru pulang dari minimarket untuk membeli makanan, dia tak sendiri, Frian juga turut ke sana, karena mereka berdua memang diutus sebelumnya tadi.


"Wesh, makanan dateng!" puji Marvel.

__ADS_1


***


__ADS_2