Pear

Pear
137


__ADS_3

Atmosfer di ruangan Rafa sangat berbeda dari sebelumnya. Kali ini auranya mampu membuat Vallen ketakutan. Langkah gadis itu terlihat gontai semenjak berjalan dari pintu menuju kasur. Alis Vallen bertaut, merasakan harap-harap cemas yang melingkupi dirinya. Ia gelisah akan reaksi Rafa selanjutnya. Sekarang saja cowok tersebut sudah memandang Vallen dengan tatapan teramat tajam.


"Jam 10, Val." Rafa mengingatkan waktu yang barangkali tidak cewek itu ketahui. Padahal Vallen amat sadar akan malam yang hampir larut ini.


Perempuan itu menunduk, mengeratkan jeratan jemarinya yang tengah memegang tali tas. "Sorry, Fa."


"Abis darimana?" tanya Rafa.


Vallen diam.


"Vallen gue tanya lo abis darimana?" ulang Rafa yang kali ini penuh penekanan.


Gadis itu makin mendalamkan tundukan kepalanya, seolah membuat agar sebisa mungkin Rafa tidak melihat mukanya yang sedang menahan tangis. Pikiran Vallen berantakan, apalagi saat mengingat yang terjadi pada Devan tadi.

__ADS_1


Awalnya Vallen tidak menganggap aneh saat beberapa helai rambut Devan ada yang tinggal di telapak tangannya. Namun saat mengelus rambut cowok itu lebih lama, nyatanya semakin banyak saja yang rontok. Vallen tidak mengerti ada apa dengan Devan. Apakah Devan sakit?


"Devan, rambut lo ...," ujar Vallen panik.


Devan menatap wajah Vallen dari bawah.


"Gapapa, rambut gue emang suka rontok kok. Jangan mikir aneh-aneh." Devan tersenyum seraya mengangkat tangannya untuk menyeka air mata Vallen. "Lo dari SD sampe sekarang gak berubah ya Val, masih aja cengeng."


Tangis Vallen makin pecah, menyebut perihal SD, membuatnya jadi ingat bahwa ia dan Devan telah mengenal sangat lama. Lalu berbulan-bulan ini Vallen harus berusaha menjauhi Devan. Apakah ia sudah jahat beberapa waktu terakhir? Ah, tiba-tiba saja gadis itu rindu tentang semuanya, semua kejadian yang terjadi bersamanya dengan Devan. Tentang bagaimana Devan selalu melindunginya, dan bagaimana Devan selalu ada untuknya.


"Val!" bentak Rafa.


Vallen tersentak dan segera melihat Rafa. "Gue abis dari apartemennya Devan ...," lirihnya yang kemudian malah meneteskan air mata.

__ADS_1


Wajah Rafa langsung menghadap langit-langit kamar saat mendengarnya. Demi apapun, perasaannya terasa tercabik, hanya berdua dengan Devan di apartemen?


Rafa mencoba meredam emosinya dengan memejamkan mata. Lalu ia tempatkan lengan kiri bawahnya di atas mata. "Ngapain, Val?"


"K-kerkom seni budaya," bohongnya.


"Kenapa gak ngabarin gue?" tanya Rafa dengan nada yang pelan, seperti telah putus asa dan pasrah tentang apa yang sudah terjadi.


"Hp gue abis batere," jujur Vallen sebab setelah memotret si topi hitam tadi, hpnya memang langsung lowbat.


Rafa menurunkan tangan dan menoleh ke samping. "Jelas-jelas di awal lo reject gue. Dan ... gue masih punya otak buat mikir lo bisa aja nge-charge di apartemennya Devan kalo hp lo beneran abis batere. Pada dasarnya lo sengaja kan gak ngabarin gue?"


Vallen memejamkan mata, bukan tak mau mengecasnya, tapi Vallen terlanjur takut dengan Rafa karena sadar dari awal ia salah sudah me-reject panggilannya. Maka darinya, gadis itu lanjutkan saja untuk tidak menghubungi Rafa, bahkan hingga ia sampai di rumah sakit.

__ADS_1


"Maaf ...."


"Gue bisa tau kabar lo dari siapa lagi Val kalo gak dari lo sendiri?"


__ADS_2