Pear

Pear
114


__ADS_3

"Sama Chel! Gue juga khawatir sama Rafa, tapi Vallen tuh beda ...," ucap Nasya sembari memandang ke arah Chela.


"Bukan cuma lo pada yang bingung, gue juga," kata Bayu yang malah duduk di atas meja.


"Apa lagi yang tadi ya, Chel?" tanya Nasya.


Devan melirik Nasya. "Tadi kenapa?"


"Tadi, pacar lo ... meluk Rafa."


Deg.


Sebuah panah seakan menusuk tepat ke hati Devan, bukan panah cinta melain panah kesakithatian yang amat mengguncang dirinya. Satria dan Bayu pun sontak melihat pada Devan. Namun yang mereka tangkap adalah Devan diam saja.


"Dev?" panggil Nasya.


"Vallen udah bukan pacar gue. Lo ... salah sebut, Nasy," ralat cowok itu.


"Se-sejak kapan?!"


"Udah lama."

__ADS_1


Nasya diam. Lalu mereka semua pun keluar kelas dengan menyalakan flash hp-nya.


Setelah sampai diparkiran, Satria menawarkan agar tas Rafa dibawa dia saja, tapi Devan menolaknya.


***


Ayahnya Rafa menampar seseorang yang baru saja keluar dari rumah, tamparannya sangat keras hingga menyisakan warna merah yang membekas di pipinya.


"Keterlaluan kamu!"


Orang yang ditampar itu diam sambil menyorot wajah Hilman dengan kesal.


"KURANG DIKASARIN APA HAH KAMU DENGAN SAYA?! JADI ANAK TIDAK ADA TAKUT-TAKUTNYA!"


"ANDA PIKIR SAYA HARUS TAKUT DENGAN ANDA?" bentak orang tersebut yang umurnya sekitar 19 tahunan. Emosinya meledak-ledak. Ia pun maju mendekati Hilman, lalu menonjoknya.


"Kamu anak! Seharusnya nurut! Dari kecil selalu saja buat keributan. Kalau kamu iri dengan Rafa, jadilah seperti dia!" Sebuah bogem mentah Hilman daratkan di wajah orang tersebut.


"Lahir dari pernikahan yang sah dan keluarga baik-baik saja?! ANDA PIKIR SAYA TIDAK MAU TERLAHIR SEPERTI ITU?!" Orang itu mencengkeram kemeja Hilman sambil menatapnya dengan mata yang memerah. "RAFA HIDUP TERLALU BAHAGIA! Sudah sepantasnya dia menerima ini semua."


"Akan saya adukan kamu ke polisi!" Hilman mendorong orang itu sampai tangannya melepaskan kemeja dia.

__ADS_1


"Akan saya laporkan Anda juga ke polisi! Semua setimpal, ayo jika Anda siap dibawa ke penjara. Hidup saya sudah hancur sehancurnya, tanggung. Mau Anda hancurkan lagi? Silakan. Tapi jangan harap jika kita berdua ada di penjara, Rafa akan baik-baik saja di sini. Banyak anak buah saya yang bisa mencelakakan dia."


Hilman menendang sekali lagi orang itu, lantas ia pergi ke mobilnya.


***


"Jaga ucapan lo!"


"Sekali lagi lo rendahin Vallen ...


... abis lo sama gue!"


"Gue mau liat Rafa!"


"Gimana gue bisa tenang kalo Rafa kayak gitu?!"


"Dev, bilang sama gue, Rafa bakal sadar kan?"


"Devan ayo bilang sama gue! Bilang 'iya Rafa bakal sadar' ...."


Devan mengetukkan kepala ke senderan kursi sembari menutup mata, tapi kemudian ia membuka matanya. Kemudian wajah dengan rahang yang tegas itu menerima sentuhan lembut dari angin yang berkunjung ke balkon apartemennya pagi hari ini.

__ADS_1


Cowok itu menghela napas. Bingung harus apa, bingung harus bagaimana, bingung harus menanggapi seperti apa jika seandainya ada sesuatu antara Rafa dan Vallen. Satu sisi ia ingin Vallen bahagia, sisi lainnya ia masih ingin punya kesempatan bersama gadis itu. Gadis yang sudah terlampau lama mewarnai kehidupannya, hingga akhirnya ia sangat bergantung dengan adanya Vallen.


Devan bangkit dari duduknya, lalu berjalan dan memegang pembatas balkon.


__ADS_2