
Vallen yang tahu sumber masalah ini segera menanganinya. Ia menutup mulut Chela dan otomatis Satria berhenti menari. Vallen mengerjapkan mata, lalu melepas lagi mulut Chela. Tahunya anak itu lanjut bernyanyi, dan Satria kembali bergerak. Akhirnya Vallen malah membuka tutup mulut Chela seperti sedang memukul gendang. Vallen senang sendiri ternyata dengan permainannya, pula teman-temannya yang tertawa karena hal sesepele ini. Namun satu hal yang harus Vallen ingat, sehabis ini ia harus mencuci tangan dengan bersih!
Di tengah acara mereka tertawa, Ina berjalan mendekat pada Rafa, satu-satunya cowok yang tidak ikut tertawa. Ina sendiri bingung kenapa Rafa jadi beku begini, padahal dua tahun lalu Rafa adalah lelaki yang hangat dan suka tertawa bersamanya.
"Hai!" sapa Ina.
Rafa tidak menoleh, ia melihat Bayu yang sedang bicara untuk menjelaskan eskulnya dengan duduk di atas dinding.
"Pernah manjat tebing, Fa?" tanya Ina yang masih mencoba merebut perhatian Rafa.
"Tebing beneran?"
"Ha-ah."
"Belum."
"Kalo tebing di tempat main gitu pernah ya?"
"Hm."
"Sama. Kalo naik gunung? Selain acara dari sekolah gitu."
"Belum."
"Sama. Kali-kali coba yuk!" ajak Ina yang tak direspon oleh Rafa.
__ADS_1
Cewek itu menghembuskan napas kasar, tapi tetap mempertahankan kesabarannya. "Fa pulang sekolah ini lo ada acara?"
Diam sebentar.
"Ada."
***
Beberapa hari ini Vallen tak banyak omong, yang menemani Chela heboh malah berganti Nasya. Padahal dulunya Nasya yang paling kalem di antara mereka bertiga, mungkin memang benar adanya jika 'kegilaan' itu sebenarnya bisa menular seiring berjalannya waktu. Saat istirahat pertama tadi Chela, Nasya, dan Ina sudah bertanya Vallen ada apa, ya Ina juga ikutan. Sekali pun ia murid baru, tapi hari-hari awal ia masuk sekolah juga sudah bisa merasa bahwa Vallen adalah anak yang ceria. Namun beda halnya dengan akhir-akhir ini.
"Gue gapapa," jawab Vallen terus-terusan yang tentu tak mereka percayai. Hingga sampai pulang sekolah pun, ketiga orang itu tidak mendapat penjelasan.
"Yaudah deh semua, gue duluan ya!" pamit Nasya sembari melambaikan tangan, yang lain pun membalasnya.
"Val lo jadi jalan sama Devan?" tanya Chela.
"Semangat Vallen!" kata Ina sambil tersenyum manis. Ia kemudian pamit dengan alasan akan menemani Rafa ke suatu tempat.
Vallen mengernyitkan kening, tapi ia tidak sempat bertanya karena Ina sudah pergi duluan. Yang ia tangkap dari omongan Ina adalah 'menemani' itu berarti ada kemungkinan Rafa yang memintanya sendiri. Seketika hatinya serasa diremas entah oleh apa, tapi yang perlu dikatahui adalah itu terasa sakit.
"Lo tau mereka ke mana?" tanya Vallen seraya menoleh.
"Ina gak sempet cerita."
Vallen pun membuang pandangannya ke arah lain sembari mengeratkan genggaman pada tali tas punggungnya.
__ADS_1
"Val!" panggil seseorang.
Itu suara Devan, saat Vallen berbalik badan, yang didapatnya adalah Devan membawa mobil hari ini. Pertanyaan besar langsung muncul dalam benaknya, yaitu 'kenapa?' padahal selama ini juga Devan lebih sering memakai motor.
"Ayo masuk." Devan menggerakkan kepalanya.
"Chel, duluan yah. Bye."
"Ati-ati Val!"
"Um."
Vallen pun naik ke mobil hitam tersebut dan langsung memasang seatbelt-nya. Devan kemudian menjalankan mobil untuk meninggalkan area SMA Arcturus.
Belum sampai satu kilometer dari sekolah, mereka sudah disambut oleh lampu merah. Devan segera mengerem, kemudian mengeluarkan permen karet dari saku, ia pun memakannya.
Melihat Vallen yang terdiam di sebelah, membuat Devan mengeluarkan permen lainnya.
"Mau?" tawar Devan. Yang ada di tangannya bukanlah permen karet melainkan permen lolipop susu rasa melon. Tanpa menjawab, Vallen langsung menerimanya.
"Makasih."
"Iya."
Devan membeli itu sengaja untuk Vallen, di kursi belakang juga sebenarnya masih banyak yang lainnya, takut-takut Vallen gabut selama perjalanan, lebih baik dia sibuk dengan permennya saja.
__ADS_1
Bagi Devan, Vallen masih anak kecil, soalnya menggemaskan. Masih mending gadis itu sekarang diam, iya sih toh baru juga beberapa menit, dulu kalau Vallen bosan pasti merengek dibelikan balon bentuk anjing. Jika Devan tidak dapat menemukannya, ia yang harus jadi anjingnya dan meloncat seolah sedang terbang di udara. Ya ... senista apapun dirinya di hadapan Vallen, cowok itu tetap menikmatinya.