Pear

Pear
116


__ADS_3

Ada orang yang sangat pandai menutup kesedihannya dari orang lain, tapi ada pula yang ceroboh padahal tadinya ingin bersembunyi dalam topeng--kebohongan; atas kesedihan dan perasaan sejenisnya. Dan Vallen termasuk di golongan yang kedua.


Hari ini adalah hari senin, sudah tiga hari sejak pertandingan persahabatan waktu itu. Bu Anggi sedang menulis soal matematika peminatan di papan tulis dari buku berbeda yang memang tidak murid terima dari perpustakaan.


Selagi beliau menulis, tatapan Devan malah terarah pada Vallen. Devan amat paham dengan raut khawatir yang jelas tercetak di wajah gadis itu, raut yang pernah Vallen berikan saat mengobati dirinya yang jatuh sewaktu demo ekskul. Namun untuk yang sekarang, ia yakin raut tersebut hadir karena alasan lain. Dan alasan yang Devan takutkan adalah itu karena sahabatnya sendiri--Rafa--yang terkapar lemah di ICU.


Segenap pertanyaan selalu muncul dalam benaknya jika mimpi buruknya benar-benar terjadi--pengkhianatan. Kenapa harus Rafa? Dan kenapa dengan Vallen?


Bayu yang melihat teman sebangkunya segera merasa iba, tatapan Devan menyiratkan banyak kesedihan yang jarang ia ungkap, dan yang paling Bayu tahu adalah Devan lebih sering bercerita pada Rafa.


"Dev?" panggilnya.


Devan pun menoleh.


"Lo ... kepikiran Vallen sama ... Rafa?" Pertanyaan itu Bayu lontarkan dengan pelan dan terdengar sangat hati-hati.


Seulas senyum ketir pun tercetak di wajah Devan. "Lo tau gue, Bay."

__ADS_1


Bayu mengangguk, ia paham bahwa Devan itu adalah orang yang sering memikirkan masalahnya, apalagi tentang Vallen, cowok itu tak mungkin tidak peduli dan menganggap pembahasan Chela dan Nasya waktu itu hanya angin lalu. Tak berkata lagi, Bayu pun kembali menulis soal yang ada di papan tulis. Namun entah karena ikatan apa, tapi hati Bayu ikut merasa tidak enak karena Devan sedang seperti ini. Pena itu pun akhirnya berhenti menari di atas kertas.


"Gue tau bakal sakit, tapi lo harus siapin diri sama kemungkinan terburuknya."


"Diputusin dia tanpa alesan aja udah sakit, sekarang apa lagi Bay?"


Bayu meneguk ludahnya dan diam sejenak sebelum membuka suara lagi.


"Gue harap mereka gak ada hubungan apa-apa."


***


"Val, asli lo gak laper?" tanya Nasya.


Vallen mengangguk, lantas membenamkan wajahnya di atas lipatan tangan. Ia kini tengah duduk di gazebo mini rooftop sekolahnya. Karena siang hari, jadi angin yang berhembus hangat. Setidaknya itu tidak membuat Vallen makin beku karena hatinya saja sudah dingin rasanya.


Nasya dan Chela berpandangan. Mereka sadar hari ini Vallen lemas sekali, tapi ketika ditanya tadi sedang sakit atau tidak, Vallen bilang tidak.

__ADS_1


"Val, lo ada masalah?" tanya Chela.


Alih-alih menjawab, Vallen malah memiringkan kepalanya hingga ia bisa menatap Chela. "Pulang sekolah berapa jam lagi?"


Chela pun melihat jam di tangannya. "Tiga lebih seperempat jam."


Vallen kembali diam dan kali ini terlihat lebih murung.


"Vallen ... lo kenapa sih? Kalo ada masalah tuh cerita, kita sahabat lo. Dan gue, kenapa gue gak tau sama sekali kalo lo sama Devan putus? Lo terlalu tertutup! Lo pikir gue ga bisa jaga rahasia apa?" Nasya kesal, sebenarnya ia masih terima-terima saja tidak Vallen curhati perkara tersebut, hanya saja apa salahnya jika gadis itu berbagi cerita dengannya, apalagi dirinyalah yang lebih dekat dengan Vallen karena mereka teman sebangku.


"Gak gitu, Nasy ...," ucap Vallen sembari duduk yang benar lagi.


"Iya gue tau Val kalo lo tuh salah satu manusia yang tau kalo gue doyan gibah, tapi kan gibahnya sama lo, bukan gibahin lo. Jadi rahasia lo bakal aman, Val ...." Nasya menautkan kedua alisnya.


Vallen merentangkan tangan, kemudian Nasya menggeser kursinya dan mereka pun berpelukan.


"Ada apa sih?" tanya Nasya pelan.

__ADS_1


__ADS_2